Saturday, August 20, 2016

Ilusi


Oleh: Muhammad Madarik

Di teras langgar desa berkumpul beberapa anak-anak kecil seusai salat Isya berjamaah yang diimami Abah Pud, seorang kiai kampung yang bernama lengkap Haji Mahfud Shobri, lelaki sepuh berusia hampir menginjak 80-an. Sang ustadz yang sabar mengajarkan Alquran setiap bakda salat Magrib sampai Isya. Karena malam ini merupakan malam keramat, kegiatan sebelum salat Isya diisi dengan salawatan diba' seperti tradisi masyarakat di mushalla-mushalla tetangga.

Murid-murid Abah Pud itu duduk membentuk lingkaran sebagaimana biasa. Mereka bercengkrama membicarakan berbagai hal, mulai dari soal guru mereka yang seringkali menjewer, membentak, memukul dampar sampai persoalan ngerasani anak gadis yang acapkali menjadi buah bibir di antara mereka.

"Hei, malam ini Jumat kan?" Kata Mat Jupri membuka perbincangan. Memang, Mat Jupri merupakan anak yang paling tua di antara murid-murid Abah. Dia pandai memancing suasana berubah sesuai kehendak muatan hikayat yang diceritakan. Ia lihai membawa kawan-kawannya ke dalam keadaan riang menyenangkan atau takut mencekam.

"Ya, kenapa?" Timpal Edi Santoso.

"Biasanya arwah nenek kita datang. Konon katanya mereka menjenguk ke rumahnya hanya sekadar ingin melihat keluarganya yang masih hidup," sambung anak yang lebih dikenal dengan sapaan Mamat itu.

"Hiii... Sudahlah, jangan ngomong-ngomong yang begituan teman!" Sela Badrul.

"Huuu...." Serempak suara teman-temannya. Badrul yang berbadan bongsor memang penakut.

"Dulu, ada seorang wanita tua di sebuah kampung. Dia hidup sebatang kara. Anaknya meninggal semenjak usia balita karena terkena penyakit parah sehingga nyawanya tak tertolong, sedangkan suaminya kecelakaan sampai harus menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Dia menjanda hingga menua. Menunggu rumah setelah sekian lama tidak lagi memiliki harta benda. Satu-satunya yang menjadi haknya cuma rumah tua yang berada di pojok kampung. Setiap hari ia mencari kayu bakar untuk kemudian dijajakan di pinggir jalan pasar sebuah kecamatan. Namanya saja menjual seutas ranting, terkadang dibeli kadang pula harus dipikul kembali ke rumahnya." Mamat menghela nafas seakan ikut menanggung getir nasib perempuan papa itu.

"Terus gimana Mat?" Tanya Edi.

"Sang nenek lama tak terlihat di pinggir jalan pasar seperti ia lakukan dalam mencari nafkah. Beberapa orang yang biasa membeli barang jualannya itu saling bertanya. Tetapi satu sama yang lain merasa tidak tahu-menahu soal sang nenek."

"Kemudian sebagian mereka menyepakati untuk menjenguk sekadar ingin memaklumi kabarnya. Berangkatlah beberapa orang ke kediaman perempuan tua itu. Sesampai di halaman rumah, mereka mulai ragu. Kira-kira orang yang dicari ada di rumah atau keluar. Mereka semakin tanda tanya ketika memperhatikan kondisi rumah yang terlihat tak terawat dengan dedaunan yang berserakan dan nyata tidak pernah dibersihkan. Mereka semakin tercengang tatkala tangga demi tangga dan teras begitu kotor. Daun pintu yang sedikit menganga membuat syak wasangka mereka kian berkecamuk."

Belum sempat Mat Jupri melanjutkan kisahnya, tampak Abah Pud keluar dari mushalla seraya menutup pintu setelah sejak tadi berada di mihrab.

"Hach, belum pulang anak-anak?"

"Belum!" Jawab mereka nyaris serentak.

"Terus bagaimana selanjutnya Mat?" Tanya Edi setelah Abah Pud tak terlihat lagi bayangan tubuhnya.

"Akhirnya mereka masuk sesaat setelah saling berpandangan. Di ruang depan tak ditemukan seseorang yang dimaksud. Hanya ada kursi kayu jati bersulam rotan, mejanya juga terdiri dari bahan yang sama. Di samping tataan kursi terdapat lemari bupet yang tak lagi terisi perhiasan. Kaca-kacanya banyak yang pecah dan retak. Menuju ruang berikutnya terdapat pintu besar dengan pintu berukir juga. Secara perlahan, mereka memasuki ruang tengah. Cukup gelap di tempat, hanya diterangi oleh cahaya dari pintu depan. Perasaan mereka semakin berkecamuk sebab berhembus bau kian menyengat. Bau itu seperti aroma bangkai yang sudah lama membusuk. Perempuan di antara mereka mulai menghentikan langkahnya. Rasa takut dan merinding menyergap sekujur tubuh beberapa wanita itu, tetapi untunglah laki-laki di antara mereka merupakan pria-pria pemberani. Mereka menyelediki sumber hembusan tak sedap itu. Dan...."

Mat Jupri menghela nafas panjang sebelum meneruskan ceritanya, sementara teman-teman di sekeliling anak yang lihai bercerita itu menunggu kelanjutan kisah yang masih menyisakan tanda tanya besar.

