Monday, June 6, 2016

Kehidupan Di Antara Pagar Pesantren


Oleh: Muhammad Madarik

Kita tahu banyak anak remaja di kampung kita, persis seperti yang kita pahami tak terhitung gadis-gadis di tempat kita berasal. Pola kehidupan perempuan muda secara garis besar hanya terbagi menjadi dua gaya: Pertama, berperilaku cenderung lugu. Kedua, bertingkah modis bergaya hidup glamor.

Pada diri mereka yang bertipe kedua, tampilannya sungguh menjadikan kita terheran-heran. Kenapa bisa tingkah polah mereka bak kacang lupa kulitnya? Dari mana sebetulnya diri mereka? Hanya gadis-gadis desa yang jauh dari gemerlap kehidupan kota.

Cobalah sedikit bayangkan dalam alam pikiran Anda! Semenjak kecil mereka hidup di pelosok, sekian kilo dari sebuah keramaian kecamatan. Bocah cilik yang bermain di sekitar lingkungan gubuknya dengan alat-alat permainan sederhana. Pecahan genteng, belahan batu bata, dedaunan, gelang karet dan macam-macam mainan alami. Tak ada jarak anak laki-laki dan perempuan dan bahkan tidak dipisah oleh sekat-sekat kekhawatiran orang tua dari sisi norma-norma, sebab cara bermain merekapun tanpa tersentuh oleh cengkraman syahwat-birahi. Ketika azan Magrib mulai dikumandangkan bocah-bocah itu telah bergegas menuju surau untuk belajar mengeja huruf-huruf Alquran kepada kiai langgar atau guru ngaji. Di dalam perjalanan antara rumah dan surau, anak-anak itu nyaris saja memenuhi badan jalan karena gurauan yang tak kenal tempat dan waktu. Tawa bahagia menyelimuti wajah-wajah polos mereka, terkadang saling tarik pakaian bagi sesama lelaki, atau kejar-lari dengan perempuan yang diwarnai gelak-tawa dan jerit kegembiraan. Kadang-kadang teguran, atau nasihat dengan suara lantang orang-orang tua menghentikan guyonan mereka. Tetapi dasar anak "bandel" seusia itu, suara-suara tawa dan jerit yang melengking seringkali memekikkan telinga para orang tua.

Belum lagi saat di depan guru dalam surau. Ada saja tingkah polah yang diperbuat salah satu di antara mereka sebagai bahan gurauan. Kadangkala anak putri dicubit, dicibir atau dicemooh secara bersama-sama hingga menangis. Ada pula saling ejek sesama anak pria sampai terjadi perkelahian, tidak saling menyapa atau mengadu kepada gurunya.

Kisah masa kanak-kanak di desa itu kemudian terbelah oleh zaman. Pengalaman waktu-waktu belum balig hanyalah kenangan yang tertinggal. Sekarang, putaran jarum jam yang terus berdetak tanpa henti tak menyisakan jejak-jejak mereka kecuali cuilan khayalan masa lalu yang terpendam di benak orang-orang kampung. Sebagian mereka belajar di sekolah umum dengan muatan pengetahuan-pengetahuan non agama. Sedangkan sebagian yang lain masuk ke dunia pendidikan pesantren.
Nah, ternyata tipologi dan kecenderungan yang beragam tampak akibat pilihan masing-masing mereka ini. Sebagian mereka benar-benar tampil modis lengkap dengan segala aksesoris yang melekat di badannya. Rok pendek sebagaimana seragam sekolah umum menjadi style harian yang tak lagi terasa risih. Tas ransel, dan telepon genggam menambah gaya hidup mereka bak perempuan metropolitan selalu punya rasa percaya diri untuk tampil beda.

Meski tidak selalu orisinal karena banyak mengadopsi gaya selebritis populer yang mereka lihat di majalah dan televisi, tetapi "keakuan dan keangkuhan" ingin tampil dicap "modern" sanggup mengubah tatanan hidup dan budaya yang sudah mapan di tengah masyarakat.

Salah satu yang bisa diangkat sebagai contoh antara lain terjadinya gelombang Korea sudah menyebar keseluruh dunia, terutama di kalangan anak muda. Berawal dari kesuksesan film dan band-nya, gaya Korea akhirnya menjadi trend di berbagai negara di Asia termasuk di Indonesia. Dengan semakin populernya keberadaan artis Korea tersebut, membuat banyak perubahan dalam gaya hidup anak-anak muda, khususnya para penggemar musik dan juga drama yang berasal dari Korea Selatan tersebut.

Dalam hal pergaulan, mereka cenderung merdeka dari tata nilai yang sudah diyakini oleh masyarakat. Andaikan bukan karena setitik rasa malu terhadap lingkungan yang masih bersemayam di lubuk kecilnya, tentu pergaulan bebas hampir-hampir saja jadi mazhab dalam interaksi dengan teman-temannya. Walaupun dalam banyak ihwal pergumulan persahabatan, pagar-pagar norma dan nilai kesopanan tak lagi kokoh. Boleh dibilang, pergaulan antar lawan jenis nyaris tanpa batas, seakan cara bergaul antar mereka dilakukan sekehendak hati mereka. Kecuali sebab-sebab pertimbangan "publik" sajalah, mereka berupaya menyembunyikan diri dari masyarakat.

