Sunday, July 3, 2016

Mengaktulisasikan Sosok KH. Qosim Bukhori


Oleh: Muhammad Madarik

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pada tahun inipun Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 2 Putukrejo memasuki tahun ajaran baru seperti pesantren-pesantren lain. Hanya saja penanganan dan penataan tata laksana manajemen lebih diintensifkan lebih dari pada periode sebelumnya. Tahun pelajaran 2016/2017 ini diwarnai dengan keterlibatan hampir-hampir semua pihak, mulai dari Dewan Pengasuh, santri senior dan beberapa kalangan yang selama ini lebih aktif di sekolah formal. Kondisi sedemikian menandakan sebuah kekompakan dan kebersamaan yang diperlihatkan oleh semua unsur. Tentu ini merupakan langkah-langkah strategis yang diancang mampu mereaktulisasi proses pendidikan di lingkungan PPRU 2 dalam segala aspek.

Meneguhkan Komitmen
Semua tahu bahwa PPRU 2 (terutama putra) ke depan perlu berbenah dengan usaha lebih kuat.  Pengelolaan dan penanganan dengan mengerahkan segenap kemampuan memang mendesak untuk disegerakan pelaksanaannya. Sebab, menyongsong masa depan yang lebih baik dengan berbagai macam tantangan internal dan eksternal merupakan hal yang harus benar-benar diwujudkan di lingkungan pesantren ini.

Berkaitan dengan konteks pengembangan PPRU 2 ini, maka komitmen segenap unsur, baik Dewan Pengasuh, santri, alumni maupun semua stakeholder, seyogianya diutamakan dan dikokohkan kembali. Tentu komitmen itu diejawantahkan dalam bentuk dukungan dari masing-masing sesuai jenjang dan proporsinya. Oleh sebab itu, semua kalangan harus mempunyai tekad bulat terhadap kesuksesan setiap rencana kegiatan yang dicanangkan. 

Dewan Pengasuh sebagai pihak yang memiliki kuasa dan tanggungjawab penuh terhadap keberadaan pesantren dapat menampakkan dukungannya lewat arahan atau instruksi yang berbasis kebijaksanaan. Di dalam lingkungan PPRU 2, model kepemimpinan sebetulnya sudah dicontohkan oleh pendiri pesantren ini, KH Qosim Bukhori. Sebagaimana banyak diceritakan oleh para alumni yang rata-rata tahu betul corak beliau dalam mengawal para santri, merupakan sosok moderat dan demokratis. Moderat artinya cenderung menyesuaikan perkembangan situasi yang muncul. Demokratis dimaknai sebagai sikap beliau yang seringkali  memposisikan dirinya menjadi orang yang berperilaku; Ing Ngarso Sung Tulodo Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani. Artinya, dalam banyak hal beliau tampil sebagai figur yang mampu menjadi suri tauladan serta bisa menggugah semangat dan dorongan moral. Sebab itulah, beliau dirasakan oleh para santri bukan saja sebagai guru tetapi juga dianggap seperti sahabat dalam makna yang luas. Faktanya, pada satu sisi beliau disegani karena kepribadiannya, namun pada sisi yang lain sosok beliau dijadikan tempat mengadu (baca: curhat) karena caranya berinteraksi yang acap kali mengakrabi.

Sedangkan komitmen bagi santri diandaikan sebagai sikap memompa diri untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki melalui program-program pesantren. Sehingga semua kewajiban yang dipikulkan kepada mereka tidak dinilai sebagai beban, tetapi justeru dianggap kebutuhan buat mengembangkan jati dirinya. Oleh karenanya, motivasi awal para santri menuntut ilmu perlu di tata ulang. Jika mengadopsi teori sebagian ulama berkaitan dengan niat, maka yang harus ditanamkan dalam lubuk mereka tidak lain hanya mencari ridla Tuhan dan menghilangkan kebodohan. Dorongan inilah yang diyakini bakal mampu mendongkrak semangat dan mengikis segala macam rasa malas.

Dalam konteks ini, peran kiai Qosim lebih banyak terlihat ketika menanamkan nilai-nilai dan norma kepada para santri dalam banyak kesempatan, baik secara formal di berbagai proses pembelajaran maupun di kala interaksi secara tidak formal. Seperti seringkali diingat sejumlah alumni bagaimana Yai memberikan dorongan dan motivasi belajar dengan beragam bentuk. Satu waktu, terkadang beliau menganjurkan santri untuk meningkatkan belajar, namun lain kali beliau menyarankan santri memperluas wawasan dengan membiarkan terlibat di organisasi, atau menugaskannya mengikuti sebuah kegiatan. Nasihat-nasihat dan saran beliau begitu sangat terkesan bagi kalangan santri sebagai sebuah pembuka ruang belajar. Hal yang cukup menarik dari apa yang dilakukan beliau seringkali pesan kepada salah satu santri berbeda ucapan beliau kepada santri yang lain. Hal ini seakan peristiwa jawaban Nabi Muhammad SAW yang berbeda antara satu sahabat dengan sahabat yang lain meskipun pertanyaan sama, terulang dalam kasus Yai Qosim kepada santri-santrinya ketika memberikan saran yang tidak sama antara satu santri dengan yang lain.