"Dan ... setelah salah satu mereka menyinari dengan sorot lampu lewat HP, ternyata sesosok wanita tua itu tergeletak di lantai. Terlihat duduk bersandar di tembok dengan kaki selonjor ke depan. Tetapi yang membuat kaget, ternyata nenek itu sudah tidak bernyawa lagi. Mata cekungnya membelalak, rambutnya telah bercampur uban terurai dan menjulur agak ke bahu, kedua tangannya teruntai ke samping tubuh kurusnya. Mulutnya menganga. Entah bagaimana peristiwa ajalnya tercabut, kepala orang tua itu mendongak. Hal yang membuat semua yang ada di ruangan itu miris, ternyata tubuh kriput itu dikerubungi semut merah."

"Sebagian perempuan bergegas ke ruang depan, tetapi yang laki-laki segera mengambil tindakan merawat dan menyelesaikan jenazah supaya secepatnya dikebumikan."

"Terus gimana Mat?" Tanya Kholis yang semenjak awal hanya menyimak.

"Ya, seluruhnya termasuk para tetangga berdatangan mengurus mayat itu hingga selesai. Acara ‘selamatan kematian’ dilaksanakan dengan menggunakan biaya hasil swadaya. Selesai sudah acara itu, tetapi karena tidak ada ahli waris lagi, maka kediaman tersebut menjadi rumah tua yang tak berpenghuni. Oleh karena, rumah itu sampai sekarang terlihat mencekam."

Badrul, si anak penakut ini sejak tadi cuma mendengarkan Mat Jupri sambil menopang tangannya ke daun telinga agar tidak kentara bahwa ia sedang menyumbat kupingnya. Ia duduk merapat di antara Kadir dan Nur Hasan untuk menghilangkan rasa takut yang menyelimuti perasaannya. Kini jam menunjuk ke arah 21:13 WIB, Mat Jupri beranjak menutup pintu, jendela mushalla dan mematikan lampu-lampunya, menandakan bincang-bincang mereka telah berakhir. Hanya tiga orang yang searah dengan Badrul, selebihnya berada di arah yang berbeda-beda. Anak-anak itu mulai berhamburan keluar halaman mushalla, sementara dada Badrul sesak oleh bayangan nenek yang mati mengenaskan. Walau ia ikut melangkah mengikuti jejak teman sebayanya, tetapi kecamuk pikirannya terus dihantui bayang-bayang sang nenek. Lebih-lebih tatkala akan masuk gang menuju rumahnya harus sendirian, sedangkan dua sahabatnya terus saja melewati gang itu. Badrul mulai dihinggapi bayang-bayang yang kian mencemaskan setelah mengingat akan menelusuri gang ke arah rumahnya sendirian.

Badrul pernah tahu rumah tua itu, ia kadang lewat jalan yang melintasi rumah dalam cerita Mat Jupri itu. Semua anak-anak tentu pernah melihat rumah itu, sebab lokasinya hanya berada di desa tetangga dekat desa mereka. Namun selama ini mereka hanya mendengar tempat tersebut sebagai rumah angker belaka.

Kini, Badrul merasa gelisah saat menelusuri gang menuju rumahnya dengan gontai. Lampu yang menerangi ruas jalan hanya terdiri dari beberapa buah dengan jarak yang cukup berjauhan, itupun masih dihalangi dedaunan dan dahan-dahan dari beberapa pepohonan sehingga badan jalan tak begitu jelas terlihat. Kondisi gang yang sepi menambah tegang si anak mata wayang ini. Ia percepat langkah-langkahnya, tetapi serasa semakin berat diayunkan. Merasa seakan-akan diikuti seseorang di belakang tubuhnya, menjadikan bulu kuduknya berdiri.

Memasuki jalan gang memang agak sepi. Kiri-kanan hanya ditumbuhi pohon-pohon, dan beberapa lahan kosong masih berupa pekarangan yang cuma berisi tanaman singkong, pepaya, pisang atau berbagai tumbuhan sayur. Badrul mulai lega saat rumah pertama sudah tampak di mata.

"Heeech..." Badrul menghela nafas panjang.

Belum sampai di depan rumah itu, Badrul merasa kecewa sebab tak seorangpun terlihat. Pintu tertutup, dan hanya lampu luar yang membantu menyinari jalan. Entah kenapa, badrul tak memiliki keberanian menolehkan kepalanya ke arah rumah itu. Kian dekat, detak jantung yang dirasakan Badrul semakin kencang. Apakah ini nyata? Ia benar-benar melihat seseorang sedang duduk di teras rumah itu. Rambut sebahu, berbaju kurung dengan warna putih yang mulai lusuh.

Angin malam yang berhembus, di tambah bunyi jangkrik menyempurnakan pemandangan malam ini. Malam ini memang malam Jumat, malam yang dikeramatkan orang-orang kampung. Begitu senyap terasa gang ini.

Semakin dekat, kian jelas rupa orang itu. Apa yang terurai dalam cerita Mat Jupri tentang detail nenek itu sungguh nyata. Mulutnya menganga, bercak sisa darah menempel di bagian bibirnya, bulatan matanya tampak tenggelam dalam kelopak yang mencekung. Wajahnya putih memudar, jelas-jelas pucat tanpa darah mengalir. Di antara kisaran mata menghitam semakin kelabu hingga pusat mata. Tubuhnya terlihat membungkuk, mengesankan ia sangat renta. Tangan pucat yang kian memperlihatkan kerut-kerut telapak tangannya memegang kedua lututnya. Tetapi tangan yang tampak menua, masih ditumbuhi kuku yang runcing.

Orang itu duduk tanpa suara. Badrul semakin tenggelam dalam ketakutan. Kedua kakinya ia buat melangkah lebih cepat, tetapi nenek berjubah itu seakan mengejar. Ia semakin dekat, sepertinya tangannya akan menjamah bahunya.