Begitu jauhnya kita menyaksikan tingkat ketimpangan antara mereka yang menyelami sebuah pendidikan non pesantren dan tarbiyah di lembaga Islam tertua di tanah air itu. Kita lihat bagaimana pola hidup anak-anak pesantren. Sejak awal masuk ke dalam lingkungan pesantren sudah ada pemasrahan yang betul-betul melalui keterwakilan berdasarkan kesadaran mendalam antara pihak wali dan pihak pesantren. Kendatipun proses administrasi kerapkali diselenggarakan oleh pesantren karena tuntutan zaman sekarang, namun pemasrahan totalitas kepada pengasuh pesantren menjadi bagian dari tahapan pendaftaran untuk masuk pesantren. Praktik sowan kiai merupakan agenda yang dianggap sangat sakral sehingga meninggalkan kegiatan satu ini dianggap langkah yang tidak etis.

Berikutnya soal cara hidup di dunia pesantren yang dapat digambarkan seperti gadis terpingit. Interaksi dengan alam di luar pagar pesantren dibatasi oleh tata aturan yang sangat ketat, sehingga memungkinkan tingkah kehidupan mereka begitu higienis dan tak mudah terlumuri pengaruh pergaulan bebas nilai-nilai.

Tentu kehidupan santri putri dalam pandangan sebagian orang luar dianggap "kolot dan terbelakang". Betapa tidak, menurut mereka, tanpa pakaian yang tergolong trendi ala sosialita dengan satu juta ke atas, para santri menutup tubuhnya hanya kisaran tujuh puluhan ribu belaka harga baju yang mampu dibeli.

Memang ya. Dalam ukuran materi, mode pakaian yang melekat di tubuh para santri tak semewah perempuan di luar tembok pesantren. Tetapi saat pakaian dinilai dari sisi agama dan kesopanan orang-orang timur, baju anak santri lebih mencerminkan keteguhan pada keyakinan yang dipercayainya dan lebih menggambarkan etika masyarakatnya. Berpulang pada fakta ini, sebenarnya hampir-hampir kebanyakan para santri jauh lebih mempunyai komitmen terhadap agama dan negaranya ketimbang kelompok pelajar lainnya yang acap kali menggadaikan kepercayaan terhadap ajaran dan patriotisme pada bangsa.[]

Sumber gambar:

Monday, May 30, 2016

Restorasi Pendidikan Indonesia, Kilas Balik Pemikiran Ki Hadjar Dewantara


Oleh: M Yasin Arief

Mendidik artinya memupuk pikiran murid, bukan menanamkan pikiran guru, jika sekolah tidak paham, maka sikap permisif pada kedunguan justru tumbuh dari sekolah. Seperti Ki Hadjar Dewantara, Guru seharusnya memberi ruang pada anak didiknya untuk mengembangkan ide dan pemikirannya sendiri.

Akal adalah anugerah terbesar yang dimiliki oleh manusia untuk memaknai entitasnya sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki kemauan dan kemerdekaan dalam hidup. Maka kegiatan manusia paling utama dalam hidupnya adalah memanfaatkan anugerah itu dengan melaksanakan kegiatan berfikir dalam rangka menelurkan ilmu-ilmu pengetahuan baru dalam arti seluas-luasnya dan mewariskannya pada generasi ke generasi selanjutnya. Untuk mencapai satu visi yang luhur itu, maka pendidikan menjadi instrumen paling asasi dan menjadi teramat naif untuk diabaikan dan tidak diperbincangkan.

Pendidikan dalam perjalanannya merupakan sesuatu yang telah menjadi nadi dan nafas dalam sejarah panjang kemajuan peradaban manusia. Pendidikan telah mengantarkan manusia dari gerbang ke gerbang yang lebih bersinar dan bermatabat, dari zaman ke zaman yang lebih maju dan beradab. Kendatipun pendidikan juga adalah pelaku kekejaman terbaik, saat institusi-institusi pendidikan menenggelamkan manusia pada lembah jiwa yang bukan jiwanya, menyeragamkan kodrat manusia yang bhineka hanya pada satu warna, dan membunuh potensi unik yang sangat berharga dalam tiap-tiap diri manusia.

Semua manusia dilahirkan dalam keadaan unik secara kecerdasan, psikologi maupun fisik. Maka definisi pendidikan yang dewasa dan bijaksana adalah, satu instrumen yang bertujuan untuk membangun karakter manusia dari keunikan-keunikannya, memupuk gagasan dan pemikiran serta menumbuhkembangkan potensi yang sudah ada dalam tiap-tiap diri manusia.