Komitmen bagi para alumni tak jauh berbeda dengan santri, hanya saja ranah mereka sudah berada di lingkaran masyarakat. Bentuk dukungan yang bisa dilakukan antara lain memposisikan diri mereka sebagai corong yang menyuarakan keberadaan pesantren di tengah-tengah lingkungannya. Keikutsertaan mereka menyebarkan nama pesantren tentu bervariasi sesuai kemampuan dan posisi masing-masing. Hal yang paling mendasar dalam peran alumni adalah menunjukkan jati diri dengan bangga sebagai orang yang pernah menyerap pendidikan di lembaga agama. Alumni yang demikian ini saja sudah dapat dipastikan menjadi promosi tersendiri bagi almamaternya, apalagi kemudian mereka rela menjadi agen informasi dan rekrutmen, maka hasilnya akan lebih membahana.

Yai Qosim sekalipun tidak pernah menuntut para alumninya harus menjadi apa dengan posisi bagaimana. Beliau lebih memasrahkan pengembangan diri para alumni di tengah-tengah masyarakat berproses secara alami sesuai dengan kearifan lokal masing-masing individu. Dari sekian banyak pesan-pesan beliau terhadap para alumni, yang terpokok hanyalah konsistensi terhadap ajaran agama, seperti menjaga shalat dan berakhlak karimah.

Terlebih jika peran serta para alumni diwujudkan dengan kegiatan yang diselenggarakan secara kolektif, pasti hasil yang diharapkan jauh lebih melegakan. Sebetulnya wadah untuk para alumni di lingkungan PPRU 2 sudah terbentuk semenjak Yai Qosim masih hidup. Bahkan serikat itu terbilang mengalami perkembangan memuaskan, baik dalam hal gerakan maupun dalam segi organisatoris. Perkumpulan alumni yang dinamai "Yasru [Yayasan Alumni dan Santri Raudlatul Ulum]" ini telah mampu mengakomodir keuangan alumni dalam pelbagai program dan sudah menata manajemen organisasinya secara rapi. Sayangnya, wahana alumni ini "mati suri" seusai mengalami berbagai benturan dan konflik internal.

Tidak dimaknai sebagai pemakai dan pengguna jasa, stakeholder yang dimaksud disini ialah segenap orang tua santri yang memberikan kepercayaan pesantren. Komitmen bagi mereka dapat digambarkan seluruh keikutsertaan para wali santri di dalam proses pendidikan putra-putranya yang berupa dukungan moral dan finansial.

Dukungan moral bisa diwujudkan dengan selalu menjaga terlenggaranya segala program dan tata aturan yang berlaku di pesantren. Kasus yang seringkali mencuat ialah pengawasan terhadap kegiatan putranya saat di rumah yang dirasa begitu minim. Contoh yang bisa diangkat adalah fenomena santri yang enggan melestarikan pembiasaan-pembiasaan di pesantren disinyalir karena faktor pengawasan orang tua yang melemah. Malah terkadang sikap para wali bertabrakan dengan kebijakan-kebijakan pesantren. Tamsil yang bisa dibuat gambaran antara lain kehendak memamitkan putranya yang cenderung "didesakkan", membuat tata aturan pesantren tercerai-berai.

Tetapi menggeneralisir kasus kepada semua orang tua santri, tentu bukan sikap yang bijak sebab tindakan demikian hanya bersifat personal. Apapun faktnya, ketimpangan ini lebih banyak disebabkan relasi pesantren dan stakeholder yang kurang harmonis. Makanya, kesinambungan komunikasi kedua belah pihak perlu diupayakan semaksimal mungkin agar tidak terjadi persimpangan yang kian menjauhkan keduanya. Melirik kegiatan Yai Qosim yang seringkali melawat ke berbagai daerah dengan misi pokok beliau mendakwahkan dzikir Naqsyabandiyah merupakan salah satu sarana yang produktif mengkomunikasikan kepentingan pesantren kepada stakeholder. Jejak Yai Qosim ini masih sangat relevan untuk dilestarikan guna merekatkan kembali hubungan antara wali santri dan pihak pesantren.

Di atas semua itu, komitmen setiap unsur harus didasari oleh rasa "memiliki" yang benar-benar melekat. Bermodal inilah diharapkan pengembangan pendidikan di lingkungan PPRU 2 yang mampu mengantarkan santri sebagai "insan berpikir dan berzikir" seperti pribadi KH Qosim Bukhori betul-betul menjadi kenyataan.[]

Sumber Gambar:

Thursday, June 23, 2016

Oh Shabrina


Oleh: Muhammad Madarik

Anak kecil ini berlari memasuki halaman rumahnya, lalu bergegas melempar tas sekolah ke kasur di kamarnya. Sedetik kemudian ia masuk ke ruang neneknya yang bersebelahan dengan kamarnya. Sang nenek sedang terbaring sakit terbujur lemah. Gadis yang kini duduk kelas V SD ini menyentuh pipi orang tua itu dengan telapak tangannya.

"Uuh... masih panas," ungkap si cucu dalam hati.