"Huuuuuch..." Dengus Badrul begitu lega ia mula memasuki pagar besi rumahnya. Rasa takut ini hilang, ketika jasad perempuan tua itu terlihat berdiri di dekat ujung pagar rumahnya. Segera ia membuka pintu dan masuk. Entah apa yang terjadi dengan tidurnya nanti.


"Heeech..." Kembali Badrul mendengus di ranjang.[]

Sumber Gambar:

Thursday, August 11, 2016

Solusi Pendidikan Melalui Inbox


Oleh: Muhammad Ilyas

Beberapa hari yang lalu saya disibukkan dengan hal yang sangat membosankan. Bagaimana tidak saya dipaksa untuk membuat seabrek administrasi guru, setiap hari saya bergelut dengan bagaimana membuat RPP (Rencana Proses Pembelajaran) yang bagus, membuat silabus,  mempersiapkan Promes (Program Semester), Prota (Program Tahunan), agenda harian guru selama setahun, jadual harian, jadual libur nasional, membuat soal-soal yang sudah terstandar sekaligus dengan kisi-kisinya, membuat ranah kognisinya bloom yang terdiri dari C1, C2, C3, C4, C5, serta C6 dan banyak lagi administrasi yang harus diselesaikan. Maklum sekolah yang saya tempati sedang bersiap-siap untuk akreditasi. Mungkin sekolah ini tetap ingin mempertahankan gengsinya sebagai sekolah terfavorit di lingkungan Kota Gudeg. Maklumlah, di era ini sekolah yang bagus adalah sekolah yang terakreditasi A, sekolah yang mempunyai gedung yang megah, dan tentunya mempunyai kelengkapan administrasi jika tidak memenuhi kriteria di atas, maka sekolah tersebut tidak akan laku.

Begitulah pendidikan, semua serba terstandar. Ah, lupakan saja masalah pendidikan. Pendidikan  memang menjadi masalah klise yang jalan di tempat. Toh sekolah yang bagus dinilai berdasarkan dokumen yang mereka punya. Persoalan sudah selesai ketika kita menerapkan apa yang telah menjadi titah. Sabda pandita mentri….

Lah. membahas pendidikan merupakan hal tak begitu penting lagi. Masih lebih penting masalah politik, penguasa, artis, karena banyak yang beranggapan jalan itu yang bisa membawa kepada jalan perubahan lebih baik. Pendidikan hanyalah sebagai beban negara yang harus diciutkan. Bagaimana tidak, UU telah mengamanatkan minimal anggaran untuk pendidikan sebesar 20%. Wah, ini jelas membuang-buang biaya saja. Belum tentu semua akan selesai hanya dengan cara memperbaiki pendidikan. Hal ini terbukti yang digadang-gadang menerapkan sistem pendidikan terbaik adalah negara-negara Skandinavia. Pendidikan di sana sudah diakui seluruh dunia bahwa menerapkan sistem yang sangat inovatif, memanusiakan dan seabrek pujian. Yah mungkin tak bakalan habis pujian yang diberikan sampai tujuh turunan.

Sulit memang untuk didefinisikan. Sang legenda terkenal, mas Aristoles, mendifinisikan pedagogi itu sebagai ngemong. Lah itu kan dulu. Masak kita melihat masa lalu. Kan kalau zamannnya mas Aris beda dengan sekarang. Dulu enggak ada Google, enggak ada Youtobe, enggak ada acara Inbox, Dahsyat, dan seabreg acara televisi yang layak. Sekarang anak sekolah belajar enggak melulu di bangku sekolah, mendengarkan guru, lalu pulang. Sekarang zamannya adalah belajar di luar ruangan, belajar berinteraksi dengan masyarakat luas, agar tahu kehidupan masyarakat itu seperti apa. Nah, alasan inilah yang membuat sekolah di Trenggalek diliburkan hanya untuk memobilisasi acara Inbox. Keren sekali! Yang diajarkan oleh sekolah di Skandinavia adalah belajar dengan masyarakat. Berhubungan langsung dengan masyarakat. Memobilisasi terhadap acara tersebut merupakan metode pembelajaran terbaru, yang disebut dengan jreng-jreng model education. Tentulah ini nantinya menjadi modal untuk menyumbangkan teori yang sejajar dengan konsep teori Barat seperti, Licona, John Dewey, (bukan John Rame-rame), Bloom, AS Neil, atau selevel Poulo Freire.

Pembelajaran dengan musik di acara Inbox, menurut penelitian dari Arumi Harum (bukan Bachin, soalnya kalau bachin bahasa Jawanya “bau”), menunjukan meningkatkan kecerdasan yang sangat luar biasa, bahkan bisa mengalahkan kecerdasan Einsten. Tak terbayang bagaimana orang Trenggalek cerdas semua karena inovasi dari pemangku kebijakan. Yah, lagi-lagi politik. Maaf, saudara, bukan bermaksud untuk mempolitisasi atau untuk menggiring hal tersebut ke ranah politis (baca: kepentingan penguasa), melainkan kita fokus ke ranah yang lebih rendah lagi, yaitu memperbaiki moral generasi muda.

Tapi sulit sekali jika yang kita bahas di sini hanya spaneng terhadap masalah pendidikan. Mbok yo dibumbui dengan humor politik, biar agak sedap sedikit. Yah, maklumlah isu yang paling disukai itu ketika bersinggungan dengan hal-hal politis. Yah, walaupun Mas Pram pernah bersabda dalam kitabnya kalau seseorang tidak akan lepas dari  politik, bahkan berdua dengan orang lain itu merupakan politik (berdua?). Yah, mungkin politik bagaikan dewa. Dewa agung yang bisa mengubah apapun dengan abracadabra. Yah, pendidikan sebagai tumbal dan digunakan oleh para politisi busuk demi apalah-apalah.