Tidak ada satu peradaban maju di dunia yang tidak dibangun oleh keterlibatan pendidikan, kemapanan sistem pendidikan adalah kunci utama untuk mencapai cita-cita sebagai bangsa yang maju. Indonesia adalah satu-satunya dari sekian banyak bangsa di dunia yang memiliki keanekaragaman yang paling kompleks. Wajah geografis yang terdiri dari ribuan pulau terbentang luas dari semenanjung sumatra sampai papua sangat mempengaruhi pada unsur demografi-antropologi manusia-manusia Indonesia, realitanya tidak dapat terbantahkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa yang terbangun secara hukum alam dari antropologi manusianya yang bersuku-suku, faktor geografi, dan perjalanan sejarah panjang. Dengan kata lain, fakta menyatakan bahwa Indonesia adalah negara bangsa yang paling memiliki keanekaragaman karakter manusia diantara negara-negara lain di dunia.

"Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu, sistem pendidikan dan pengajaran di Indonesia harus disesuaikan dengan kepentingan rakyat, nusa dan bangsa, kepentingan kebudayaan dan kemasyarakatan dalam arti seluas-luasnya."

Pernyataan itu pernah disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara, salah satu tokoh penting penggagas, peletak fondasi sistem pendidikan di Indonesia. Memahami pemikiran Ki Hadjar dari pernyataannya sebetulnya tidak sulit, beliau sadar betul bahwa Bangsa Indonesia memiliki keunikan, keunikan tersebut terletak pada kompleksitas keragaman manusianya, dan keragaman akan hancur bila dipaksa untuk diseragamkan. Ada dua kesimpulan yang dapat diambil dari pernyataan Ki Hadjar di atas; Pertama, Ia menegaskan bahwa semua anak diciptakan dengan potensi diri yang berbeda, maka Ia menginginkan sistem pendidikan yang tidak merusak potensi-potensi unik itu, pendidikan justru seharusnya memupuk serta mengembangkan potensi asli yang ada pada anak didik. Kedua, Ia menginginkan sistem pendidikan Indonesia harus sadar pada asas kebutuhan dan kepentingan masyarakat dalam arti seluas-luasnya, sistem pendidikan harus lebih jeli melihat Republik Indonesia ini secara utuh, dari sudut geografis, keragaman ras, suku, agama dan budaya, sehingga terapan kurikulum pendidikan di Indonesia tidak boleh digeneralisir, disamaratakan atau diseragamkan. Dari sisi geografi-demografi kondisi anak-anak yang ada dipusat kota Jakarta misalnya, tidak akan sama dengan kondisi anak-anak yang ada di wilayah-wilayah pedalaman. Dari sisi budaya kondisi tradisi anak-anak madura misalnya, tidak akan sama dengan kondisi tradisi anak-anak papua/sulawesi. Pada abad itu, Ki Hadjar Dewantara sudah memiliki gagasan cerdas, dengan tidak melihat kondisi bangsa Indonesia secara sepotong-potong. Ki Hajar melihat dengan amat jeli kondisi sosio-geografis Indonesia secara utuh dan menggagas sistem pendidikan yang paling sesuai dengan kondisi itu.

Waktu berjalan zaman terus berubah dengan sangat cepat, menuntut apa saja yang ada di sekitarnya untuk ikut berkembang. Ironisnya, zaman terus maju tetapi sistem pendidikan di Indonesia makin kesini makin kehilangan arah, gagasan pemikiran Ki Hadjar dewantara kala itu justru tidak serius dikembangkan. Sistem pengajaran dan kurikulum pendidikan pasca itu menjadi kian rapuh, tergerus arus dan menjadi alat pelbagai pergolakan politik dan kepentingan kapital. Kebebasan bependapat dan berpikir dalam dunia pendidikan mulai terpasung, lalu penyeragaman karakter potensi dan pemikiran dilakukan sekolah kepada anak didik melalui sistem kurikulum pengajaran menjadi hal yang lumrah, bahkan sebagian pelajaran direkayasa dan sengaja diatur sedemikian rupa demi kepentingan yang tidak berpihak pada kebutuhan masyarakat. Eksesnya, beberapa puluh tahun kemudian sangat dirasakan dampaknya oleh kita, masyarakat Indonesia seakan kehilangan pijakan dalam memahami siapa dirinya, para mahasiswa dan sarjana yang dianggap kaum terpelajar menjadi seolah dungu layaknya gerombolan ternak yang mau digiring kemana saja oleh si tuan asal mendapat jatah makan.

Keadaan rakyat Indonesia saat ini tragis dan sakit kronis, dalam keadaan sekarat namun rakyat tak paham jenis penyakit apa yang di deritanya, nalar berfikir anak muda yang tidak kritis terhadap lingkungan sekitarnya, tidak pernah bertanya "kenapa" pada sebuah teori, "pasrah bongko'an" dan manut nurut pada siapapun, kreatifitas mereka yang mati, budaya mereka latah dan menggandrungi budaya bangsa lain, dan semangat belajar mereka yang semu. Ini semua tentu terjadi bukan semata-mata kebetulan saja, ini terjadi setidaknya karena sekian lama negara pernah memasung kebebasan berpendapat dan berpikir.