"Kamu nak, sudah datang?" Suara parau terdengar sambil mata cekungnya terus terpejam. Terlihat perempuan tua itu hanya menggeliat serasa ingin membuang jauh-jauh kepenatan di sekujur tubuhnya.

Bocah kecil ini mengambil kain kompres yang sejak tadi pagi saat ditinggalkan ke sekolah masih tetap menempel di dahi neneknya. Alat yang dibuat membantu mendinginkan panas badan itu, ia celupkan dalam baskom berisi air di samping tempat tidur lalu memasang kembali di dekat mata ibunda ayahnya.

"Nek, makan lagi ya! Biar cepat sembuh."

Si nenek cuma menggeleng seraya sesungging senyum kecut menghias di bibirnya. Terkesan sekali senyum itu diumbar sebagai penawar lelah raga yang terus menerus digerogoti sakit sekaligus penghibur buat cucu tercintanya.

Ia memandang wajah keriput di depannya sesaat sebelum beranjak meninggalkan neneknya, berjalan keluar kamar. Shabrina merasa lega melihat neneknya terpejam kembali. Di ruang tengah, anak yang biasa dipanggil dengan sebutan Rina ini menuju kunci yang tergantung di sebelah almari kuno peninggalan kakeknya. Kemudian ia mengambil tumpukan beberapa kunci yang menggelantung dan keluar dari rumah dan bergegas membuka pintu toko yang berada di sebelah kanan depan rumah berkonstruksi adat Jawa itu. Sebuah bangunan toko sederhana hanya berukuran 2x3 m. yang mulai terlihat isinya banyak yang kosong. Seperti biasa seusai sekolah, ia menjaga toko setelah mengurus dan merawat neneknya telah kelar.

Rina duduk di kursi kayu setelah sebelumnya membersihkan seluruh sudut toko dari debu dan membuka pintu depan dan jendela di sebelah samping. Toko ini di bangun ayahnya sekian tahun yang lewat hingga sekarang grafik aset penjualan terus menurun, lebih-lebih sejak neneknya jatuh sakit sebab tidak ada lagi yang mengambil barang di toko agen.

Toko itu memang dibuat oleh ayah Shabrina sebagai solusi buat istrinya agar memiliki kerja sampingan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. Tetapi karena letak rumah keluarga Shabrina berada jauh di pojok kampung, toko itu sepi pembeli. Apalagi rumah Shabrina berposisi di ujung dari rumah-rumah tetangga dengan jalan terusan ke persawahan, sehingga pelanggannya cuma petani yang akan pergi dan pulang dari sawah saja. Hanya saja, buat ibu Shabrina sudah lumayan untuk tambahan pemasukan belanja harian.

***

Shabrina merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia putri sendirian, sedang kedua adik lelaki semua, Nadzif dan Nabit. Adik pertama masih duduk di bangku kelas II SD, sementara kedua baru belajar berjalan.

Ayah mereka seorang pegawai negeri yang ditugaskan di kota kecamatan sebagai pengajar Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setiap kali bertugas, sang bapak mengendarai sepeda motor yang digunakan pulang-pergi antara rumah dan tempat dinas. Tidak jarang kedua adik Shabrina merengek saat ayahnya terlihat mengeluarkan kendaraannya.

Ketika adiknya merajut tak ingin ditinggalkan ayahnya, acapkali Shabrina harus menggantikan ibunya, membujuk adik yang sedang dalam lucu-lucunya itu.

"Rina! Adiknya tolong dihibur itu. Kasihan ibunya lagi repot," perintah nenek suatu waktu sambil duduk-duduk di kursi depan rumah.

Menjengkelkan, tetapi juga menyenangkan.

Rina menemukan tidak terhitung keadaan gembira bersama anggota keluarga. Kala habis maghrib merupakan waktu yang seringkali bertemu seisi rumah. Biasanya ayah sedang makan, setelah menjelang mata hari tenggelam berada di toko yang di bangunnya bersama sang istri. Senyampang ibu masih melayani ayah, Shabrinalah kakak tertua yang seringkali tampil merawat adik-adiknya. Di ruang tengah itu seluruh anggota berkumpul. Suasana begitu hangat terasa, ada gelak tawa sebab si kecil bertingkah lucu, tetapi saat selanjutnya ada suara tangis. Kadang terdapat saling bercerita antara nenek, ayah, ibu dan terkadang Shabrina. Dalam saat demikian itu, bagi Shabrina begitu menyejukkan karena ia bisa curhat tentang sekolah, mata pelajaran, kelakuan teman-temannya dan banyak hal tentang dirinya kepada ayah, ibu dan bahkan neneknya. Banyak petuah, arahan dan petunjuk yang di dapat dari mereka.