Saya fokuskan lagi terhadap masalah Inbox yang sudah menyumbangkan para intelektual yang nantinya akan berkiprah di dunia international. Akademi Inbox, mungkin itulah yang terbesit dalam benak artis papan lapuk (maksudku papan atas). Artis-artis tersebut menjadi daya pikat tersendiri, menjadi figuran, dan menjadi panutan generasi sekarang. Banyak generasi yang tersugesti oleh kehebatan artis. Bagaimana bisa generasi muda tidak terkesima oleh artis papan Jakarta, lhawong duta Pancasila yang menjadi dasar negara kita saja dari artis. Menurut sang duta, lambang Indonesia adalah bebek nungging. Yah itulah realitas. Itu tak lain adalah—mengutip salah satu tulisan di Amanah RU—humor ala begundal yang tak tahu tata krama. Iyalah, masa lambang negara digituin. Lhawong Bung Hatta saja pernah bersumpah, beliau tidak akan menikah sebelum Indonesia Merdeka. Ngeri sedap! Beliau tidak main-main dengan nasib bangsanya. Tapi walaupun begitu, para pendiri bangsa tidak pernah menjadi duta Pancasila. Hal itu hanya menjadi penghargaan yang besar terhadap artis Inbox. Jadi sangat wajarlah jika sekolah diliburkan hanya demi mobilisasi acara tersebut.

Acara ini juga sebagai solusi kebangsaan yang kian hari kian tak tentu. Yah, daripada mendengarkan dagelannya Senayan, lebih baik mendengarkan dagelan acara Inbox dan Dahsyat. Toh mereka jujur menjelaskan keadaan bangsanya, mereka jujur kalau keadaan bangsa ini sangat kritis, selera humor orang kan berbeda. Siapa yang berhak untuk menghakimi selera orang? Anggaplah ikhtilaf. Mungkin samalah dengan aliran Realisme Magisnya  masa kini. Atau acara tersebut disebut sebagai Magisme Realis? Wah, tak tahulah itu. Pokoknya yang terpenting pahlawan untuk selalu dikenang itu adalah artis Inbox dan Dahsyat.

Mobilisasi siswa untuk mengikuti acara Inbox bukanlah salah. Hal ini dikarenakan para siswa merasa begitu dekat dengan artis-artis bintang Inbox tersebut. Mereka lebih merasa nyaman dan merasa cita-citanya tercapai jika bertemu dengan idolanya. Mereka tak kenal siapa Pak Syahrir, Pak Tan, Pak Cokro, Pak Karno, Pak Hatta. Mereka merasa asing dengan nama-nama tersebut, mereka lebih peduli terhadap apa yang dipakai artis Inbox. Sedang apa, makan apa, dan hal-hal yang sangat penting untuk keperluan artis Inbox. Menurut saya itu wajar, karena duta Pancasila ada di serentetan artis Inbox tersebut.


Kita berharaplah kepada acara Inbox ini agar bisa mengubah dunia, mengubah aspek ekonomi yang sangat membebani rakyat. Dan rakyat pun senang dengan apa yang mereka perbuat. Yah, mungkin ini adalah titik jenuh masyarakat kita terhadap dagelan yang dibuat oleh para badut-badut senayan, atau badut-badut di tempat lain. Jadi sangat maklum dan sangat lumrah jika memperbaiki pendidikan, memperbaiki bangsa dengan karakter Inbox dan Dahsyat.[]

Sumber gambar:

Sunday, July 24, 2016

Ganjaran: Proyeksi Desa Santri


Oleh: Muhammad Madarik

Pendahuluan.

Desa Ganjaran merupakan salah satu wilayah pedesaan di wilayah Kecamatan Gondanglegi Malang. Desa itu terletak arah tenggara dari kota kecamatan yang berjarak sekitar enam kilo meter. Saat melewati desa Putat Lor, jalan masuk desa Ganjaran hanya diwarnai kebun tebu yang melambai-lambai tak terkesan terdapat sebuah kehidupan ramai. Tetapi ketika memasuki desa, setiap pendatang akan terkesima menyaksikan jumlah penduduk yang memadati hampir seluruh sudut desa.

Di desa ini bermunculan lembaga pendidikan Islam yang bertebaran dari segenap ujung desa. Diyakini bahwa keberadaan para penuntut ilmu dari luar desa Ganjaran membuat keramaian wilayah desa ini kian bertambah. Hal ini dibuktikan fakta bahwa kondisi desa begitu terasa sepi diasumsikan karena bertepatan dengan waktu liburan sekolah atau pesantren.

Tulisan singkat ini ditujukan untuk meneropong berbagai kemungkinan cita-cita sebagian pihak agar desa Ganjaran menjelma sebagai desa santri, baik dari sisi kondisi, potensi maupun kekurangan. Tentu ulasan ini hanya sekian noktah dari sebegitu banyak sub tema dan pokok wacana yang perlu perbincangkan, didiskusikan dan presentasi lebih dalam dan matang berkaitan dengan harapan supaya desa Ganjaran benar-benar tercipta menjadi "kampung santri".

Menakar Potensi.

Perkembangan agama Islam di desa Ganjaran benar-benar mencengangkan bila dipandang dari sudut pertumbuhan lembaga pendidikan dan tempat-tempat ibadah.

