Friday, October 9, 2015

Manusia Tungku

10:41 AM

[sumber foto: di sini]
Oleh: Irham Thoriq

Aku selalu merasa nyaman ketika duduk di samping tungku yang mengeluarkan api dengan nyala samar-samar. Di situ, aku merasakan ketenangan melebihi ketika berada di kakus. Di samping tungku, aku bisa membayangkan apa saja yang bisa membuatku senang tanpa harus memikirkan bentakan dari ibuku.

Selama ini hanya tungku yang bisa mendengarkan ceritaku. Kepada apinya, aku sering menceritakan apa yang aku alami setiap hari. Kadang aku mengalami nasib sial pagi hari, aku langsung ceritakan sore harinya, ketika kita bertemu di sudut dapur berdinding bambu yang warnanya sudah menghitam karena kepulan asap.

Pernah aku menceritakan kepadanya ketika suatu pagi aku baru tiba di ladang milik tuan tanah di kampung, di tempat yang penuh semak belukar itu, tiba-tiba melompat seekor ular. Tanpa izin dan berbicara apa-apa, ular menggigit betisku. ”Kamu tahu api, bagaimana rasanya,” kataku.

Api hanya diam seolah sedang khusyuk mendengarkan ceritaku. Dia tidak bertanya apa-apa tentang kejadian itu, dia tidak bertanya ular apa yang menggigitku, bagaimana keadaan kakiku dan lain-lain. Dia hanya diam dan aku terus-terusan menjejalinya dengan kata-kata. Aku tidak tahu api senang dengan ceritaku atau dia bosan dengan ocehanku sepanjang sore itu.

Berkali-kali aku digigit ular, kalajengking, dan kadang-kadang anjing yang memang bertebaran di kebun kentang, tempatku bekerja sebagai buruh tani. Setiap kali digigit sengatan hewan buas, aku tidak pernah absen bercerita. Kadang aku niatkan cerita itu kepada api, kadang pula kepada tungku. Aku tidak tahu apa bedanya bercerita kepada dua benda mati itu.

Bagiku yang tidak punya kekasih, menyendiri di samping tungku setelah berkebun merupakan sebuah kemewahan. Tapi, teman-teman saya yang kurang ajar sering kali menyebut kalau aku sedang kesepian. ”Dasar saja kamu tidak punya istri,” kata Sarji, seorang temanku yang juga buruh tani.

Mendengarkan ucapan temanku yang berkulit dekil, berbau sangit, dan giginya yang kekuning-kuningan itu, aku ingin marah. Ingin aku tabok mulutnya yang sedikit merongos itu. Setelahnya aku ingin menendangnya ke sungai. Menurutku hanya sungai tempat yang layak bagi orang yang tidak bisa menjaga mulutnya. Di sungai, dia bisa berbicara apa saja sesuka hatinya. Dia bisa menghina ikan, mengumpat air, dan bercakap-cakap dengan bebatuan yang tidak punya rasa marah meski mendapat caci maki.

”Sebaiknya kamu tidak perlu ke kebun lagi, kamu di sungai saja,” kataku pada suatu pagi.

”Di sungai banyak kotoran, termasuk kotoranmu,” jawab dia.

”Itu tempat yang layak bagimu.”

”Kamu saja, rumah saya sudah ada kakusnya.”

”Kamu tidak perlu punya kakus.”

”Kenapa...?”

”Kamu miskin, kotoran dan badanmu hanya pantas mengapung di sungai dengan kotoran-kotoran orang kampung.”

”Jaga bicaramu, bangsat.”

Pertengkaran kita di kebun tiba-tiba terhenti. Abah Sholeh, tuan tanah yang mempekerjakan kami pun datang. Pagi itu dia baru turun dari masjid, kayaknya dia baru salat Duha. Meski gayanya sudah necis seperti kiai, di tangannya terlihat menenteng dua buah karung. ”Saya ingin mencari kayu bakar,” kata Abah Sholeh.

Abah Sholeh (kami berdua kadang juga memanggilnya Abah Saleh), merupakan tuan tanah paling kaya di kampung kami. Saking kayanya, di dapur milik dia yang luasnya sekitar satu kali lapangan futsal, terdapat tujuh buah tungku. Kau tahu, di kampung kami, semakin banyak tungku yang dimiliki, menandakan semakin kaya orang tersebut. Itu adat kami yang hingga saat ini dipercayai oleh penduduk kampung.

Aku tidak pernah tahu persis kenapa ada kepercayaan seperti itu di kampung dan kenapa kampung kami banyak sekali memiliki tungku. Hanya saja, kakekku pada sebelas hari sebelum kematiannya pernah bercerita.