Suatu hari keluarga bahagia itu mengadakan acara berlibur ketika masa libur sudah tiba. Sang ayah menggunakan mobil sewaan sebagai alat transportasi mereka. Dengan mempertimbangkan irit dana, ayah Shabrina mengemudikan sendiri tanpa pendamping. Liburan mereka berjalan lancar dengan segala suasana gembira, sebab seluruh keluarga ikut semua kecuali nenek karena alasan menjaga rumah. Namun kebahagiaan yang reguk tidak lama, kecelakaan maut pun terjadi saat mereka pulang. Tabrak lari kendaraan truk mengakibatkan tewas segenap anggota keluarga yang menyisakan Shabrina sebagai satu-satunya korban yang selamat. Entah sebab apa ia hanya lecet dan memar di beberapa tubuhnya.

Keadaan ini menyebabkan Shabrina shock. Kenapa ia ditinggal sendirian? Tidak ada tempat mengadu, tidak keluarga yang diajak untuk curhat. Hilang sudah keceriaan, canda, dan tawa mereka. Lenyap sudah rengekan, kemanjaan, kelucuan dan suara tangis sang adik tersayang. Hidupku kini sendiri... Untunglah masih ada nenek yang menjadi pendamping hidup seorang gadis yatim piatu ini.

***

Tak terasa butiran air mata Shabrina mengalir di pipinya. Shabrina terjaga dari lamunan ke masa lalu yang kelam. Gadis kecil ini terperanjat mengingat sang nenek sudah waktunya makan siang dan minum obat. Shabrina berlari ke dalam rumah dan menengok nenek dengan hati-hati.

"Nek! Nenek!" Perlahan ia menyentuh wanita tua itu.

Betapa kagetnya Shabrina, ternyata sang nenek sudah tidak bergerak lagi. Shabrina menjerit histeris di samping tubuh neneknya, "Nenek! Jangan tinggalkan aku!"


Oh, Shabrina.[]

Sumber Gambar:

Saturday, June 18, 2016

Aula


Oleh: Halimah Garnasih

“Katakan padaku tentang kesia-siaan,” pintasantri putri itu kepada seorang perempuan setengah baya tanpa kerudung yang sudah sebulan ini selalu muncul tiba-tiba dan menghabiskan malam di depan aula. Aula putri yang didominasi warna putih dan coklat. Aula putri yang tampak gagah sekaligus anggun, adem terkadang juga pengap aneh sekaligus mistis.

Perempuan itu terkekeh-kekeh memandang aula putra. Sementara pondok putri telah gelap. Semua khos sudah sepi menyisakan hening yang mengambang.

“Ceritakan kepadaku,” pinta santri putri itu lagi. Sarung coklatnya yang ngelinting di bagian bawah menyentuh latar aula yang abu-abu. Baju panjangdan kerudungnya yang sama-sama berwarna putih telah pudar menjadi kuning mangkak.

Perempuan itu berpindah menatap mata santri di sampingnya. Satu-satunya santri yang nekat mendekat dan berbicara dengannya. Sementara dada santri putri itu sedikit berdesir saat mata perempuan misterius yang dianggap aneh oleh seluruh santri itu mendarat di kedua matanya. Tepat pada kedua pupilnya yang berwarna hitam kecoklat-coklatan.Santri putri itu juga tak tahu mengapa dirinya seberani ini. Entahlah, bermalam-malam dirinya tak bisa tidur. Dan beberapa hari ini dia merasakan perempuan misterius itu menatapnya terus setiap kali dirinya turun dari musholla, melewati ndalem Nyai Maftuhah, melewati khos B. Lalu berjalan lurus ke utara melewati kamar A4 dan masuk ke kamarnya di A1, kamar Al-Bayti.

Apakah dia mengetahui kegelisahanku ini? terka santri putri itu sambil membawa sepiring nasi kost yang baru diambilnya dari ndalem Nyai Ruqoyyah. Santri putri itu memandangi perempuan misterius yang sore hari terkadang tiba-tiba muncul dan duduk-duduk di depan musholla. Musholla putri yang hijau dan teduh sekali.

Perempuan itu terkekeh-kekeh di depan muka santri putri yang rupanya sedang gelisah itu.

“Konon,” suara perempuan misterius itu renyah dan teduh. Santri putri itu terperanjat. Baru kali ini dia mendengar suara dari perempuan yang disangkakan bisu dan gila ini. Terlebih, alangkah tak disangka suara itu begitu mendamaikan jiwanya.

Lalu, mendengarlah santri putri itu sebuah cerita:

Konon, tersebutlah seorang santri yang tenar dengan kepandaian khitobahnya. Santri baru yang namanya langsung mercusuar karena kepandaiannya itu. Yang namanya kerap mampir di bibir-bibir santri yang sedang istirah di kamar, di antara dua santri yang sama-sama tengah menciduk air dari kolam lalu mengguyurkan ke tubuhnya, di antara gerombolan santri yang sengaja ngendon di bawah jemuran sambil petan-petan dengan hanya mengenakan telesan, di WC yang berjajar tujuh dan baunya ngau’dzubillah menyengat hidung tapi terkesan biasa karena sudah kadung biasa, juga di antara para khoddam ndalem yang tengah mengiris bawang di dapur. Dan tentu saja, juga kerap mampir di ruang dengar beberapa cak santri yang yang memiliki akses mudah keluar-masuk gerbang pondok putri.