Pesantren-pesantren di desa ini bisa dijabarkan sebagai berikut:

[01] PP Raudlatul Ulum I (PPRU I)
[02] PP Jarlaok (Al-Mubarok)
[03] PP As-Senamiyah (PPRU II)
[04] PP Al-Azhar
[05] PP Mansyaul Ulum
[06] PP Hikmatul Hasanah
[07] PP Tahfidzil Qur'an
[08] PP Tarbiyatul Banat
[09] PP Nurul Hikmah
[10] PP Nurul Ulum (PPRU III)
[11] PP Miftahul Ulum (PPRU IV)
[12] PP Al-Bukhori (PPRU V)
[13] PP Al-Fudloli
[14] PP Hidayatul Mubtadi'in (PPRU VI)
[15] PP Zainul Ulum
[16] PP Al-Falah

Sedangkan masjid di Ganjaran ada:
(01) Masjid Zainal Alim
(02) Masjid Asy-Syafi'iyah
(03) Masjid Al-Bukhori

Tahun ini (2016) masjid bertambah satu lagi yang dipandegani Kiai Wahidi Zainullah melalui proses musalla yang diancang tempat ibadah Jumat.

Semarak Islam semakin terlihat berbinar dengan ditumbuh-kembangkannya musalla yang menjamur di berbagai sudut kampung di desa Ganjaran. Hampir-hampir tidak ada ruas jalan dan gang tanpa dibangun tempat ibadah umat muslim itu. Suara azan, takbir, tahmid dan salawat serta alunan "pujian-pujian" yang saling bersahutan menampakkan jumlah musalla cukup menggembirakan.

Tidak kalah dengan pesantren dan tempat ibadah, lembaga pendidikan formal (sekolah, madrasah dan diniyah) juga bertebaran di desa ini. Uraiannya dapat dipilah sebagai berikut:

Sekolah Tingkat Pra TK dan Taman Kanak-kanak:
(01) PAUD Al-Falah
(02) PAUD Mansyaul Ulum
(03) PAUD Al-Hidayah [dalam proses pengajuan]
(04) RA Raudlatul Ulum
(05) RA Mansyaul Ulum
(06) RA Al-Falah
(07) RA Al-Hidayah

Di tingkat ini terdapat beberapa lembaga pendidikan Al-Qur'an:
(01) TPQ Dauq (Dirasah Awaliyah fi Ulumil Qur'an) di PP Miftahul Ulum (PPRU IV)
(02) TPQ Al-Qoffal
(03) TKQ-TPQ Durrotul Athfal
(04) TPQ Al-Hidayah

Sekolah Tingkat Dasar:
(01) MI Raudlatul Ulum
(02) MI Mansyaul Ulum
(03) MI Zainul Ulum
(04) SD Plus NU Al-Fudloli
(05) SDI Al-Falah
Sekolah tingkat dasar ini ditambah dengan adanya SDN Ganjaran.

Sekolah Tingkat Menengah Pertama
(01) MTs Raudlatul Ulum putra-putri
(02) MTs Mansyaul Ulum
(03) MTs Zainul Ulum
(04) SMP Pesantren Raudlatul Ulum
(05) SMP Plus NU Al-Fudloli
(06) SMP Al-Falah

Sekolah Tingkat Menengah Atas
(01) MA Raudlatul Ulum putra-putri
(02) MA Mansyaul Ulum
(03) MA Zainul Ulum
(04) SMA NU Al-Fudloli
(05) SMK Al-Khozini
(06) SMK Al-Falah
(07) SMK NU Al-Fudloli

Selain sekolah dengan segala jenjangnya, di desa Ganjaran juga tersedia Madrasah Diniyah (Madin) dengan segala tingkatannya. Mayoritas keberadaan Madin ini berada di dalam pengelolaan (include) pesantren, tetapi ada pula yang terbangun di naungan yayasan di luar pesantren. Uraian Madin bisa dijabarkan:
(01) Madin Raudlatul Ulum
(02) Madin Mansyaul Ulum
(03) Madin Miftahul Ulum (PPRU IV) (04) Madin Durrotul Athfal
(05) Madin NU Al-Fudloli
(06) Madin Al-Hidayah
(07) Madin As-Sanamiyah (PPRU II)
(08) Madin Raudlatul Mubtadi’in (PPRU VI)
Daftar Madrasah  Diniyah ini mungkin belum mencakup beberapa yang belum teridentifikasi oleh penulis.

Desa Ganjaran benar-benar tampil sebagai pedesaan orang-orang taat beragama. Kondisi demikian ini ditandai dengan wujudnya jam'iyah tahlil dan salawat di kampung-kampung yang bertebaran dan diikuti oleh masyarakat di hampir per-RT. Komunitas yang dikenal dengan "perkumpulan tahlilan" atau "perkumpulan salawatan" itu diselenggarakan secara berkala, baik mingguan, per setengah bulan, maupun pertahun yang ditempatkan secara bergilir antar anggota sesuai kesepakatan atau permintaan tuan rumah yang sedang mempunyai hajat. Belum lagi, adanya tahlil kematian yang diadakan sampai tujuh hari, empat puluh hari atau haul kian meningkatkan riuh kegiatan ritual di tengah-tengah masyarakat.

Di samping itu, desa Ganjaran juga memilki tiga majelis salawat bersifat kolosal:
(01) Majelis Shalawat Hubbun Nabi
(02) Majelis Shalawat Al-Banjari
(03) Majelis Tobatan JTQ
(04) Majelis Shalawat Nurul Mustofa

Mengkalkulasi Berbagai Indikator.

