Friday, August 7, 2015

Sekadar Desis Saja

9:04 AM

[photo credit: here]

Oleh:Yusroful Kholili

Capek dan letih setelah bekerja di sawah memaksa penduduk terlelap dalam buaian tidur malam. Saat siang hari udara dingin di desa yang terletak di kawasan gunung Semeru mendekap seluruh penduduk di dataran tinggi ini. Apalagi saat malam hari, udara dingin datang berlipat-lipat dibanding saat siang, membuat tubuh lebih memilih untuk berlama-lama berlindung di balik selimut. Adalah suatu kewajaran jika saat malam hari desa ini sepi, kebanyakan aktivitas yang dilakukan adalah istirahat di dalam rumah. Malam benar-benar hanya menjadi waktu peristirahatan dari segala pekerjaan berat, dan rumah menjadi benteng dari tajamnya dingin yang menerobos dinding-dinding kehidupan.

****

Sunyi.  Rembulan menyibak malam dengan sinarnya, jejeran buah cabai besar yang sudah siap panen nampak gamang dalam kegelisahan.  Gundah dan pasrah nampak disembunyikan, namun warna kulitnya menunjukkan rasa itu “merah kehitaman”. Yang akan terjadi hanya dapat digantungkan pada detik-detik yang akan datang berkelanjutan. Entah tangan petani sendiri yang akan memetiknya saat siang tiba. Seorang yang dengan tangan itu juga telah menanam dan merawatnya atau mungkin tangan-tangan panjang akan menjamahnya secara diam-diam saat malam. Dan kemudian membawanya lebih dulu dari saat senja hilang sampai sebelum subuh menjelang. Angin bersekongkol dengan malam, menantang siapa saja yang nekat membuka mata di alam terbuka. Hembusan udara dingin yang dihasilkan dari persekongkolan itu menjadi senjata ampuh untuk mendiamkan para penantangnya. Sedangkan sepi turut membuka ruang gerak-gerik yang tidak diharapkan. Inilah di antara bentuk  persekongkolan dari dua benda abstrak yang saling bahu membahu membangun sebuah “keadaan”.

Tak ada yang akan menantang “keadaan”, kecuali ada campur tangan “ keadaan lain” yang mendorong, atau bahkan  memaksa seseorang untuk tak mengalah dengan “keadaan”, dan kemudian mengubahnya menjadi sebuah “kenyataan” yang lebih diharapkan.

***

Malam itu, dingin sebagai salah satu petugas “keadaan” tak ingin terganggu tugasnya oleh selainnya. Sebagaimana seorang petani yang bersikukuh untuk tetap membuka mata di alam terbuka. Alam yang gelap tanpa satu penerangan, rembulan pun nampaknya memilih untuk menyembunyikan sinarnya di balik kabut, bintang-bintang yang diharapkan memberikan sinarnya barang sepercik, juga membututi rembulan. Mengintip dari balik awan, satupun tak tampak. Tidak ada lagi yang diharapkan untuk menerangi. Lampu-lampu penerangan belum lagi terpasang. Di persawahan, penerangan adalah suatu angan-angan, tak lebih konkret dari sekedar bayang-bayang.

****

Dari atas pohon kulihat seseorang duduk di samping gubuknya. Dari cara duduknya yang menyandar pasrah pada pohon jati di belakangnya kelihatan sekali bahwa Kesegaran tubuhnya telah terkuras untuk bekerja, sebagaimana kulitnya yang mulai keriput kering. Sedang bercak hitam tersebar di permukaan kulit kehitaman karena seringnya sinar matahari yang membakar peluh saat berladang. Matanya yang sayu terlihat dipaksakan melawan  kantuk, yang sejak mega merah mulai hilang, kantuk telah bersarang di pelupuk matanya. Capek mungkin telah melandanya dari ujung rambut sampai kakinya.

Tak hanya melawan kantuk, dinginnya malam yang menusuk tulang belulang, dia lawan dengan menyembunyikan kulitnya di balik kain sarung yang dipaksakan untuk menutupi sekujur badan kecuali telapak tangan dan mukanya. Betapa keras kehidupan. Tak hanya kecapekan dan kantuk dari dalam dirinya, dingin dan sunyi ladang dia lawan demi menjaga kelangsungan ekonomi keluarga lebih dipertimbangkn untuk bergelut dengan “keadaan”. Tugas yang lebih berat dibanding dengan tugas untuk meninabobokkan penghuni malam yang diemban oleh “dingin dan malam”. Bagian dari bangunan “keadaan”.

