Sunday, December 20, 2015

Musafir Cinta

7:14 AM


Oleh: Muhammad Madarik

Puisi yang berjudul "Musafir Cinta" ini diinspirasi oleh sebuah kelana panjang penulis bersama belahan jiwa. Seperti lumrahnya, perjalanan ini tidak terlalu berbeda dari kebanyakan, dimulai dari wilayah Arema, melintasi kota Pahlawan, lalu singgah di Pulau Garam. Tetapi karena memejamkan mata di tengah kelam malam menjadi keharusan, dan tempat rehat seakan sebagai saksi, maka perjalanan ini bagi penulis mempunyai kesan luar biasa. Pengalaman yang menoreh kenangan sangat mendalam bagi pribadi penulis, seketika itu mengusik naluri untuk menyusun kata-kata puitis.

Perjalanan adalah sepotong siksa.

Bait yang berisikan sebentuk pengakuan atas seluruh kesan menjadi pembuka dalam puisi. Tidak dalam rangka mengajak khalayak untuk mensetujui sabda Nabi tentang problematika dibalik sebuah perjalanan, tetapi angkat topi terhadap kebenaran ungkapan sang Rasul bakal dilakukan manusia beriman.

Memang tidak bisa di tampik lagi, tatkala kekasih Tuhan itu pernah berkata: "al-safar qit'atun min al-adzab," maka riwayat ini merupakan referensi tunggal yang tak diragukan validitasnya. Setumpuk beban, baik lahir maupun batin, yang dipikul penulis akibat sebuah perjalanan, benar-benar telah menyematkan kesadaran penuh dalam lubuk terhadap kejujuran sang utusan. Kini, setelah mata terbelalak menyaksikan sekian banyak kenyataan di dalam perjalanan, rasanya terlalu naif untuk membusungkan dada dan tidak bersungkur dibawah kaki manusia paripurna itu.

Separo wajah tampak bertopeng kepura-puraan, meski separo yang lain diselimuti keikhlasan. Kegelisahan selalu saja menyumbul dari lubuk yang paling dalam.

Bait ini sesungguhnya cerita kecamuk psikologis secara pribadi yang acapkali dirasakan penulis, dan diyakini terdapat pengalaman beberapa musafir yang menemukan hal serupa. Di dalam sebuah perjalanan, perilaku kemunafikan terkadang mewarnai setiap momen, walaupun sebetulnya kesucian jiwa tidak dapat dinafikan. Bagi penulis, sambutan dan suguhan seringkali ditangkap sebagai sikap keterpaksaan tuan rumah yang tidak bisa ditepis. Tetapi dalam hal ini, penulis tidak akan pernah memberikan klaim "gebyah-uyah" kepada fenomena masyarakat atau privasi perseorangan. Sebab tuan rumah yang menyiapkan agenda ramah tamah dengan segala kesungguhan juga tidak terbilang. Di berbagai daerah, masih banyak orang-orang yang benar-benar mendamba ridla Tuhan lewat pelayanan maksimal kepada para tamunya, sekalipun hanya sesungging senyum.

Hanya dominasi perasaan sentimen dalam diri penulis membuat cenderung peka dan penuh kecurigaan terhadap banyak gelagat shahib al-bait, yang tak jarang membuat rasa betah bertamu menjadi terganggu. Apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW tentang ganjaran dibalik silaturrahim merupakan cambuk bagi setiap umat untuk melakukan anjangsana, kendati  kepayahan akan terbayang dipelupuk mereka.

Sementara luapan kegelisahan yang dirasakan dalam jiwa penulis tak terbendung setiap kali dirantau. Alih-alih bisa terbahak di rumah handaitaulan, tersenyum saja serasa menari di atas penderitaan orang lain, sekalipun dia seorang kerabat. Kalaulah bukan hadits Nabi itu yang memotivasi untuk saling menjenguk, perjalanan hanya merupakan kegiatan yang selalu menyisakan gersah di batin.

Kaki ini terlalu letih untuk diayunkan. Langkah demi langkah hanya mampu menghitung waktu dengan lambat.

Pada bagian ini, dijelaskan bahwa usai menempuh sekian jarak dan pengalaman, penulis sebagai musafir merasa telah benar-benar memikul beban berat, baik dari sisi lahir maupun dari aspek batin. Memang disadari oleh penulis bahwa sebuah perjalanan tidak serta merta harus dijadikan kambing hitam atas kondisi lesu dan lelah seorang musafir, dalam hal ini terkadang tipologi seseorang turut menentukan keadaan. Ada sebagian sosok yang memiliki tingkat rasa "cuek" begitu besar, sehingga situasi apapun berkenaan dengan dirinya atau pemilik rumah menjadi ringan. Hal demikian ini berbalik jauh dari pribadi penulis yang mempunyai sensitifitas cukup tinggi, menangkap hampir semua gelagat di kediaman tuan rumah sebagai respon keterpaksaan, sehingga penulis merasa seakan telah "memperkosa" sebagian haknya.

Inilah yang menyebabkan orang seperti penulis seringkali hanya menemukan tempat orang lain bak penjara tak berpagar, terasa pengap dalam kebebasan. Tentu akibatnya, penantian detik demi detik yang berdetak begitu perlahan berujung pada rasa tidak betah, resah dan gelisah sekalipun rumah tujuan itu berbentuk istana megah dengan fasilitas mewah.

Batu terjal menyayat tapak tak beralas, menoreh gores darah keperihan. Sekujur raga begitu lunglai dan berlumur kepenatan, hanya sanggup berjalan gontai.