Kemiskinan bangsa Indonesia terletak pada miskinnya Sumber Daya Manusianya, sehingga semelimpah apapun potensi alam Indonesia pada akhirnya juga hanya menjadi fosil-fosil yang begelimpangan yang tiada guna bila Sumber Daya Manusia Indonesia tidak segera dibangun. Ribuan hektar tanah yang dikeruk dan lautan yang ditelanjangi tidak akan menuai kemakmuran dan kesejahteraan bagi Rakyat Indonesia bila Sumber Daya Manusianya tidak dibenahi. Pembangunan Sumber Daya Manusia adalah keniscayaan bila semuanya menginginkan perubahan, pembangunan Sumber Daya Manusia itu dapat berjalan dengan baik bila sistem pendidikan di negeri ini baik, karena pendidikan adalah gerbang utama menuju pembangunan manusia yang utuh.

Kesadaran dan keinsafan kolektif harus tumbuh dari hati semua kalangan, terutama para pegiat pendidikan di negeri ini, dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sampai pada guru madrasah di pelosok negeri harus ikut berbenah. Pendidikan Indonesia harus dipugar, direstorasi pada keadaan yang pernah baik sebelumnya, menengok kembali pada sejarah pendidikan nusantara yang bersahaja, meminjam kembali gagasan Ki Hadjar Dewantara dan para pakar pendidikan Indonesia lainnya, dan harus menelurkan gagasan serta inovasi baru yang lebih baik. Pendidikan Indonesia harus lebih bijaksana memandang kearifan lokal, menghargai kebhinekaan dalam multiperspektif, memupuk serta mengembangkan karakter manusia, dan harus menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Secara ideal dapat dikatakan pendidikan Indonesia harus bisa membangun manusia yang lebih berdaya, berbudaya, cerdas-bijaksana, produktif, dan kreatif-inovatif dalam rangka membangun Indonesia yang lebih bermartabat.

2 Mei 2016.
Sumber gambar:

Monday, May 23, 2016

Umat Muslim Akan Dipimpin Oleh Seorang Khalifah?

UMAT MUSLIM AKAN DIPIMPIN OLEH SEORANG KHALIFAH?

Catatan Kritisi Terhadap Pemikiran Taqiyuddin an-Nabhani (Pendiri Hizbut Tahrir Indonesia)

Oleh Abdurrasyid

Sekilas Tentang Hizbut Tahrir dan Pendirinya

Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani, (pendiri Hizbut Tahrir) dilahirkan  di desa Ijzim, Haifa, Palestina, tahun 1909. Beliau menamatkan pendidikan dasarnya didaerah kelahirannya, setelah itu beliau melanjutkan pengembaraan studinya ke al-Azhar dan Darul Ulum Mesir. Pada tahun 1953 Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani mendirikan sebuah partai politik yang dinamai dengan Hizbut Tahrir.  Gerakan ini menitikberatkan perjuangan membangkitkan umat di seluruh dunia untuk mengembalikan kehidupan Islam melalui tegaknya kembali Khilafah Islamiyah.

Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang berideologi Islam. Politik merupakan kegiatannya, dan Islam adalah ideologinya. Hizbut Tahrir bukan organisasi kerohanian (seperti tarekat), bukan lembaga ilmiah (seperti lembaga studi agama atau badan penelitian), bukan lembaga pendidikan (akademis), dan bukan pula lembaga sosial (yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan). Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an dengan merintis dakwah di kampus-kampus besar di seluruh Indonesia. Pada era 1990-an ide-ide dakwah Hizbut Tahrir merambah ke masyarakat, melalui berbagai aktivitas dakwah di masjid, perkantoran, perusahaan, dan perumahan.

Misi Hizbut Tahrir

Salah satu ajaran yang sangat ditekankan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah memperjuangkan kebangkitan umat Islam di dunia untuk mengembalikan kehidupan Islam melalaui tegaknya kembali Khilafah Islamiyah. Argumentasi legalistis yang dijadikan dasar oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah hadist Hudzaifah yang berbunyi;[1]