“Dari kecil, bahkan sebelum masuk SD, dia sudah dilatih oleh kakeknya,” aku Habibah, santri yang sekampung dengan santri tenar itu. Sementara gerombolan santri  lain yang mengitarinya mengangguk-ngangguk, beberapa hanya melongo.

Untuk pertama kalinya Habibah merasa bangga menjadi tetangga santri tenar itu. Ia semakin berbusa-busa menceritakannya. Menjawab semua pertanyaan dari para santri lainnya. Bahkan, tentang suatu hal yang sesungguhnya tidak diketahuinya, Habibah mengarang bebas demi ingin tampak begitu dekat dengan santri tenar itu.

“Ya, semuanya dilatih detil oleh kakeknya. Yang penting itu bukan materi khitobahnya, karena itu bisa kita pelajari dari buku-buku kumpulan khitobah bukan?”

Habibah sengaja diam sebentar, menunggu para santri bertanya serempak kepadanya. Dan betul seperti perkiraannya. Lalu Habibah menjawab dengan senang hati dan tampak meyakinkan, “yang penting adalah tekhnik memegang microvon atau memegang talinya, tekhnik memindahkannya dari tangan kanan ke tangan kirinya, tekhnik menggoyang tubuh, menganggukkan kepala, mengedipkan mata, juga….”sengaja lagi Habibah mengulur kalimatnya.

“Juga apa?” Penasaran gerombolan santri bersamaan. Habibah tersenyum dan melanjutkan pelan, sangat pelan, “melempar senyum…” Gerombolan santri ramai. Saling berargumen ini-itu. Ada pula yang hanya bergumam-gumam. Juga yang diam-diam mencatat betul. Tak sedikit yang nyinyir meledek.

Lalu, malam senin adalah malam yang sangat ditunggu-tunggu para santri putri. Untuk pertama kalinya, mereka akan menyaksikan langsung santri tenar itu menunjukkan performance khitobahnya. Betapa divisi bakat dan seni telah didorong-dorong oleh ratusan santri untuk mengundang santri tenar itu.

Aula putri hening. Para santri yang malam itu tidak mendapat giliran tampil dan hanya menjadi audiance, seperti menahan nafas sebentar saat nama santri tenar itu disebutkan oleh Pembawa Acara. Gila! batin Pembawa Acara menemukan dirinya berdebar-debar bahkan hanya menyebut nama santri tenar itu. Pembawa Acara surut ke belakang. Aula tetap hening. Semua sorot mata dari ratusan santri putri yang mengenakan kerudung putih jatuh ke pintu aula yang wibawa. Tiga detik, lima detik, akhirnya sepasang kaki muncul dari luar. Dengan busana panjang perpaduan warna biru dan merah jambu, seorang perempuan belasan tahun masuk dengan aura yang kuat membias di wajahnya. Membias di tubuhnya. Membias di bibirnya yang penuh pesona. Lalu, aula putri penuh sihir!

Paginya, kamar mandi ramai. Membicarakan kedahsyatan semalam.

“Begitu kenes!” seorang santri menirukan santri tenar saat menggoyangkan wajahnya.

“Ho’oh, suaranya lo… berubah-rubah. Kadang wibawa, kadang manja, kadang tegas, kadang kemendel!” kata yang lain sambil mengguyurkan air ke baju seragamnya yang berwarna krem. Baju seragam Madrasah Diniyahnya.

“Tapi… cantikkan.. suaranya itu lo… apalagi pas diselipin membaca qiro’ah dan nyanyi India. Hem….khitobahnya jadi asyik kan. Gak kaku…” Sahut satunya sambil memainkan kakinya yang dicemplungkan ke dalam kolam.

“Ah, tetap saja. Orangnya gak ramah. Dasar sombong!” Yang lainnya nyinyir. Beberapa santri di ujung sana mengiyakan sambil mengenakan baju, dan memeras telesan.

Benar-benar mercusuar. Penampilannya selalu menyihir. Di muhadloroh khos, muhadloroh orda, muhadloroh haflah akhirissanah, apalagi undangan di luar pesantren. Dan namanya semakin tinggi saja seakan tak terjangkau.

Perempuan misterius itu terkekeh-kekeh.

“Apa yang terjadi selanjutnya? Katakanlah,” santri putri itu semakin tidak mengantuk. Sementara dini hari begitu menggigit.

Sampai datanglah seorang ahli khitobah yang lainnya. Kita kasih nama Atun ya.

Lalu ngekek. Sementara santri putri itu sedang penasaran.

Santri tenar itu merasa terusik. Puncak kepopulerannya merasa tersaingi. Bukan karena lebih bagus, tapi dia merasa kehilangan para fans. Fansnya yang lebih memilih orang yang ahli namun tetap ramah dan rendah hati dengan sesamanya. Teman-temannya semakin menyenanginya.

Perempuan itu terkekeh-kekeh.

Pukulan telak baginya, saat dirinya merasa makhluk alam lain pun lebih menyukai saingannya daripada dirinya. Atun jarang tersadar. Banyak jin yang berebut masuk ke wadagnya. Dari jin bayi, batita, remaja, sampai jin nenek peyot. Tapi ada satu jin yang lebih sering ngendon dan lama keluarnya. Jin itu mengaku bernama Cika.

