Saturday, April 26, 2014

2014

3:10 PM


Oleh: Irham Thariq


Waktu memang dimensi tanpa tepi, begitu pun dengan 2013, sama dengan tahun-tahun sebelumnya; Selalu pergi menyisakan kekalutan dan 2014 datang membawa harapan.

Di tahun 2013, dari layar televisi dan koran, berita kekalutan tak henti-hentinya muncul. Mulai dari para perempuan cantik yang tercatut korupsi, para "ustaz" yang mencuci uangnya melalui gadis-gadis seksi, sampai hakim tak terhormat yang menerima suap.

Atas semua berita itu, hati kita pun gaduh. Bagaimana bisa, politisi cantik yang pernah tampil di layar kaca membawakan iklan anti korupsi malah terjerat korupsi. Kita bertanya-tanya juga, kok bisa, para "ustaz" yang seharusnya mengajarkan tentang kesalehan, malah menggunakan uang haramnya untuk pesta perempuan. Saya pun bingung, hakim yang selayaknya jadi representasi kebenaran dan keadilan, justru memonopoli kebenaran demi rupiah.

Namun, dari balik kekalutan yang membuat kening kita berkerut itu, sejatinya ada harapan yang muncul dan diwariskan 2013 pada kita. Pada cerita si perempuan cantik yang korupsi misal, terselip nama hakim Mahkamah Agung Artidjo Alkotsar, yang perjuangannya melawan korupsi luar biasa hebatnya.

Tengok saja, si perempuan cantik yang semula hanya divonis 4 tahun 6 bulan penjara. Saat melakukan banding, alih-alih hukumannya turun, Artidjo malah menambahkan hukumannya menjadi 12 tahun penjara, Artidjo memperberat hukumannya agar dia jera dan tak korupsi lagi. Si perempuan pun menangis tersedu-sedu dan pingsan sesaat setelah diperiksa KPK.

Atas tindakan Artidjo itu, kita jadi sadar bahwa tak semua hakim seperti hakim konstitusi yang tertangkap tangan menerima suap itu. Selain itu, saat si hakim konstitusi tertangkap, kita justru punya harapan kalau kita punya penegak hukum yang kuat seperti KPK, yang dengan lihainya menangkap orang sekelas ketua hakim konstitusi.

Ya itulah 2013, selalu gaduh tapi masih saja memberi harapan. Setelah 2013 berlalu ditandai tiupan terompet, 2014 pun datang. Lagi-lagi, 2014 yang katanya tahun politik, masih saja menyisakan harapan meskipun nantinya kita akan tetap gaduh dan kalut.

Oleh karenanya, jika ada yang merasa bosan berharap, di 2014 minimal para caleg dan capres selalu mengajak kita untuk selalu berharap. Dari mana harapan itu….? Minimal berharap pada janji mereka. Jika kita masih pesimis pada para politikus, mari berharap agar mereka tak pernah memberi harapan pada kita, harapan yang ujung-ujungnya hanya berupa janji tak bertuan.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top