Kata kakekku yang hampir separo hidupnya dihabiskan sebagai buruh tani, sekitar 65 tahun yang lalu, kampung kami dilanda kekeringan. Ketika itu semua tanaman kentang milik warga mati. Penduduk juga kesulitan air untuk mandi, minum, dan buang kotoran. Untuk mandi, warga harus ke sungai kampung milik tetangga. Sedangkan sungai milik desa kami sudah habis tidak lama setelah kekeringan melanda. Penduduk desa pun mulai terkena gatal-gatal di sekujur tubuh.  Gatal-gatal itu kadang muncul di punggung, pipi, dan paling banyak di bokong para perempuan.

Penduduk desa mulai gaduh. Sudah tidak ada lagi warga yang ke lading dan ke sungai. Mereka juga malas karena harus bertengkar terlebih dahulu dengan penduduk desa tetangga untuk mendapatkan air. ”Untuk minum, kita saling mencuri air,” kata kakek saya itu.
Setelah delapan bulan desa tak ada air, pada suatu sore munculah seorang penyelamat. Warga desa memercayai kalau orang itu adalah juru selamat yang diturunkan Tuhan. Meski tidak ada yang mengetahui pasti dari mana orang itu, ada penduduk yang yakin kalau orang ini muncul dari semak belukar di sudut kampung. ”Ada juga yang yakin dia muncul dari dalam kentang yang sudah layu,” kata kakek saya yang memang terkenal pandai berdongeng. ”Yang jelas dia juga membawa tongkat, seperti cerita Nabi yang bisa membelah lautan hanya dengan tongkat.”

Untuk mendapatkan air, juru selamat ini memerintahkan penduduk kampung untuk membuat tungku. Menurut dia, tungku tidak hanya bisa menghasilkan api, tapi juga bisa memperlancar sumber air. Satu bulan setelah menuruti permintaan juru selamat itu, air muncul dari sumber-sumber di kampung. ”Dan juru selamat pun mati di kebun kentang satu minggu setelah itu,” kata kakekku.

Hanya cerita itu yang aku dengar tentang asal muasal banyaknya tungku di kampung. Ketika kakekku hendak melanjutkan ceritanya, aku dipanggil Sarji untuk segera berangkat berkebun. Lalu saya pamit ke kakek dan meminta dia melanjutkan ceritanya lain waktu. Tapi, belum sempat kakek saya menceritakan tuntas tentang kejadian itu, kakek saya meninggal karena serangan angin duduk.

Kepada Sarji, berkali-kali saya ceritakan sepenggal cerita kakek itu. Tapi Sarji tetaplah Sarji. Dia orang yang begitu menjengkelkan, dia tidak pernah benar-benar serius mendengarkan ceritaku. Dia hanya mengangguk-angguk tanpa bertanya kelanjutan ceritanya. Bahkan, kadang Sarji malah menuduh kakek saya sudah berbohong dan mengarang cerita. ”Mungkin kakekmu habis nonton film,” kata dia.

”Kakek saya orang jujur,” saya menimpali.

”Kakek saya kiai, tapi tidak pernah bercerita seperti itu.”

”Terserah kamu percaya atau tidak.”

”Memang terserah saya, masak terserah kakekmu.”

”Kurang ajar.”

Setelah kami cekcok, karena sore sudah menghilang tertutup awan dan hujan rintik-rintik mulai berjatuhan, kami pun pulang meski ada dua larik tanah yang belum kami cangkul. Seperti biasa, setelah mandi di sungai, aku menyeduh kopi dan menghangatkan badan di samping tungku. Kali ini aku menceritakan pertengkaranku dengan Sarji. Kepada api, aku ingin menyemplungkan Sarji ke sungai. Tapi aku selalu tidak bisa karena kami tidak pernah mandi berdua. Sarji sudah punya kamar mandi sendiri.

Keesokan harinya, ketika penduduk kampung sudah mulai memadati jalanan untuk berangkat berkebun, Sarji mengetuk pintu rumah. Setelah tiga kali ketukannya tidak mendapat tanggapan, Sarji menendang pintu rumah dengan sedikit keras. Ibuku kaget, terbangun, lalu membukakan pintu.

”Anakmu mana, Mbak Saripah,” kata Sarji yang ketika itu diantar istrinya. Kedua tangannya terlihat membawa kardus, dan dicangklongnya sebuah tas.

”Kamu mau ke mana?”

”Saya hanya ada perlunya dengan anakmu,” Sarji menjawab.

Ibu lalu membangunkanku. Seperti biasa, ibu selalu menetesi air di pipiku agar aku terbangun. Kau tahu, kebiasaan ibuku membangunkanku dengan tetesan air ini sudah berlangsung sejak aku berumur lima tahun lebih empat bulan. ”Kalau tidak seperti ini tidak bangun temanmu itu, Sarji,” suaranya lirih terdengar sebelum mataku benar-benar berbinar.

Setelah sadar, aku langsung menyalami Sarji. Semenjak aku mengenalnya empat belas tahun lalu, baru kali ini saya menyalaminya. Sebelumnya, Sarji tidak pernah mampir ke rumah. Dia hanya meneriakiku dari luar rumah ketika dia menjemputku untuk berangkat ke kebun.