حدثنا أبو بكر محمد بن الحسن بن فورك رحمه الله ، أخبرنا عبد الله بن جعفر الأصبهاني ، حدثنا يونس بن حبيب ، حدثنا أبو داود الطيالسي ، حدثنا داود الواسطي ، قال : وكان ثقة ، قال : سمعت حبيب بن سالم ، قال : سمعت النعمان بن بشير بن سعد ، في حديث ذكره قال : فجاء أبو ثعلبة فقال : يا بشير بن سعد ، أتحفظ حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم في الأمراء ، وكان حذيفة قاعدا مع بشير ، فقال حذيفة : أنا أحفظ خطبته ، فجلس أبو ثعلبة فقال حذيفة : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « إنكم في النبوة ما شاء الله أن تكون ، ثم يرفعها إذا شاء ، ثم يكون خلافة على منهاج النبوة تكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء ، ثم تكون جبرية (1) تكون ما شاء الله أن تكون ، ثم يرفعها ، إذا شاء أن يرفعها ، ثم تكون خلافة على منهاج (2) النبوة »
“Hudzaifah berkata: Sesungguhnya Nabi bersabda: “Kenabian akan menyertai kalian selama Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkat kenabian itu bila menghendakinya. Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian dalam waktu Allah menghendakinya. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya. Kemudian akan datang kerajaan yang menggigit dalam waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya. Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian.”.

Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, hadits Hudzaifah di atas telah membagi kepemimpinan umat Islam pada 5 fase. Pertama, fase kenabian yang dipimpin langsung oleh Nabi.  Kedua, fase khilafah yang sesuai dengan minhaj al-nubuwwah yang dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin. Ketiga dan keempat, fase kerajaan yang diktator dan otoriter. Kelima, fase Khilafah Al-Nubuwwah yang sedang dinanti-nantikan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani berasumsi bahwa Khilafah Al-Nubuwwah pada fase ke-5 tersebut belum terjadi, sehingga harus ditegakkan dan masih harus diperjuangkan.

Pertanyaannya, Apakah Khilafah Islamiyyah yang dicita-citakan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhaniy bisa tercapai secara faktual ataukah hanya angan-angan yang hanya dalam khayal? Untuk menjawab pertanyaan ini maka kita harus meninjaunya masalah ini dari dua sudut pandang, pertama: sudut pandang teoritis, kedua: sudut pandang faktual. 

Sudut Pandang Teoritis

Secara teoritis asumsi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani tentang hadist Hudzaifah yang dijadikan argumentasi legalistis mengenai Khilafah Nubuwwah  tidaklah benar. Hal ini dikarenakan beberapa aspek. Pertama:  beliau menafsirkan hadits tanpa merujuk terhadap penafsiran Ulama Ahli Hadits yang otoritatif (mu’tabar), padahal beliau belum memiliki kapasitas untuk menafsirkan hadits. Kedua:  dalam semua jalur riwayat hadits tersebut dikemukakan bahwa Habib bin Salim, salah satu perawi hadits di atas, berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Bisyarah Khilafah Al-Nubuwwah pada fase kelima dalam hadits di atas adalah khilafahnya Umar bin Abdul Aziz. Kemudian penafsiran Habib bin Salim ini diakui oleh para Ulama‘ perawi hadits. Bahkan Syaikh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani (kakek Taqiyyuddin al-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir) dalam karya monumentalnya, Hujjatullah ‘ala al-’Alamin fi Mu’jizat Sayyid al-Mursalin, memberikan paparan yang sama dengan para Ulama hadits bahwa yang dimaksud dengan Khilafah Al-Nubuwwah dalam hadits Hudzaifah tersebut adalah khilafahnya Umar bin Abdul Aziz.[2]

Bahkan lebih lanjut lagi, al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hambali berkata:

فنص رسول الله صلى الله عليه و سلم في آخر عمره على من يقتدي به من بعده والخلفاء الراشدون الذين أمرنا بالاقتداء بهم أبو بكر وعمر وعثمان وعلى رضي الله عنهم فإن في حديث سفينة عن النبي صلى الله عليه و سلم والخلافة بعدي ثلاثون سنة ثم يكون ملكا وقد صحيح الإمام أحمد واحتج به على خلافة الأئمة الأربعة ونص كثير من الأئمة على أن عمر بن عبد العزيز خليفة راشد أيضا ويدل عليه ما خرجه الإمام أحمد من حديث حذيفة رضي الله عنه عن النبوة صلى الله عليه و سلم قال تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبي فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها الله ثم تكون ملكا عاضا ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون ملكا جبرية فتكون ما شاء الله أن تكون ثم إذا شاء الله أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج نبوة
Rosululloh pada penghujung usianya secara eksplisit telah menjelaskan orang-orang yang dapat diikuti setelah beliau. Adapun Khulafa’ur Rasyidin yang Nabi perintahkan untuk mengikuti mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, karena dalam hadits Safiinah dari Nabi: “Khilafah sesudahku selama 30 tahun, kemudian kerajaan“[3]. Imam Ahmad bin Hambal telah mensahihkan hadits tersebut dan menjadikannya sebagai hujjah atas kekhalifahan  para imam yang empat. Banyak para Imam yang memastikan bahwa Umar bin Abdul Aziz juga seorang khalifah yang rasyid (memperoleh petunjuk), hal tersebut ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari hadisnya Hudzaifah, dari Nabi saw bersabda: “Kenabian akan ada ditengah-tengah kamu selama Allah menghendaki kemudian Allah mengangkat kenabian itu bila menghendakinya. Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian dalam waktu Allah menghendakinya. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya. Kemudian akan datang kerajaan yang menggigit dalam waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya. Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian.“[4] 