Para santri sudak kenal baik dengan Cika. Jin yang baik kata mereka. Para santri pun mudah mendeteksi Cika bila sedang masuk ke wadag Atun dari ketawanya yang khas. Khas jin yang kemendel.

Cika pernah membuat olah. Tiga hati tiga malam dia tak mau keluar dari wadag Atun. Saat ditanya kenapa tak mau keluar, “Gak mau. Ada jin jahat jahat, besar, dan hitam yang mau masuk. Cika kasihan sama Atun,” jawabnya manja. Padahal, satu hari lagi, Atun harus tampil khitobah di muhadloroh. Jadilah divisi bakat dan seni melatih Cika berkhitobah. Menggemblengnya habis-habisan. Dan berhasil! Cika tampil mempesona. Suaranya melengking tinggi. Wajahnya lebih bersinar daripada biasanya. Tekhnik-tekhnik khitobah yang dikeluarkannya membuat terkejut para pelatih. “Itu tekhnik adaptasi sendiri, kami tidak pernah mengajarkannya. Itu keren. Dia melebihi dari apa yang kita latih,” jawab sang pelatih pada wartawan pers pondok putri.

Malam itu, tentu saja para santri berbondong-bondong datang ingin menyaksikan penampilan seorang jin. Eh, kok seorang. Seejin yang akan berkhitobah. Malam itu pujian dilayangkan kepada Atun tiada habis-habis. Esoknya, berita itu menjadi Had News buletin pondok putridan tak habis-habis dibincangkan selama dua pekan. Dan tentu saja, si santri yang merasa dulu tenar, panas pada dadanya. Membara pada hatinya.

Perempuan misteriusitu terkekeh-kekeh agak lama.

Dia sungguh marah dan tidak bisa menerimanya. Semua jalan ditempuhnya untuk merebut kembali hati para fansnya, termasuk berpura-pura kejinan. Tapi tak lama, karena modus kepura-puraannya akhirnya ketahuan. Waktu dia pura-pura pingsan dan para santri berama-ramai menggotongnya, seorang Neng berumur empat tahun yang sedang bermain di taman pondok tiba-tiba menggelitik kakinya. Dan dia tertawa.

Perempuan misterius itu terkekeh-kekeh lagi. Semakin ngekek.

Puncaknya adalah peristiwa sore itu. Sore yang surub jelang maghrib. Pondok putri gempar. Atun, berteriak kencang. Memang, sudah tidak heran Atun berteriak-teriak. Para santri sudah mafhum, keadaan seperti itu adalah keadaan disaat jin akan masuk. Entah lewat jempol kaki atau ujung-ujung jari tangan. Tapi teriakan atun yang ini lain. Teriakanny panjang dan menyayat hati yang mendengarkannya.

Sulifah, seorang santri senior tiba-tiba menunjuk ke kamar pojok. Gemrudukpara santri ke sana. Mereka melihat si santri yang dulu tenar, sedang duduk bersila, tangannya menyatu di depan dada, mulutnya ndemimil, dan tubuhnya gemetar. Kholifah, keluar dari kamarnya menyadari banyak santri sudah bergerombol di luar kamarnya. “Anu, katanya keris yang dari Sunan Ampel untuk Lila hilang,” Kholifah menjelaskan keadaan yang menimpa santri yang dulu tenar. “Dan sekarang dia sedang berusaha merebutnya,” tambah Kholifah lagi cemas dan hanya bisa melihat semacam semedi yang dilakukan Lila. Sementara sore itu pondok putri memang kacau. Semakin banyak santri yang tiba-tiba pingsan lalu berteriak-teriak.

“Merebut kembali? Keris Sunan Ampel?” Tanya Khuzaimah, santri senior di kamar Atun kepada Kholifah.

Kholifah mengangguk meyakinkan dengan wajah taku-takut.

“Lila mengaku mendapat keris dari Sunan Ampel sebagai restu dia berkhitobah. Berdakwah kepada manusia,” tiba-tiba Habibah menyeruak di antara gerombolan santri. Keluar dari kamarnya dimana Lila masih terus melakukan semacam semedi. Para santri hanya semakin bingung, ada yang tidak percaya, ada juga yang diam-diam menikmati peristiwa ini. Karena aneh dan unik.

“Siapa yang mengambil keris Lila?” tanya Khuzaimah cepat.

Kholifah dan Habibah saling pandang. Lalu pelan keluar satu nama dari mulut mereka berdua, “Atun.”

Di kamar ujung yang lain, Atun berteriak-teriak semakin tinggi dan ganjil. Khuzaimah merasa tak enak. Banyak santri yang tak percaya. Surub di pondok putri semakin mencekam. Bahkan, sampai azan Cak Ibe (panggilan akrab Ibrahim oleh santri putri) berkumandang, Lila masih saja bergetar dalam semedinya, dan teriakan atun semakin panjang. Dan semakin terdengar ganjil…

“Lalu apa yang terjadi?” sergah santri putri itu dibawa buncah penasaran. “Apakah benar Lila mendapatkan keris dari Sunan Ampel? Dan Atun yang mengambilnya?” santri putri itu begitu teramat penasaran.