Prospek desa Ganjaran menjadi desa santri memang terbuka banyak kemungkinan. Salah satu indikasi ke arah sana dapat disimpulkan dari apa yang disebutkan oleh Alm. KH. Qosim Bukhori dalam sebuah kesempatan dengan mengatakan bahwa desa Ganjaran merupakan mercusuar ilmu pengetahuan. Menurut Pengasuh PP. Raudlatul Ulum 2 Putukrejo Gondanglegi Malang itu, hal itu dapat ditilik dari adanya para ulama besar yang berdomisili di desa ini. Sebut saja di masa awal terdapat KH. Zainal Alim (kiai Tombu) dan KH. Bukhori Ismail (kiai Masjid). Kemudian lahir di masa berikutnya Habib Muhammad Al-Jufri (Habib Mo'), KH. Yahya Syabrawi, KH. Zainullah Bukhori, KH. Senamah, KH. As'ad, KH. Qoffal Syabrawi, KH. Nasir dan para tokoh yang lain. Sejarah para alim terus berlanjut para periode KH. Kholili Nawawi, KH. Khozin Yahya, KH. Mursyid Alifi, KH. Abdul Hannan As'ad, KH. Ismail Bukhori, KH. Fudloli Bukhori dan lain sebagainya.

Kini, tongkat estafet perjuangan dakwah Islam di desa Ganjaran tetap diperteguh oleh para penerus masing-masing pengasuh pesantren di bawah bimbingan KH. Mujtaba Bukhori, selaku sesepuh di desa ini. Generasi penerus para tokoh ulama zaman terdahulu semakin kuat saat muncul kader-kader muda yang memiliki pengetahuan luas dan kualifikasi latar belakang pendidikan yang beragam. Kondisi demikian menggambarkan bahwa sisi SDM yang berada di desa Ganjaran benar-benar komprehensif dari segala aspek.

Melihat geliat keagamaan masyarakat Ganjaran yang tercermin dari berbagai kegiatan religi dan pusat-pusat pendidikan merupakan indikator yang menunjukkan bahwa keberadaan desa ini patut diwacanakan sebagai "desa santri" di wilayah Malang Selatan.

Kendatipun desa Ganjaran menjadi lumbung kegiatan dan lembaga Islam, tetapi eksistensi lembaga pendidikan Islam di desa ini belum nampak tumbuhnya sistem pendidikan terintegrasi (integrated educational system) antar pesantren dan lembaga pendidikan Islam sehingga terkesan arah pendidikan masing-masing masih sangat parsial sesuai kebijakan pengelolanya. Hubungan antar pesantren dan lembaga pendidikan Islam masih bersifat historis belaka. Tema besar mengusung desa ini menjadi sumbu kehidupan pesantren belum tercakup dalam program jangka panjang.

Apalagi secara kultural selama ini eksistensi pesantren dan lembaga pendidikan Islam menegasikan terbentuknya kelas-kelas baru dalam strata sosial sehingga tampak sekali muncul dunia lain yang begitu sangat eksklusif di tengah tatanan kehidupan masyarakat desa Ganjaran. Aktivitas kalangan pesantren dan lembaga pendidikan Islam merupakan potret dari interaksi yang terpisah antara dunia pesantren dan lembaga pendidikan Islam dengan masyarakat. Kepedulian terhadap anak putus sekolah, kaum dluafa', orang-orang papa dan pihak di bawah garis kemiskinan belum terjamah secara sempurna oleh pesantren dan lembaga pendidikan Islam. Mereka begitu asyik dengan dunianya sendiri. Walaupun pesantren dan lembaga pendidikan Islam menoleh kepada persoalan-persoalan kemasyarakatan, masih bersifat parsial, belum dirumuskan secara baku bagi pesantren dan lembaga pendidikan Islam untuk kemudian bersama-sama melakukan gerakan pemberdayaan. Lebih-lebih bila rumusan pemberdayaan yang dibidani pesantren dan lembaga pendidikan Islam dikolaborasikan dengan program desa bersama Kepala Desa dan aparatnya, maka impian desa Ganjaran diproyeksikan sebagai "desa santri" bukan tidak mungkin menjadi kenyataan.

Penutup

Di luar potensi, kelemahan dan indikasi-indikasi yang di miliki desa Ganjaran, mewacanakan desa ini untuk diancang sebagai "desa santri" di daerah Malang Selatan pantas untuk mendapatkan perhatian semua pihak.


Meskipun butuh eksplorasi mendalam karena ragam indikasi desa Ganjaran menuju "desa santri" dalam tulisan ini hanyalah sekelumit dari sekian banyak yang belum tersingkap, tetapi data-data di atas sudah cukup dijadikan pijakan awal menggali lebih luas tentang desa ini.[]

Sumber Gambar:

Thursday, July 7, 2016

Sekelumit Karakteristik Bahasa Arab


Oleh: Muhammad Madarik

MUKADDIMAH
Disadari ataupun tidak, orang-orang non Arab (‘ajamî) secara umum menganggap bahasa Arab sebagai bahasa yang sulit dipahami dan terkesan rumit dibanding bahasa lainnya. Padahal sebetulnya semua bahasa di dunia ini memiliki tingkat kesulitan dan kemudahan masing-masing, tergantung ciri khas bahasa itu sendiri, baik dari segi fonologi, morfologi, sintaksis maupun semantik.