Sudut Pandang Faktual

Secara Faktual diakui atau tidak kita selaku umat Islam kesulitan atau bahkan tidak mampu mengangkat Pemimpim Tunggal (Khilafah Islamiyyah), sebab realitas politik tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu. Kalau kita telisik dari sisi sejarah, konsep khilafah terbentuk pada saat belum ada negara bangsa seperti sekarang, pada saat didunia sudah terbentuk negara bangsa, maka keinginan untuk menjadikan umat Islam dipimpin oleh pemimpin tunggal adalah hal yang tidak rasional.

Ketika realitas politik tidak memungkinkan dan umat Islam terpecah-pecah menjadi banyak negara yang berdaulat seperti dewasa ini, maka umat Islam tidak memiliki kewajiban untuk memperjuangkan Khilafah (Kepemimpinan Tunggal). Al-Imam al-Hafidz Abu Amr ad-Dani al-Maliki al-Asy’ariy, seorang pakar hadits dan qiroat dari Andalusia dalam karyanya Ar-Risalah al-Wafiyah, berkata yang artinya: “mengangkat seorang imam ketika mampu dan memungkinkan dihukumi wajib bagi umat Islam, yang harus mereka ketahui dan tidak boleh ditinggalkan. Pengangkatan tersebut berdasarkan keputusan Ahlu al-Halli wa al-Aqdi dari Umat, bukan berdasarkan nash dari Rasulullah.“[5]

Ketika umat Islam tidak mampu mengangkat seorang Pemimpin Tunggal karena struktur sosial dan politik umat Islam yang telah berubah dan tidak memungkinkan terangkatnya seorang Pemimpin Tunggal seperti yang terjadi pada zaman sekarang, maka para Ulama membenarkan terjadinya banyak Pemimpinan politik di setiap daerah yang memungkinkan. Dalam kasus ini Imam al-Haramain al-Juwainiy berkata: “Sebagian Ulama‘ berkata: “Apabila suatu masa mengalami kekosongan dari penguasa tunggal, maka penduduk setiap daerah dan setiap desa mengangkat diantara orang-orang yang memiliki kecerdasan dan pemikiran, seseorang yang dapat mereke patuhi perintahnya dan mereka jauhi larangannya. Karena apabila mereka tidak melaksanakan hal tersebut, mereka akan ragu-ragu ketika menghadapi persoalan penting dan tidak mampu menyelesaikan masalah yang sudah terjadi.“[6]

Alasan lain, realitas yang ada sekarang, pemeluk agama Islam sudah menyebar keseluruh penjuru dunia, dan jarak antara negara satu dengan nagara lain saling berjauhan. Tatkala daerah Islam berjauhan antara satu dengan yang lain, dan kemudian diangkat seorang Pemimpin Tunggal lalu kita diwajibkan untuk mentaatinya adalah sebuah hal yang Sangat Tidak Logis. Karena sangat mungkin orang yang berada di daerah yang jauh dari tempat di mana seorang Pemimpin Tunggal bertakhta tidak mengetahui apa yang telah diperintahnya dan apa yang dilarangnya, bahkan mungkin saja mereka (baca: orang yang berada di daerah yang jauh dari tempat di mana seorang Pemimpin Tunggal bertakhta) tidak tahu siapa Pemimpin Tunggal mereka. Kalau dalam keadaan yang demikian ini mereka diwajibkan untuk taat terhadap Pemimpin Tunggal, maka termasuk katagori Taklif Ma Lam Yuthoq (membebankan hukum yang tidak mampu dilakukan) dan itu sangat mustahil.[7]

Terkait dengan hal ini Imam as-Syaukaniy[8] menjelaskan.

فاعرف هذا فإنه المناسب للقواعد الشرعية والمطابق لما تدل عليه الأدلة ودع عنك ما يقال في مخالفته فإن الفرق بين ما كانت عليه الولاية الإسلامية في أول الإسلام وما هي عليه الآن أوضح من شمس النهار ومن أنكر هذا فهو مباهت لا يستحق أن يخاطب بالحجة لأنه لا يعقلها
“Ketahuilah hal ini (Tidak memungkinkannya mengangkat seorang Pemimpin Tunggal [Khilafah Islamiyyah] dan seluruh umat Islam wajib taat dan patuh kepadanya), karena inilah yang lebih relevan dengan kaidah-kaidah syariat dan cocok dengan argumentasi legal-formal (al-Adillah). Tinggalkanlah statemen-statemen yang dilontarkan oleh orang-orang yang isinya kontardaiktif dengan apa yang aku katakan, karena perbedaan kekuasaan pada masa awal-awal Islam dengan zaman sekarang lebih terang dari matahari di waktu siang. Orang yang mengingkari hal ini adalah para pembohong, tidak perlu mematahkan argumentasi yang dipaparkan mereka, karena mereka tidak punya otak.“[]