Sementara perempuan misterius terkekeh-kekeh meninggalkan santri putri itu sendiri di pelataran aula putri. Sampai di depan khos B, pada jeda kekehannya, santri itu mendengar perempuan misterius itu berkata: ITU TIDAK PENTING. Lalu terkekeh lagi.[] 

# Malam Jum’at yang ganjil
                                                                        Pada Kereta Tawangalun Menuju Banyuwangi
06/06/2016. 06.00
 # Sumber gambar:

Saturday, June 11, 2016

Aku Tak Mau Mati Kafir Lagi


Oleh: Muhammad Madarik

Aku jengah hidup dengan dia. Mochamad kembali melayang jauh di pembaringan beralaskan karpet lusuh. Huuh,,, ia melenguh memendam kebosanan dalam bingkai hidup yang mulai retak. Kebersamaannya untuk bahagia, tetapi bagi Mochamad hanya dapat dimaknai sebagai pelepas hasrat belaka.

Anak ini dipanggil Mas oleh karibnya, menghisap dalam-dalam batang rokok yang hanya tinggal beberapa kali hisapan. Lamunan yang kian jauh menghinggap di antara sekian misteri hidupnya. Tak tahu akan bagaimana, benar-benar sesak terasa bagi dirinya kendati begitu lapang hidup ini bagi mereka. Senyum bahagia selalu menghias bibir mereka, tanpa keluh jalani takdirnya. Sementara baginya, ruang hidup ini sebegitu sempit seakan Tuhan sengaja menjerat dengan tali kehendak-Nya di leher pemuda ini.

"Mochamad... Mochamad..." Sebutnya dalam-dalam di antara angan pikiran yang terus saja melayang. Perjaka ini beranjak kian menua, sekeriput air muka yang tampak tak mampu lagi menahan usia. Bantal usang ia apit di selangkangan dan sejurus kemudian terguling ke kiri dan ke kanan. Hembusan nafasnya yang keras dimaksudkan menyumbat rasa galau yang tak lagi bisa diukur. Huuh....

***

Medsos-lah yang telah menghantar namamu di lubuk ini. Walaupun sosok diriku hanya diperlakukan tirani sebuah pengkhianatan tak berhingga sakitnya. Heeh... Kembali Mochamad menahan dan menghembuskan nafas panjang. Namamu selembut salju, menyejukkan dan membuat hampir semua tersenyum. Bayangkan, kau dipanggil Citra. Khayal sang pemuda mengingat sebuah nama yang hadir di pelupuk mata, saat alam fikirannya melayang. Begitu memikat. Citra oh Citra. Indah nian nama itu. Nyaman nan tenteram bagi tiap pendengarnya.

Tetapi selaksa pesona nama itu hanyalah tertinggal di pucuk duri bunga melati yang tajam. Melukai dan menyisakan perih yang sulit untuk diobati. Bagi Mochamad, kenangan indah bersamanya cuma jejak-jejak berdarah yang tercecer. Dalam bingkai hidupnya, hanya lukisan bunga Kamboja di tengah-tengah pekuburan tua. Di sampingnya, menyemai siksa batin seakan butiran pelor yang menancap di tubuh ini dan akhirnya menyesakkan dada saja.

Citra, oh Citra... Di dekatmu tak lagi ada ruang untuk bernafas. Rangkaian cinta selalu saja kau anyam dengan benang basah yang lapuk. Susunan kerangka sejuta rasa semudah rapuhnya bangunan yang dirancangnya sendiri. Citra, begitu goyah kehidupan berdekatan denganmu, sehingga angin sepoi-sepoi tak mampu dihalangi. Dalam sekian waktu di pusaran hidupmu membuat aku tak pernah paham apa arti kata komitmen. Uuh... Kini dada Mochamad terasa penuh beban. Sesak.

Aku benar-benar telah tewas. Sang Mochamad bergumul dalam angannya. Bau darah di sekujur tubuh ini menyebarkan anyir kematian yang terasa dekat. Degup jantung perlahan melambat detik demi detik. Citra, aku tak pernah takuti nyawa tercabut sekalipun oleh pedang musuh. Tetapi maut pasti kuanggap monster bila disusuri dengan kepala yang berpaling dari-Nya. Kaulah yang menjadikan jiwa ini terperosok di jurang kedurhakaan. Sungguh, bagiku kini firman Tuhan dan sabda rasul-Nya merupakan simbol agama yang terasa kering mutiara. Aku tampil sebagai lelaki berandal di mana ruhani tak pernah lagi tersirami. Panggilan Tuhan nyaris tak terdengar oleh hingar-bingar duniawi, angin surgapun hampir-hampir tidak menyapu diri ini akibat gilasan nafsu dan syahwat. 

Nyata benar keberadaanmu membutakan wujud Sang Esa di mata batinku. Kehadiranmu betul-betul mengaburkan makna persaksian antara Tuhan dan aku sebagai hamba-Nya. Akal sehat kian bertambah picik tatkala kau mewarnai sejarah hidupku. Kaulah biangnya! Sekarang, dalam satu hembusan separuh nafaspun aku tak bersedih dengan perpisahan, namun aku menangis sepanjang hayat sebuah pertemuan.

