Thursday, January 10, 2013

Pesantren dan Pop Culture

9:00 AM


Oleh: Muhammad Mahrus*

Abstraksi
Diskursus tentang pesantren memang selalu menarik untuk dibahas. Terutama ketika pesantren dikaitkan dengan tema-tema tertentu yang seakan tidak ada sangkut pautnya dengan pesantren itu sendiri. Akan tetapi, begitulah pesantren. Sederhana dalam kompleksitas pergulatannya dengan sejarah perjalanan dunia. Karena pesantren sebagai subkultur. Meskipun istilah ini masih dalam upaya pengenalan identitas kultural oleh kalangan dari luar terhadap persantren.[1]

Untuk membaca pesantren, setidaknya terdapat tiga tipologi. Pertama, pesantren salaf/tradisional. Model pesantren ini merupakan model pesantren asli dalam arti metode dan cara pengajarannya masih seperti model pesantren awal. Berdiri atas dasar kepercayaan masyarakat terhadap kapasitas intelektual Kyai lalu dibangunlah pondokan-pondokan permanen sebagai tempat tinggal para santri. Cara mengajarnya juga khas dengan metode bandongan, wekton, dan sorogan. Dan sampai hari ini masih banyak pesantren yang menggunakan tipologi tersebut.

Kedua, pesantren khalaf/modern.[2] Pesantren model ini dimaksudkan sebagai jawaban ketika pesantren dituduh sebagai lembaga pendidikan yang kolot dan kaku. Pesantren ini mulai melakukan inovasi dalam metode belajarnya seperti memberlakukan sistem klasikal dalam kurikulum pendidikannya. Pesantren kedua ini biasanya berdiri atas inisiatif bersama di bawah yayasan-yayasan tertentu. Kemudian setelah berdiri bangunan-bangunan sebagai sarana pembelajaran dan tempat tinggal santri, dipilihlah seorang Kyai yang dianggap mampu untuk mengasuh pesantren tersebut. 

Ketiga, pesantren takmili. Tipologi terakhir pesantren ini dicontohkan terhadap pesantren-pesantren yang memiliki Madrasah Diniyah dan Ma’had ‘Ali. Pesantren takmili merupakan model pesantren penyempurna terhadap model pesantren kita hari ini.

Terhadap tipologi pesantren di atas, tampaknya dapat kita lihat bahwa pesantren tidak sepenuhnya menutup diri atas perubahan. Pesantren selalu mengikuti perkembangan sebagaimana kebutuhannya dalam menjawab tantangan zaman. Akan tetapi, setiap perubahan yang dilakukannya tidak serta merta meninggalkan ciri khas yang melekat dalam dirinya. Kitab kuning, misalnya.

Fenomena Pop Culture
Pop culture merupakan dampak dari globalisasi yang telah mewabah di kalangan generasi muda secara umum. Tidak terkecuali kalangan pesantren. Banyak dari mereka yang mulai terbawa oleh gaya hidup modern sebagaimana remaja-remaja perkotaan yang memang dekat dengan kultur pop tersebut. Di sisi lain, pesantren dimasukkan dalam kategori lembaga pendidikan civil society yang dapat menjaga eksistensinya tanpa intervensi negara, serta mampu melakukan perubahan melalui proses detradisionalisasi sebagai dampak dari modernisme selain globalisasi dan social reflexifity. Menurut Nurcholish Madjid, diyakini bahwa pesantren memiliki akar tradisi tersendiri yang kemudian menjadi sistem nilai yang telah dikembangkan sejak awal mula berdirinya: ahlussunnah wal jama’ah.

Seiring perkembangan zaman, pesantren-pesantren yang juga ikut berubah dalam arti menyesuaikan dengan kondisi zaman, memberikan pengaruh terhadap gaya hidup para santrinya. Misalnya, ketika memasak masih menjadi bagian dari aktifitas belajar para santri lama, tampaknya hari ini tradisi tersebut sudah mulai terpinggirkan. Digantikan dengan cara-cara yang lebih praktis dan instan. Fakta tersebut dapat dipahami sebagai akibat dari semakin padatnya jadwal belajar yang diberlakukan di pesantren-pesantren kita hari ini sehingga para santri harus berfikir ulang ketika ingin memilih cara lama seperti generasi pendahulunya. Pun, bisa juga ia akan dihadapkan pada rasa gengsi di antara teman-temannya yang sudah tidak melakukan aktifitas tersebut. Belum lagi ditambah sarana dari pesantren sendiri yang kebanyakan hari ini telah memiliki kantin-kantin pribadi dengan dalih sebagai sarana penunjang ekonomi pesantren. Sehingga, semua perubahan yang terjadi di dalamnya terkesan alami.