Sesekali kulihat Jari jemarinya merogoh isi plastik hitam, yang kemudian diambilnya tembakau dan cengkeh secukupnya dari dalamnya. Kemudian ramuan tembakau itu ia letakkan di atas selembar kertas rokok, untuk kemudian melintingnya menjadi sebuah batang rokok. Sebuah rokok yang oleh penduduk setempat dikenal dengan sebutan rokok Tengwe (ngelenteng dewe, pilinan sendiri). Lantas tangannya kembali merogoh isi plastik tersebut, dan dikeluarkan sebuah korek api, sembari menyulut rokok itu dengan korek tersebut. Sesaat pancaran sinar dari korek tersebut satu-satunya cahaya yang berani menyingkap kegelapan di sekitarnya. Kepulan asap dari hisapannya yang dalam, kini menjadi teman satu-satunya untuk mengusir kantuk yang mendera.

****

Jauh dari jangkauan si petani, di tempat berbeda yang hanya dibatasi oleh persawahannya, kulihat ada sesuatu bergerak mengendap-endap dalam persembunyian. Tampak seorang berpakaian serba hitam menutupi tubuhnya. Tinggal bola matanya saja terlihat putih di tengah-tengan petang. Dari caranya bergerak menunjukkan manusia hitam itu siap siaga, untuk menyergap buah-buah siap panen yang menjadi intaiannya. Menunggu waktu yang tepat, saat yang jaga dalam kelalaian.

Sepi malam menjadi rekannya untuk meloloskan aksinya. Kewaspadaan tinggi yang dia lakukan mampu mengusir udara dingin dengan sendirinya. Dengan alasan menyambung hidup dan instan, tanpa harus bersusah payah bekerja, keuntungan akan diraup dalam waktu semalam. Dingin pun tak digubris seraya merapatkan rangkulan pada iblis. Pertimbangan akan celaka kalau sampai tertangkap basah oleh yang punya, menciut oleh nafsu untuk dapat memanen buah cabai, walaupun tak ikut menanam dan merawatnya.  “Untuk apa menenanam dan merawat, kalau bibit dan obat-obatan mahal harganya. Lebih baik nekat memanen yang sudah tumbuh saja, hanya modal keberanian, biaya pun bisa ditinggalkan,” bisiknya pada serumpun ilalang yang memberikan tempat untuk menyembunyikan tubuhnya.

“Betapa aneka macam isi tanah ini. ‘Keadaan‘ yang sama, punya fungsi beda di antara keduanya. Di pihak yang satu gelap, dan sunyi menjadi tantangan yang siap mengakhiri pendapatan untuk bertahan hidup, sedang di pihak berbeda sepi dan gelap seakan menjadi rekan kerja ‘instan’nya. Yang sama saja sudah beraneka, apalagi yang jelas-jelas beda. Tapi, kenapa kok masih diributkan? Yah mungkin inilah keniscayaan,” komat-kamit pikiranku bebicara sendiri.

Drama hidup yang berbeda itu, menjadi tontonan saat kakiku nyaman bertengger pada salah satu dahan pohon jati.  Pohon tinggi tegap yang menggagahi gubuk reot yang berada di samping akar pohon ini tertanam. Ya, hanya sebuah gubuk yang salah satu sisinya telah miring, meronta tak kuat saat angin datang menerjang. Suatu kali kudengar perdebatan antara pohon jati dan gubuk itu:

“Aku bangga jadi diriku ini. Walaupun sudah renta begini aku masih bisa menjadi tempat berteduh si petani di bawah atapku, sedang rumput yang tumbuh di tanah menjadi tempat yang nyaman bagi petani untuk sekadar menyeka kucuran keringatnya selepas bekerja di bawah terik matahari. Bahkan di tanahku juga si petani merebahkan badannya untuk melemaskan kembali otot-otot dan tulangnya, setelah dikerahkan untuk merawat tanaman di sawah. Saat malam pun, aku teman satu-satunya saat berjaga malam,” serang gubuk, sementara pohon jati terus beridiri dengan angkuhnya.

***

Di tengah tontonan itu, terdengar suara yang diarahkan kepadaku:

“Burung hantu, ngapain kau di situ?” Sapa kelelawar yang tengah bergelatungan pada ranting di atas dahan yang kugunakan untuk bersantai mengikuti alur kehidupan malam itu.

“Ssst… Jangan rame! Tak tahu apa? Aku lagi menonton drama hidup manusia di bawah pohon ini.”

“Emang ada tontonan apa di bawah dan membuat kau berminat bertengger di markasku ini?” Jawabnya ringan.