***

Lagi-lagi medsos yang sudah melubangi lorong ta'aruf antara aku dengannya. Wajahmu tak dipenuhi kecantikan, namun parasmu mencerminkan pantulan keteduhan. Kembali lamunan sang Mochamad mengangkasa, hanya hamparan sajadah yang baru saja ia tinggalkan masih basah oleh tetesan air mata. Ditemani secangkir kopi panas buatan sendiri dan sebungkus kretek, raut wajah pemuda ganteng ini begitu berseri. Seutas senyum kecil yang tersungging dalam oval mukanya menambah tampilan anak ini betul-betul tampan.

Jika bukan karena engkau, ooh.. Alfionita, mungkin aku akan tetap terjerembab dalam lubang kemaksiatan. Di sana, harga diri kulacurkan sebegitu rendah tanpa tawar hanya semata-mata demi kesenangan belaka. Ooh... Aku sebetulnya tak ingin membuka lembar kelam itu lagi, sebab dalam pandanganku potret masa-masa lalu merupakan gambar buram yang tak pantas diungkit kembali.
Alfionita... Oh, Alfionita. Kau hadir di tengah lubuk hati ini telah kukosongkan. Aku sadar, kedatangamu di sisiku ini bukanlah sebuah garis hidup yang ditorehkan tangan kita, tetapi aku meyakini inilah coretan takdir yang digoreskan Tuhan dalam lingkar hidup kita. Pertemuan ini hanyalah tatapan dua insan di persimpangan jalan setelah sekian kurun antara kita terpisahkan. Masa demi masa bergulir tanpa terasa, perjumpaan waktu silam kini bersemi lebih dari sekedar persahabatan. Alfionita... Oh, Alfionita.

Bibir Mochamad kembali merekah, saat merenungi sepotong wajah keibuan yang melintas di alam pikirannya. Tangan kekarnya merogoh sebatang rokok sesudah membasahi tenggorokan dengan kopi di sampingnya. Lagi-lagi putra Borneo ini terbang bersama khayalannya.

Alfionita... Oh, Alfionita. Saat dulu perasaanku disiksa oleh pergumulan di dalam dunia gelap, kendati gadis cantik itu tak berjarak dariku. Dan, dekapan gadis itulah yang menyebabkan aku tersungkur di kubangan gelimang syetan. Alfionita... Percayalah ! Tubuhku, ketika itu, berlumuran dosa. Tetapi kini sesaat setelah namamu terlukis di relung nurani ini, jasadku serasa dibasuh oleh mata air keinsyafan. Yah, kaulah seseorang yang datang menginspirasi sejatiku, sehingga aku sanggup menginsyafi hakikat kehidupan ini. Sekarang aku mulai memahami siapa diri ini, hingga setapak demi setapak aku mengerti siapa Tuhanku.

Sangat terasa setiap nafas tak kan pernah terbeli, setiap gerak tak kan pernah tergantikan, setiap detik tak kan pernah kembali, dan setiap apa saja walau senoktah dalam gulir hidupku tak pernah mampu untuk ditukar, sekalipun dengan sekumpulan alam semesta. Alfionita... Oh, Alfionita. Di mataku, eksismu bagai telaga kautsar-nya Nabi Ahmad yang suci.

Alfionita... Oh, Alfionita. Mataku yang mulai terbelalak pada kebesaran Sang Khalik, kupastikan berkat tunas-tunas kesadaran di ujung fitriku yang kau sirami dengan embun kesabaranmu. Diri ini yang beranjak ke pintu tobat, kupercaya sebab mutiara hikmah yang kau susun dalam rangkaian petuah yang terus saja menyejukkan.

Alfionita... Hanya namamu yang terpatri di hatiku, waktu tangan ini tengadah ke langit. Cuma panggilanmu yang kusebut, disaat ku bermunajat di tengah kesunyian malam. Aku ingin kau menjadi sapu tangan, saat aku butuh sesuatu untuk mengusap butiran yang mengalir di pipi ini. Aku berharap kau tampil sebagai lentera, tatkala aku dalam belantara kebimbangan. Aku mengimpikan kau menjelma seperti pundak, ketika ragaku goyah dan tak lagi kukuh.

Aku memang tidak akan memperkosa keperkasaan Tuhan, tetapi aku kan tetap mengemis di depan pintu kemurahan-Nya semoga kita dilahirkan seakan Adam dan Hawa. Aku memang tak kan menuntut kewenangan-Nya, namun aku bakal terus meratap di bawah kaki kearifan-Nya mudah-mudahan kita diciptakan seperti Romeo dan Juliet.

Kini Mochamad bergegas dari lamunannya. Ia berdiri dengan tegak keluar dari ruangannya seraya tersenyum ceria menatap alam yang cerah. Namun di tengah angin sepoi-sepoi, khayalan sang Mochamad masih tersisa.

Alfionita... Oh, Alfionita. Jagalah aku, agar aku tak mati kafir untuk yang kedua kali.[]

sumber gambar:
Powered by Blogger.

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top