Merambah wilayah yang lain, rupanya penyakit instan ini mulai menjangkiti aspek-aspek yang lain. Alih-alih sebagai kebutuhan informasi dan komunikasi, pesantren-pesantren kita sudah mulai memasukkan teknologi modern. Sarana-sarana tersebut didatangkan sebagai penunjang perubahan yang dilakukan pesantren. Di mana pesantren yang mulanya mencukupkan koran sebagai media informasi, hari ini sudah didukung dengan sarana akses internet genap dengan laboratorium dan piranti media sosial dan lain sebagainya. Sampai di sini, segala keterbatasan yang dulunya memberikan jarak antara pesantren dengan modernitas hari ini sudah terjawab. Santri sudah dengan gampang mendapatkan informasi apapun yang dia suka dan inginkan. Sementara animo kalangan remaja, kaprahnya menginginkan hal-hal yang baru dan sedang menjadi tren pada saat itu. Sepertinya, ini yang disebut Giddens dengan “detradisionalisasi”.[3]

Santri Sadar Media
Meminjam istilah Nurkhalik Ridwan (penulis buku Gus Dur dan Negara Pancasila dan sejumlah buku tentang pemikiran Gus Dur), ketika seorang santri disuruh lari, maka dengan segenap kemampuannya dia akan melaju. Bagi mereka yang tidak begitu memiliki kemampuan dalam hal lari, maka ia akan terlihat lamban dan terseok-seok. Tapi ketika dia memiliki kemampuan tersebut, maka ia akan melesat melebihi yang lain. Sayangnya, beberapa di antara mereka yang memiliki kemampuan tersebut, karena saking kencangnya, membuat dirinya lupa pada jalan pulang dan tidak dapat pulang kembali.[4]

Potensi-potensi demikian semestinya mendapatkan jalan yang tepat mengingat sebuah perubahan merupakan keniscayaan. Tentu dengan tetap memegang teguh konsep al-Muhaafadlatu ‘ala al-Qadiimi al-Shaalih wa al-Akhdzu bi al-Jadidiidi al-Ashlah. Faktanya, hari ini sudah semakin banyak pesantren-pesantren dengan tipologi ketiga (Takmiili). Di samping pertumbuhan pesantren-pesantren modern yang semakin merata. Gontor dengan semangat “ilmu amaliyah dan amal ilmiyah”-nya bercita-cita mendirikan pesantren modern 1000 titik di seluruh Indonesia. Di Bogor, terdapat sebuah pesantren yang memberikan fasilitas khusus kepada seluruh santrinya berupa 1 unit laptop untuk masing-masing orang sebagai sarana pembelajarannya. Di Rembang, sudah mulai dijalankan program pengajian live streaming oleh KH. A. Mustofa Bisri. Di Tegalrejo Magelang, KH. Yusuf Chudlori memanfaatkan stasiun radio sebagai media dakwahnya kepada masyarakat luas. Belakangan strategi tersebut diikuti oleh rekan-rekan alumni pesantren di Wonosobo lewat sebuah program religi di radi Citra FM Wonosobo.

Rupanya kesadaran akan fasilitas media sosial seperti itu semakin mendapatkan ruang dari kalangan pesantren. KH. Sholahuddin Wahid, dengan segenap kesibukannya mendedikasikan diri pada pesantren dan masyarakat, saya pastikan setiap pagi selalu menyapa masyarakat lewat twitter. Begitu juga KH. A. Mustofa Bisri, pada kesempatan-kesempatan tertentu, beliau meluangkan waktu dan ilmunya untuk memberikan kuliah-kuliah agama lewat twit-twit pendek berantai. Tidak jarang beliau berdua harus menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar fikih yang dalam kurikulum sebagian pesantren, pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya akan ada di kelas-kelas shifr (persiapan) sebelum santri masuk kelas diniyah di pesantren.

