Wednesday, May 18, 2016

Renungan Bulan Sya'ban


Oleh: Muhammad Zamzami

Malam itu saya nongkrong bareng teman-teman di salah satu kedai kopi yang terletak di kota Jogja, salah satu tempat tongkrongan favorit anak-anak mahasiswa di sana, Kopas Coffee. Suasana yang ramai dengan hiasan lampu yang agak remang-remang mewarnai kenikmatan ngopi dan mengobrol kami. Areanya yang sangat strategis menjadi lahan yang tepat bagi pemiliknya untuk membuka usaha, karena memang peminatnya yang banyak dari kalangan mahasiswa di kota istimewa ini.

Namun bukan itu inti dari tulisan ini. Saya kira sudah banyak sekali tulisan-tulisan yang mengupas secara tuntas tentang keistimewaan kedai ini layaknya keistimewaan kota yang terkenal dengan sebutan kota pelajar tersebut. Ada hal menarik yang bisa kita ambil pelajaran khususnya bagi saya pribadi. Nah, sebelumnya mari kita seruput dulu kopinya sebelum melanjutkan menyimak tulisan ini.

Saat itu, ketika kami berempat sedang menenangkan suasana dan sibuk dengan pekerjaan tangan masing-masing (alias sibuk dengan gawai masing-masing), dan ketika saya membuka akun Facebook, saya temukan sebuah postingan dari salah satu saudara sepupu saya yang kini menjadi seorang tokoh agama di kota Surabaya. Beliau mosting tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban beserta dalil-dalilnya.

Dari beberapa hadis yang beliau bagikankan, ada satu yang artinya adalah sebagai berikut:

"Sesungguhnya Allah melihat hamba-hambanya di malam Nishfu Sya’ban, maka Allah memberikan ampunan kepada semua makhluk-Nya, kecuali orang-orang yang menyekutukan Allah dan orang-orang yang menebar kebencian” (HR Ibnu Majah dari Abu Musa)
Nah, dari yang saya tulis tebal di hadis tersebut, ada hal yang sukses mengercitkan dahi saya sampai-sampai salah satu teman saya mengagetkan saya dengan pukulan ringan di pundak bareng dengan ucapan, “Hayo, nyapo kui kok ketok mikir barang!” Saya balas hanya dengan senyum sembari berkata, “Hehe… Ora, om. Iki lo ono postingan seng apik soal Nishfu Sya’ban. Tapi jarke wae wes. Raurus.” Dan akhirnya mata kami kembali ke  gawai masing-masing. Nah, Dalam benak saya bertanya-tanya kenapa orang-orang yang saling membenci, dalam hadis di atas, dibahasakan dengan kata محاشن, atau bahkan orang yang bermusuhan nasibnya sama dengan orang-orang yang menyekutukan Tuhan? Lalu tanpa pikir panjang, saya ajukan pertanyaan itu di kolom komentar.

Tak lama kemudian gawai saya berbunyi nada notifikasi, segera saja saya buka notifikasinya dengan sedikit sentuhan lembut ke area notifikasi. Setelah saya seret ke bawah, saya baca balasan beliau, lalu saya melihat di sana belau hanya menuliskan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban yang bunyinya demikian:

عن أبي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال "تعرض أعمال الناس في كل جمعة مرتين: يوم الاثنين ويوم الخميس، فيغفر لكل مؤمن إلا عبدا بينه وبين أخيه شحناء، فيقال: أتركوا هذين حتى يفيئا" رواه ابن حبان.

Lalu beliau menambahkan dengan kata-katanya yang khas banget: “agar saling memaafkan Gus”. Lalu saya balas kembali dengan ucapan terima kasih yang kemudian diberi tanda suka oleh beliau.

Dari balasan beliau tersebut, logika saya bangkit berusaha meraih suatu kesimpulan bahwa Tuhan tidak akan mengampuni dosa seorang hamba terhadap-Nya selama dalam hatinya masih menyimpan rasa benci, memusuhi atau hal-hal negatif yang lain dengan saudaranya, alias Haqqullah akan menjadi bermasalah birokrasinya jika masih ada masalah birokratis dalam Haqqul Adami. Wah, jadi ingat sistem perkuliahan yang berlaku di kampus, bahwa mahasiswa tidak dapat mengambil mata kuliah keagamaan jika belum lulus dari ma’had.