”Saya mau ikut istriku ke Solo,” kata Sarji.

”Kok mendadak.”

”Sudah lama rencananya, tapi tidak aku ceritakan.”

”Seberapa lama di Solo.”

”Mungkin tiga tahun atau kalau lancar selamanya tinggal di Solo, di rumah mertua.”

Pagi itu pembicaraanku dan Sarji ada sedikit keharuan. Aku banyak bertanya kenapa dia memilih ke Solo dan mau kerja apa dia di sana. Sarji pun hanya menjawab singkat. Dari matanya, saya melihat genangan air yang hendak terjatuh. Baru kali ini aku tidak ingin menceburkannya ke sungai.

”Saya mau jualan bakso.”

”Bakso Solo..?”

”Bukan, di Solo tidak ada Bakso Solo.”

”Lalu apa?”

”Namanya belum saya buat, intinya bakso.”

Ketika itu, kita berpelukan. Air mataku ingin keluar, tapi air mata Sarji lebih dulu membasahi pipinya yang dipenuhi banyak jerawat. Di hadapan ibu, aku tahan tangisanku dan berhasil. ”Bayaranku di Abah Sholeh masih sisa empat puluh delapan ribu,” kata Sarji setengah berbisik. ”Lalu..?”

”Kamu ambil.”

”Tidak perlu.”

”Itu pemberian pertama dan terakhirku padamu, tak perlu menolak,” katanya.

”Baiklah.”

Hari itu rupanya hari terakhir pertemuanku dengan Sarji. Tiga tahun setelah hari menyedihkan itu, dari istrinya saya mendapatkan kabar kalau Sarji meninggal dunia karena kecelakaan. Saat hendak menyeberangkan rombong bakso, Sarji ditabrak pikap. Karena tidak punya uang untuk mengantarkan jenazahnya ke desa, tempat dia dilahirkan di lereng Gunung Bromo, Sarji akhirnya dimakamkan di Solo. ”Biaya ambulans mahal,” kata istrinya melalui sambungan telepon. ”Biar keluarganya saja yang ke Solo,” ucapnya. ”Baiklah, maaf saya juga tidak punya uang ke Solo, salamku kepada Sarji ya,” kali ini aku sesenggukan, tidak bisa menahan air mata.

Tujuh bulan setelah Sarji meninggal. Aku merantau ke Jakarta karena diajak seorang teman untuk menjadi buruh bangunan. Dari Jakarta, selalu aku kirim uang kepada ibu di kampung. Kadang enam bulan sekali, kadang delapan bulan sekali. Penghasilanku di Jakarta sangatlah besar. Satu bulan di sini, sama dengan bekerja sebagai buruh tani selama empat bulan.

Penghasilan yang besar itu ternyata tidak terlalu lama. Aku hanya tujuh tahun bekerja di Jakarta. Aku lalu menjadi pengangguran karena kontraktor yang mempekerjakanku gulung tikar setelah terjadi krisis. ”Kenapa sudah pulang,” kata ibuku. ”Sudah tidak ada kerjaan,” jawab saya singkat lalu masuk ke dalam kamar.

Di rumah, sudah tidak ada lagi tungku yang menyala samar-samar. Hampir semua rumah di kampung beralih ke kompor gas tiga kilogram. ”Kayu sudah jarang,” kata ibu. ”Dan ada program tabung gas gratis oleh pemerintah, makanya tungku dibongkar.”

Ketika aku tanya tentang cerita kakek soal tungku, ibuku hanya cekikikan. Ibuku dan juga orang-orang kampung rupanya sudah yakin kalau apa yang diceritakan kakekku hanya bualan belaka. Menurut ibuku, pada sebelas hari sebelum kematian kakekku, dia sebenarnya hanya mendongeng. ”Kesalahan kamu adalah kenapa kamu memercayainya,” kata ibuku. ”Sudah satu tahun lebih kita pakai kompor, air sumber tetap lancar.”

Semenjak itulah, aku yang sudah tidak lagi punya kawan di kampung. Dan aku merasakan kerinduan yang mendalam. Aku rindu pada api, pada kayu, dan pada tungku yang menyala samar-samar. Aku juga rindu pada Sarji, pada pertengkaran kami, dan pada kebun kentang yang sekarang sudah banyak menjadi rumah-rumah.

Sialnya, kerinduan itu tak bisa aku ceritakan karena tungku yang sudah raib dari kampong ini. Kadang, saya mencoba bercerita kepada sungai. Meski tidak seindah bercerita kepada tungku, tapi sungai sedikit demi sedikit mulai terbiasa mendengarkan ceritaku. Tapi, orang yang berseliweran di pinggir sungai selalu menertawaiku. Pada suatu hari, salah seorang penduduk kampung berbisik. ”Kamu sudah gila ya?”

Cerpen ini terbit pertama kali 
di Radar Malang Edisi Minggu (4/10)

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top