Sumber gambar:



[1] Al-Bahaqiy, Abu Bakr Ahmad bin al-Husaian, Dalail an-Nubuwwah wa Ma’rifati Ahwali Shohib as-Syari’ah, (Vol. VI. Hal. 491)
[2] Syaikh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani, Hujjatullah ‘ala al-’Alamin fi Mu’jizat Sayyid al-Mursalin, hal. 527
[3] Secara lengkap redaksi Hadits tersebut berbunyi:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَشْرَجُ بْنُ نُبَاتَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُمْهَانَ قَالَ حَدَّثَنِى سَفِينَةُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْخِلاَفَةُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ ». ثُمَّ قَالَ لِى سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلاَفَةَ أَبِى بَكْرٍ وَخِلاَفَةَ عُمَرَ وَخِلاَفَةَ عُثْمَانَ. ثُمَّ قَالَ لِى أَمْسِكْ خِلاَفَةَ عَلِىٍّ. قَالَ فَوَجَدْنَاهَا ثَلاَثِينَ سَنَةً. قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ بَنِى أُمَيَّةَ يَزْعُمُونَ أَنَّ الْخِلاَفَةَ فِيهِمْ. قَالَ كَذَبُوا بَنُو الزَّرْقَاءِ بَلْ هُمْ مُلُوكٌ مِنْ شَرِّ الْمُلُوك

“Sa’id bin Jumhan berkata: safinah menyampaikan hadits kepadaku bahwa Rosulullah saw bersabda: “Pemerintahan Kholifah pada umatku selama 30 tahun, kemudian setelah itu dipimpin oleh pemerintahan kerajaan”. Lalu safinah berkata kepadaku, “hitunglah masa kholifah Abu Bakar (2 tahun), Umar (10 tahun), Ustman (12 tahun)”. Safinah berkata lagi kepadaku, “tambahkan dengan masa kholifahnya Ali (6 tahun)”. Ternayata semuanya 30 tahun. Sa’id berkata: “aku berkata pada safinah, sesungguhnya Bani Umayyah berasumsi bahwa Kholifah ada pada mereka”. Safinah menjawab: “mereka (Bani Umayyah) berbohong, justru mereka adalah raja, yang tergolong seburuk-buruknya raja” (HR. Ahmad, 20910) dan (at-Tirmidzi, 2152)

[4] Ibnu Rajab, Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, (Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), hal. 231.
[5] Al-Hafidz Abu Amr ad-Dani, Ar-Risalah al-Wafiyah, (Dar Ibn al-Jauziy, Riyadh), hal. 130
[6] Imam Al-Haramian al-Juwainiy, Ghiyats al-Umam fi Iltiyas al-Dzulam, (Maktabah Imam al-Haramain, Kairo), hal. 386-387
[7] Kepemimpinan sangatlah erat kaitannya dengan masalah ketaatan, karena Allah telah berfirman berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian semua pada Allah, Kepada Utusan-Utusaan Allah dan Pemimpin diantara kalian semua.”
[8] As-Syaukaniy, Syaikh Muhammad bin Ali Bin Muhammad, as-Sailul Jaror, Vol. IV, hal 512.

Saturday, May 21, 2016

Bersama Para Penggerak Buku


Oleh: Irham Thoriq

Ini semacam cinta yang keras kepala. Kalau bukan karena kecintaan mereka pada buku, dan juga kepedulian agar semua orang bisa baca buku gratis, mungkin mereka sudah meninggalkan kegiatan ’setengah gila’ ini. Mereka tidak dibayar. Dan juga tak terlalu berharap pada bantuan pemerintah. Umumnya berada di pelosok kelurahan dan desa.

Mereka adalah relawan pengelola taman baca yang ada di Malang Raya. Pada peringatan Hari Buku Nasional pada Selasa 17 Mei lalu, sekitar 30 pustakawan berkumpul di Perpustakaan Anak Bangsa, di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Yang mengumpulkan adalah dedengkot perpustakaan gratis di Malang: Eko Cahyono.

Pria 36 tahun ini sudah 18 tahun mendirikan dan mengelola perpustakaan gratis. Bukunya sudah ribuan. Di kalangan pustakawan di Indonesia, nama Eko sudah sangat dikenal. Dia beberapa kali tampil di Kick Andy, dan mendapatkan penghargaan dari program ini.

Saya yang hadir dalam pertemuan ini, merasa terharu pada keikhlasan dan semangat mereka mengembangkan perpustakaan gratis. Apa yang mereka lakuan seolah menjadi ’lilin’ di tengah lesunya minat baca di Indonesia. Berdasarkan data Central Connecticut State University yang dirilis April lalu, peringkat literasi Indonesia berada di urutan kedua dari bawah. Dari 61 negara yang di-ranking, Indonesia peringkat 60. Angka yang miris bukan? 