Sekali lagi, strategi ini dapat menarik simpati dari banyak kalangan. Generasi yang lebih muda dari beliau berdua, kita dapat melihat pada sosok Alissa Wahid (puteri sulung Gus Dur). Dalam rangka membumikan pemikiran-pemikiran Gus Dur, lewat jejaring Komunitas Matapena dan GUSDURian, ia dengan senang hati memberikan pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan media sosial seperti facebook dan twitter. Berikut beberapa nama yang kini mulai disebut-sebut sebagai santri-santri sufi perkotaan. Dan seterusnya.

Pesantren dan Tantangan Zaman
Barangkali, pesantren memang tidak harus selamanya menutup akses terhadap perubahan zaman berikut perangkat-perangkat yang mengantarkan perubahan tersebut. Akan tetapi juga tidak dengan mudah menggunakan fasilitas-fasilitas perubahan itu sebagai sarana untuk mengubah dirinya menjadi modern. Pesantren selamanya tetap akan memegang teguh nilai tradisinya dalam mengawal perubahan. Sehingga pesantren tidak akan pernah terjerumus dalam kubangan arus globalisasi kecuali dalam kontrolnya sendiri.

Kilas fenomena pesantren di atas, terdapat tiga hal mendasar. Pertama, bagaimana mempertahankan nilai-nilai pesantren dalam menghadapi tantangan global (baca: pop culture)? Kedua, bagaimana pesantren mengadopsi nilai-nilai modern dalam rangka menjawab tantangan perubahan zaman? Ketiga, bagaimana seorang santri mampu menggunakan fasilitas-fasilitas media sosial sebagai wahana untuk menyampaikan gagasan?

Sekiranya, dengan menjawab tiga hal mendasar tersebut, pesantren dapat melanjutkan elan transformatifnya di tengah perubahan global.[]

Muhammad Mahrus adalah penulis Novel Mafia Three in One. 
Menempuh s1 di Akidah dan Filsafat, Fakulstas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 
Tulisan ini pernah dimuat di blog pribadinya.


Daftar Bacaan
Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi, Yogyakarta, LKiS, cet. III, 2010.
Ahmad Suaedy (Editor), Pergulatan Pesantren dan Demokrasi, Yogyakarta, LKiS, 2000.
Anthony Giddens, The Third Way, Jalan Ketiga Pembaruan Demokrasi Sosial, Jakarta, Gramedia.
Nurcholish Madjijd, Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan, Bandung, Mizan, cet. Ke-1, 2008.



[1] Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi, Yogyakarta, LKiS, cet. III, 2008.
[2] Menurut Nurcholish Madjid, Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo adalah representasi lembaga pendidikan liberal di Indonesia. Sementara, pendidikan liberal juga merupakan proyek modernisme. Lihat Nurcholish Madjid dalam Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, cet. Ke-1, (Bandung; Mizan, 2008), hal. 221.
[3] Anthony Giddens berpendapat bahwa dunia modern mengakibatkan tiga hal sekaligus: globalisasi, detradisionalisasi, dan social reflixifity. Globalisasi meluluhkan batas-batas teritorial antar Negara dan menghubungkan manusia satu dengan yang lainnya tidak hanya dalam kepentingan ekonomi, tetapi juga terhadap kepentingan yang lain. Lihat Sholahudin Malik dalam Globalisasi dan Perubahan Pesantren dalam Tradisi Demokrasi.
[4] Ungkapan ini disampaikan Nurkhalik Ridwan dalam sebuah diskusi kebangsaan yang diselenggarakan oleh PMII Rayon Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2011). Sayangnya kalimat-kalimat yang diungkapkan Nurkhalik Ridwan tersebut tidak sempat terekam dalam format digital. Sehingga redaksi yang saya tuliskan merupakan elaborasi antara ungkapan asli dari Nurkhalik Ridwan, ingatan penulis, dan penyesuaian tata bahasa tulis dengan dialek Nurkhalik.

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top