Bait ini kembali menegaskan keadaan seorang musafir saat di rantau, meskipun penulis mulai bercerita tentang kondisi diluar kediaman tuan rumah. Sebenarnya perjalanan tetaplah perjalanan. Di manapun berada, seorang musafir pasti terperosok dalam keterpasungan yang menyebabkan tidak ada ruang luas untuk temukan ketenangan. Di dalam pandangan seorang musafir, wujud rumah orang lain bagai jeruji besi yang sewaktu-waktu menjadi ciut, begitu pula kebugaran tubuh tergerogoti ditambah kecermalangan akal kian menyusut akibat termakan ruas jalan yang memanjang atau berkelok. Alhasil, seorang musafir sungguh-sungguh berada dipuncak menara gading, sedikit saja tergelincir, maka kecelakaan bakal menjadi nyata. Ragam konsekuensi di perjalanan inilah faktor yang menyebabkan ia begitu sembilu.

Kekayaan hanyalah seutas lampu neon yang menua. Ia tak lagi sanggup menerangi sorot mata yang kian buram. Malam yang temaram dan angin dingin membius dan menusuk keperkasan sang lelaki. Gemerlap cuma berupa kuncup bunga yang dikerubung semut.

Dalam bait ini, penulis benar-benar ingin meyakinkan semua orang bahwa dalam perjalanan sama sekali tidak ada transaksi jual beli kebahagiaan, meskipun berlian berkelas yang ditawarkan sekalipun hanya untuk menukar sedetik ketenangan. Siapa bilang, berwisata ke berbagai tempat hiburan indah merupakan bepergian menyenangkan ? Apa saja bentuknya, sebuah perjalanan cuma wujud kamuflase belaka; dibalik satu tawa telah menganga sejuta problematika.

Berlipat rupiah yang dibawa, dan mobil mengilat yang ditumpangi tak akan pernah mengentaskan pemiliknya dari jerat kepenatan tubuh, dan kelelahan pikiran yang tengah melilit. Apalagi sekadar gemerlap lampu di pinggir jalan yang hanya bisa menerangi badan jalan tetapi tak mampu meringankan mata yang lelah, atau toko-toko megah berderet dengan segala barang dagangannya yang cuma dapat mengisi perut namun tak kuasa membugarkan raga yang mulai mati gaya.

Kebahagiaan milik musafir cinta. Gelang emas terlilit indah di tengah tangan-tangan lembut. Belaian kasihnya mampu menyembuhkan pandangan kuyu dan memperkuat kelumpuhan di sepanjang jalan.

Seperti pengalaman penulis, cintalah yang kemudian menyuntikkan banyak amunisi kekuatan bagi seorang musafir. Balutan kisah kasih menjadi satu-satunya spirit yang membingkai dalam separuh jiwa sekalipun rasa letih telah merayap di dalam sendi-sendi tubuhnya dalam separu yang lain. Tentu penulis mengungkapkan jujur bahwa cinta seorang musafir tak harus identik dengan gambaran secara fisikly. Perasaan kasih sayang yang tertanam dalam lubuk hati seorang musafir senantiasa mendidih, kendati lautan luas menghalangi sua dua insan yang sedang dirundung kasmaran. Apalagi jika perjalanan disertai sang bidadari pujaan hati, tak disangsikan dedaunan dari setiap pepohonan dan bias sinar lampu-lampu di sepanjang jalan terasa melagukan selaksa nyanyian keindahan. Sekian pemandangan dari setiap jengkal langkah pasti dirasa menumbuhkan sekian butir-butir pesona nan rangkaian kesejukan dalam jiwa.

Rumah gubuk menjadi tempat kerinduan tak terbeli lagi. Hela panjang hanya pelipur dengus nafas yang kian terengah. Musafir cinta hanya ingin pulang ke peraduan.

Sesungguhnya nyaris tidak ada kemungkinan pilihan bagi musafir untuk bisa senang setingkat kebahagiaan di kediaman diri sendiri. Sekalipun berbagai kemudahan dapat diperoleh sebab segala fasilitas yang serba termutakhirkan sudah tersuguhkan di istana orang lain, tidak akan ada jaminan sanggup menandingi rasa nikmat dan damai dari dalam rumah sendiri walaupun hanya berupa gubuk bambu di tepi sungai.

Benar-benar sahih apa yang disabdakan oleh sang pilihan Khalik, "baiti jannati," sehingga tak seorangpun kuat menyangkal ujaran yang telah menjadi jargon umat muslim itu. Memang begitulah adanya. Bagi penulis, jangankan fenomena sebuah kelana, rumah mertua saja terkadang tak mampu menjadi lampu aladin yang kuasa  menciptakan ketenangan jiwa bagi menantunya, apatah lagi sebuah perjalanan yang dilakukan seorang musafir. Ternyata, kembali ke kampung halaman jelas menjadi asa yang senantiasa dirindukan setiap anak adam. Di sana, ia bisa merebah di sudut mana saja dengan leluasa tanpa was was, angan-angannya dapat melayang menerobos kemahaluasan cakrawala, suara tawa beserta anak-istrinya memekik kesunyian malam, dan gurauan dengan keluarga tak pernah berbatas waktu dan tempat, meskipun rumahnya hanya sekian meter. Di sana, penulis dan (mungkin?) semua orang dipeluk kebahagiaan hakiki.[]

sumber foto: kompasiana.com

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top