Tidak jauh berbeda, kesan sulit bahasa Arab masih melekat dalam diri pelajar Indonesia. Kesan tersebut dimaklumi, sebab sistem kebahasaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab memang tidak sama. Hal mendasar dari kedua bahasa itu ialah perbedaan ras dan rumpun. Bahasa Arab berasal dari rumpun bahasa Semit (As-Samiyah), sedangkan asal bahasa Indonesia rumpun Melayu (Austronesia).

Namun sebenarnya, bukan hanya persoalan-persoalan kebahasaan yang menyebabkan kecenderungan masyarakat terhadap eksistensi bahasa Arab menurun dibanding bahasa Inggris, tetapi lebih jauh dari itu secara umum tren masyarakat dunia menjatuhkan pilihannya pada bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Walaupun pada hakikatnya dinamika bahasa Arab lebih dinamis, universal dan memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dipunyai bahasa lain, termasuk bahasa Inggris.

Lewat tulisan singkat ini, diimpikan agar stigma bahwa bahasa Arab memiliki sudut kebahasaan yang lebih rumit dibanding bahasa lain bisa terkuak.

FUNGSI DAN KARAKTERISTIK
Memahami bahasa Arab seharusnya dilacak secara komprehensif, tetapi menelaah dimensi kekhasannya sudah cukup mengungkap betapa bahasa Arab memang dipilih Tuhan berperan mewakili firman-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran:

)إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ(
[QS. 12:02]

Setidaknya mengenal fungsi dan karakter pada bahasa Arab dipandang merupakan langkah awal yang bisa  menuntun seseorang menemukan sekian banyak rahasia di balik bahasa kitab suci dalam agama Islam itu.

1) Fungsi Bahasa arab
Bahasa Arab seperti fungsi bahasa yang lain merupakan lambang bunyi yang berguna sebagai salah satu alat komunikasi. Bahasa Arab dinilai memunyai kaitan erat dengan agama Islam, dikarenakan Alquran diturunkan dalam bentuk bahasa Arab, sehingga secara tidak langsung melibatkan tradisi bangsa Arab sebagai landasan (basis) Islam.

2) Karakteristik Bahasa arab
Setiap bahasa pasti memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda-beda sesuai budaya masyarakat tempat bahasa itu tumbuh. Begitu pula bahasa Arab memunyai sisi khusus yang tidak terdapat dalam bahasa lain.

Bahasa Arab memiliki karakteristik yang terbilang unik dan universal. dikatakan unik karena bahasa Arab berciri khas yang membedakan dengan bahasa lain. Disebut universal karena pada bahasa Arab tersimpan nilai-nilai yang sama dengan bahasa lain.

Karakteristik dalam bahasa Arab dapat diuraikan sebagai berikut:

(a) Bahasa Arab memiliki ragam yang meliputi:
> Ragam sosialek yaitu ragam bahasa yang menunjukkan stratifikasi sosial-ekonomi penuturnya. Contoh: Kata انت; disebutkan untuk kata ganti kedua yang sederajat. Kalimat انتم; digunakan untuk kata ganti kedua yang lebih mulia.

> Ragam geografis yaitu ragam yang menunjukkan dialek berbeda akibat letak daerah satu dengan wilayah yang lain (لهجة فردية).

(b) Bahasa Arab dapat diekspresikan secara lisan ataupun tulisan.

(c) Terdapat kehadiran individu yang sangat terasa dalam setiap ungkapan kata kerja. Sisi individu begitu tampak pada kata ganti dan berbagai bentuk verba secara mentalistik melalui struktur kata dan kalimat. Misalnya kata اقرأ [aqra'u] berarti kehadiran aku, sedangkan kata تقرأ [taqra'u] mencerminkan kamu (laki-laki), atau kata يقرأ [yaqra'u] yang dimakanai dia (laki-laki).

Hal ini berbeda dengan bahasa Indonesia yang membutuhkan kata secara utuh untuk menghadirkan individu seseorang. Contoh: Aku membaca, kamu membaca atau dia membaca.

(d) Keutamaan makna dalam bahasa Arab yang tampak sekali juga mementingkan unsur arti dari kata perkata disamping memperhatikan setiap tuturan. Oleh karena itu, dalam bahasa Arab ditemukan tak terbilang bentuk, struktur dan pola yang menunjukkan makna, sifat dan keadaan. Contoh: pola dari kata فعلان [fa'lân] mengindikasikan pada bergerak dan kacau, seperti kata هيجان [haijân] yang bermakna "gejolak". Contoh lain: pola dari kata فعل [fa‘‘ala] yang menunjukkan arti perulangan. Misalnya kata حرك [harraka] yang padanan dalam bahasa Indonesia di antaranya berulang; menggerak-gerakkan.

(e) Keberadaan i'râb mempertinggi kualitas kebahasaan bagi bahasa Arab. I'rab dalam bahasa Arab dinilai sebagai hal urgen. I'rab memuat kaidah-kaidah tanda baca dan perubahan-perubahan kedudukan sebuah kalimat. Ketepatan bacaan suatu teks Arab tergantung seberapa penguasaan i'râb-nya. Kesalahan meng-i'râb akan berdampak pada makna. Contoh:

) أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهٍ(
[QS. 10:03]

Jika huruf "lam" dibaca kasrah pada kata ورسوله [wa rasûlih], maka akan berarti "Allah terlepas - tanggungjawab - dari orang-orang musyrik dan rasul-Nya". Imam Ad-Du’alî membantah pemaknaan semacam ini.

Sementara bahasa yang tidak mengenal i'râb hanya mengandalkan isyarat-isyarat linguistik dan gabungan kata atau hubungan antara frase dan klausa. Contoh: Ulfa menyayangi anak-anaknya.