“Itu loh, alur hidup si petani. Setelah susah payah bekerja, terik dan hujan dia acuhkan demi untuk merawat tanaman cabainya agar bisa tumbuh, terbebas dari hama yang setiap waktu mencoba memangsa hidup si cabai, agar tidak gagal panen. Saat buah sukses melewati hari-hari pertumbuhannya dan petani siap panen, malamnya tak peduli dingin, capek, kantuk menyerang, dia paksa melawan, untuk menjaga tanamannya dari pemangsa yang berasal dari sebangsanya. Coba lihat sendiri di bawah itu.” Jelasku pada kelelawar itu.

“Wah tontonan semacam ini sudah biasa. Kini untuk melihatnya pun ruangku telah sesak dengan adegan itu. Untung saja aku tak mengikuti episode kelanjutannya, karena alurnya lebih parah lagi. Dilanjutkan saat siang, dan siang waktuku untuk tidur pulas dari kenyataan hidup si petani itu,” jawabnya mantap kepadaku.  Tak terima promosiku tak digubris olehnya, kuajukan pertanyanku.

“Emang ada apa saat siang tiba? Sok tahu lho.”

“Suatu kali burung pipit bercerita padaku. Katanya nanti saat buah cabai yang  selamat dari tangan-tangan pemangsa telah dipanen oleh pak tani, hasilnya akan dijual ke pedagang setempat. Anehnya, saat penjualan si petani tidak dapat menentukan harga cabainya sendiri. Pedagang yang akan membeli cabai petani itu yang memberikan  harga cabai.”

“Itu kan sudah menjadi hukum ekonomi. Kebutuhan pasarlah yang menentukan,” sanggahku.

“Padahal mulai dari awal pembelian bibit, obat-obatan, perlengkapan pertanian, semua harga datangnya dari si pemilik toko, si penjual,” balas kelewar tanpa menggubris sanggahanku, seraya melanjutkan, “petani hanya dapat merogoh koceknya dalam-dalam, dengan harga tinggi yang ditawarkan. Bahkan tak jarang si petani memohon-mohon orang lain untuk merogoh uangnya yang kemudian dapat ia pinjamkan. Hanya pedagang cabailah yang dapat memberikan pinjaman itu, yang kemudian dengan pinjaman itu pedagang melilit petani dengan perjanjian hasil panen cabai dijual kepadanya.  Kalau sudah mulai dari modal awal, bibit, dan obat-obatannya menggunakan hasil pinjaman petani kepada pedagan gtersebut, maka jual cabainya harus ke pedagang itu juga, tentunya dengan harga yang tidak sama dengan petani lainnya, dipotong-potong tak jelas,” jelasnya mengguruiku. Aku hanya diam dan menjadi murid yang baik mendengarkan pengetahuan baru itu darinya.

“Dan aneh, baru kali ini kulihat penjual yang tak bisa menentukan harga barang jualannya sendiri, padahal dia pemilik barang itu. Aku rasa ini menyakitkan,” tambahnya di sela-sela pandangan mataku yang mengarah ke petani yang nampak mulai sudah terkalahkan oleh kantuknya.

Cerita itu terus menerus mengaduk-ngaduk pikiranku. Geram aku melihatnya. Dahiku mengernyit memikirkan hal itu. Selebihnya tak ada yang bisa kulakukan. Untuk jadi pahalwan kesiangan pun tak mungkin, karena siang lebih membuatku tertidur dan terbuai dari segala ini.  Puas mendengar keterangan itu, kukepak-kepakkan sayapku, dan kemudian membawa tubuhku mengeliligi persawahan itu. Terlihat gerak orang berpakaian hitam yang mengawasi, sedang si petani nampak menyeka mukanya. Jelas bukan keringat yang ia seka. Keringat yang akan keluar akan membeku sebelum sampai pada pori-pori, gara-gara dingin yang menusuk tulang belulang seperti malam ini. Mungkin kesulitan hidup ini yang ia seka dari mukanya. Atau mungkin kantuk yang ingin ia buang agar tak menambah kesulitan hidupnya.

“Hhhh… Bedebah! Alur kehidupan tercekik oleh ‘keadaan’ yang diciptakan!” Gerutuku menyibak kesunyian. Dan aku terus berjalan, menjauhi si maling yang nampaknya terkejut dengan suaraku.  Raut wajahya nampak kebingungan, ciut sudah nyalinya. Keringat dinginnya keluar namun masih tak membasahi kering hati nuraninya. Sedang si petani nampak baru tersadar dari mimpi-mimpinya. Dan kemudian bergegas untuk menyadarkan dirinya bahwa ini semua hanya alur cerita yang diperankannya. Ulah sutradaralah yang membuatnya pada posisi ini. “Dalam cerita pun aku tak mau memainkan posisi ini,” desisku pada angin. Dan aku pun terus terbang, yang kemudian hilang dalam kegelapan.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top