Dalam pertemuan di ruang perpustakaan yang luasnya sekitar separo lapangan futsal ini, saya duduk di sebelah mahasiswi Strata Dua (S-2) Universitas Negeri Malang. Dia mengelola perpustakaan gratis di Dusun Pandanrejo, Desa Sukopuro. Dari perpustakaan Eko, jaraknya hanya sekitar 15 menit.
Perempuan ini sangat bersemangat ketika membicarakan buku dan juga perpustakaan. Dia datang pagi sekali. Sekitar setengah delapan, padahal acara baru dimulai jam sebelas. Kepada para pustakawan lain, dia juga bertanya-tanya cara mendapatkan buku gratis. ”Koleksi perpustakaan saya hanya sekitar seratus buku,” kata Yuyum, panggilan perempuan itu.

Ketika seorang pustakawan lain memberi informasi kalau ada pengajuan buku gratis, dia langsung membuka website yang memuat informasi tersebut.

Saat saya tanyakan motivasinya mendirikan perpustakaan gratis, dia menjawab sederhana. ”Anak-anak di kampung saya sedikit sekali yang sekolah, dan juga banyak premannya,” kata dia. ”Makanya sejak SMA saya pinjamkan buku-buku saya ke anak-anak sekitar,” tambahnya.

Rupanya, sedikitnya buku yang dia miliki bukan satu-satunya masalah. Menurut dia, masalah paling utama adalah mendatangkan anak-anak dan juga orang dewasa ke perpustakaannya. ”Agar banyak yang datang, saya adakan kegiatan seperti lomba-lomba,” imbuhnya.

Ada lagi seorang perempuan bernama Sri Mulyani. Umur perempuan yang tinggal di daerah Gadang, Kota Malang ini kira-kira sudah kepala lima. Dia membuka perpustakaan gratis di perumahannya. Awalnya, perpustakaan itu dikelola oleh pendidikan anak usia dini (PAUD). Tapi belakangan karena sudah tidak ada yang mengelola lagi, dia kelola sendiri. ”Bukunya masih sedikit,” kata dia.
Dia lantas bertanya-tanya dengan pemuda yang ada di sampingnya. Namanya Ragil, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang juga pendiri komunitas Gubuk Cerita. Komunitas ini mempunyai sekitar seribu tiga ratus judul buku. Perpustakaannya beda dengan biasanya, yakni meminjamkan buku dengan sistem delivery order.

Ketika ada orang yang mau pinjam, tinggal mengirim pesan singkat. Buku diantar, si peminjam meninggalkan KTP. Dan setelah baca buku, relawan Gubuk Cerita mengambil. ”Saya bisa pinjam ya Mas, untuk perpustakaan saya yang bukunya masih sedikit,” kata perempuan ini. Ragil manggut-manggut.

Sedangkan Eko, si tuan rumah terlihat sibuk dalam acara itu. Dia hilir mudik, sesekali memberi pengarahan. ”Kalau Anda mengelola perpustakaan, Anda sendiri harus suka baca buku,” kata Eko. ”Anda pernah baca Laskar Pelangi, novel Ronggeng Dukuh Paruk, harus pernah karena ini novel ini sangat berpengaruh di Indonesia,” kata dia.

Karena inilah, Eko meminta para pustakawan untuk sering berkunjung ke toko buku dan juga perpustakaan Kota Malang. ”Karena Anda harus tahu buku yang update, dan biasanya itu dibutuhkan warga, semisal sekarang sedang booming novel Ayat-Ayat dengan Cinta 2. Anda harus punya agar orang yang ingin baca buku ini ke perpusatakaan Anda,” kata dia.

Siang mulai beranjak pergi. Pertemuan tersebut ditutup dengan deklarasi Forum Taman Baca Masyarakat Malang Raya dan makan nasi jagung bersama. Eko berharap, forum ini bisa mempercepat perkembangan perpustakaan-perpustakaan gratis yang ada di kelurahan dan di desa-desa. ”Saya yakin, dengan adanya forum ini, taman baca Anda bisa berkembang lebih pesat daripada ketika saya mengembangkan perpustakaan saya ini dulu,” kata Eko.

Keyakinan agar perpustakaan gratis ini berkembang cepat memang perlu terus dikumandangkan. Sebagaimana buku The Secret yang dikutip Eko dalam pertemuan itu bahwa semesta akan mendukung mewujudkan apa yang kita yakini. Eko ingin perpustakaannya menjadi besar, punya buku banyak, dan rak yang bagus. Menurut Eko, itu semua terwujud karena keyakinan dalam buku tersebut yang dia pegang. Ya ya, mewujudkan cinta yang keras kepala memang butuh keyakinan yang berlipat-lipat. []


Tulisan ini terbit pertama kali di Radar Malang edisi 19 Mei 2016
Sumber gambar:
Book by Sam
Powered by Blogger.

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top