Bila dibandingkan susunan kalimat dalam bahasa Arab yang terasa memiliki nilai seni tersendiri pada setiap dinamika di dalam i'râb, pemaknaan contoh kalimat di atas begitu hambar sebab hanya berlandas pada gabungan kata atau hubungan antara frase dan klausa belaka.

(f) Kekayaan kosa kata bahasa Arab yang sudah dikenal oleh para ahli bahasa terutama terkait dengan konsep budaya dan kehidupan harian orang-orang Arab. Contoh:

Jika haus, maka menggunakan ungkapan العطش [al-‘athasy].

Jika lebih haus, maka menggunakan ungkapan الظماء [al-dzamâ'].

Jika lebih kuat, maka menggunakan ungkapan الصداء [al-shadâ'].

Jika lebih dahsyat, maka menggunakan ungkapan الأوام [al-awam].

Sedangkan ujaran berkaitan dengan derajat atau jenjang kualitas dalam bahasa Indonesia biasanya menggunakan kata bantu sarana yang menunjukkan perbandingan. Contoh: haus, sangat haus, lebih haus lagi.

(g) Kekayaan kosa kata dalam bahasa Arab tidak hanya terbatas pada kalimat atau kata belaka, tetapi termasuk huruf-huruf dalam bahasa Arab juga memiliki makna yang lebih dari satu. Contoh huruf "mîm":

Bermakna batas awal: خرجت من القرية (aku datang dari desa).

Bermakna sebagian: أنفقت من الدراهم (aku ingatkan sebagian dirham).

Bermakna penjelasan: لي ثوب من حرير (aku punya baju sutra).

Bermakna alasan: نام هلال من الجوع (Hilal tidur karena lapar).

Bermakna perbedaan: عرفنا الحق من الباطل (kita tahu kebenaran dari kerusakan).

(h) Masih dalam kekayaan kosa kata bahasa Arab, terdapat sistem pengambilan suatu kata dari kata yang lain dengan tetap dalam makna yang sama atau dikenal istilah isytiqâq. Contoh:

Kata فتح [fataha] yang berarti bermakna telah membuka.

Kata يفتح [yaftahu] yang berarti bermakna sedang/akan membuka.

Kata افتح [iftah] yang berarti bermakna bukalah.

Kata فاتح [fâtih] yang berarti bermakna pembuka.

Kata مفتوح [maftûh] yang berarti bermakna yang dibuka.

Dalam bahasa Arab, makna dasar yang sama dari satu akar kata memunculkan makna-makna sesuai adaptasi situasional. Sedangkan dalam bahasa Indonesia masih membutuhkan beberapa kata lain untuk menemukan padanan kata Arabnya. Contoh: مفتوح [maftûh] artinya "yang dibuka".

(i) Terdapat semacam derivasi kalimat, yaitu gabungan dua kata atau lebih yang mencerminkan singkatan dari sekumpulan kata yang tak berkait secara morfologis tetapi berhubungan secara filosofis. Contoh:

Kata بسملة [basmalah], merupakan singkatan dari "Bismillahirrahmanirrahim".

Kata  حمدلة [hamdalah] merupakan singkatan dari "Alhamdulillah".

Kata دمعز [dama‘azza] merupakan singkatan dari "Adama Allah izzak".

Kata صلعم [shal‘am] di luar perbedaan pendapat para ulama, kata ini merupakan singkatan dari "Shalallah alaihi wasallam".

Termasuk dalam bagian ini, ialah integrasi dua kata. Yang dimaksud adalah ungkapan dua kata dengan makna berbeda dalam bentuk "dua" (تثنية) secara morfologis dan menjadi istilah baku dalam bahasa Arab secara kultural.

Ungkapan yang terambil dari salah satu kata yang terintegrasi. Contoh:

Kata الأبوان [al-abawân] yang berarti ayah dan ibu.

Kata القمران [al-qomarân] yang berarti matahari dan bulan.

Kata العمران [al-‘umarân] yang berarti Abu Bakar dan Umar ibn Khattab.

Ungkapan yang terambil dari kata lain yang terkesan tidak identik. Contoh:

Kata الثقلان [ats-tsaqalân] yang berarti jin dan manusia.

Kata الجدبدان [al-jadîdân] yang berarti siang dan malam.

Derivasi dan integrasi kata dalam bahasa Arab cukup sulit ditemukan cakupan kata dalam bahasa Indonesia. Bahasa di luar Arab hanya mampu melayani padanan kata dalam bentuk terjamahannya. Selebihnya tidak mampu dipadankan.

PENUTUP
Pembelajaran bahasa Arab bagi sebagian besar orang, di dalam lembaga pendidikan Islam sekalipun, memang dihadapkan pada problematika yang cukup berat karena dibebani imej yang menggambarkan seluk beluk kerumitan-kerumitan dalam bahasa Alquran itu.
Tetapi dengan mengenal dan memahami kekhasan bahasa Arab yang tidak terdapat dalam bahasa lain, memungkin menelaahnya lebih diminati. Semoga.[]

RUJUKAN
(1) Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Bandung, Rosdakarya. 2011.
(2) Syihabuddin, Penerjemahan Arab Indonesia (Teori dan Praktek), Bandung, Humaniora. 2005.
(3) http://natalinadc.blogspot.co.id/jenis-jenis-bahasa.html?m= (kala akses, 04/07/2016).
(4) https://endonesa.wordpress.com/bahasan-bahasa/frase-klausa-dan-kalimat/ (kala akses, 02/07/2016).
(5) http://www.en-wikipedia.org (kala akses, 02/07/2016).
Powered by Blogger.

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top