Dari sini, barangkali dapat kita petik sebuah pelajaran untuk diri kita agar kita dapat saling memaafkan dan bisa sadar untuk mengambil langkah yang bijaksana agar tidak mudah membenci dan bahkan memusuhi saudara-saudara dan sahabat-sahabat kita, atau bahkan orang lain, meski permasalahan dan perbedaan tak dapat dihindari selalu mewarnai kehidupan kita. Bukankah setiap orang pasti memiliki arah pikirannya masing-masing dan tidak dapat kita salahkan begitu saja sesuai keinginan dan kepentingan kita sendiri atau kepentingan kolektif yang sifatnya merugikan yang lain? Bukankah kita sebagai manusia diperintahkan agar lita’ârafû (saling memahami) dan mencari jalan sempit penyelesaian untuk memecahkan permasalahan tanpa harus saling membenci toh?

Yah, mungkin sebelum saya akhiri tulisan ini, ada baiknya jika saya sebagai penulis meminta maaf kepada para pembaca sekalian dan siapa tahu dengan saling memaafkan kita bisa terhindar dari klaim Tuhan kalau kita termasuk dari dua golongan dalam hadis di atas yang tidak mendapat ampunan di malam Nishfu Sya’ban, amin.[]

sumber gambar:

Tuesday, May 10, 2016

Seandainya Rangga Menikah Dengan Gadis Desa di AADC 2


Oleh: Irham Thoriq

Di tengah hingar bingar film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2, kita mungkin lupa membiji dua hal. Kenapa film ini kembali dibuat setelah 14 tahun film pertama berlalu? Dan kenapa Rangga ingin kembali kepada Cinta setelah sekian lama berpisah?

Pertanyaan pertama mungkin bisa dijawab mudah saja oleh penggarap film yakni karena di sinilah hukum bisnis berlaku. Film pertama yang sukses, pada film kedua tentu kesuksesan sudah menanti, entah seperti apa kualitas film kedua. Mungkin alasan ini jugalah yang membuat Habiburrahman El Shirazy mengeluarkan novel Ayat-Ayat Cinta 2, setelah novel pertamanya sukses di pasaran.

Bagi genarasi 1990-an kebawah, AADC 2 memang seolah memanggil-manggil kenangan yang mengendap 14 tahun lamanya. Ketika film ini memanggil kenangan yang mengendap itu, dengan mudah kita tergugah serta bernostalgia. Hingga akhirnya, AADC 2 memecahkan rekor dan film ini kini bersaing dengan film Holywood Civil War.

Nah, untuk menjawab pertanyaan kedua ini kita harus sedikit berimajinasi karena Rangga dan Cinta adalah tokoh rekaan. Cerita ini tidak diambil dari kisah heroik sepasang pemuda, tidak pula diambil dari kisah negeri seribu satu malam yang penuh dengan keajaiban.

Mari kita berandai-andai Rangga dan Cinta tidak pernah bertemu lagi. Dan menurut saya banyak alasan untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Dalam film AADC 2, Rangga digambarkan sebagai pemuda sukses yang menjadi pemilik sebuah kafe di New York, Amerika Serikat. Tentu mendirikan cafe di New York butuh modal yang besar, bukan? Apalagi jika dibandingkan mendirikan cafe di Zimbabwe atau di Madagaskar.

Sedangkan Cinta pada awal-awal cerita AADC 2 sudah bertunangan dengan pengusaha muda yang tajir. Di sinilah sebenarnya kisah Cinta hampir mirip dengan kehidupan asli pemerannya Dian Sastrowardoyo. Pada kehidupan nyata, Dian Sastro mempunyai suami pengusaha muda tajir.

Sebenarnya, agar film ini mendekati dengan kenyataan, Cinta baiknya menikah dengan pemuda tajir itu. Tidak malah menyusul Rangga ke New York, mereka lalu balikan dan berciuman di sebuah taman.

Lalu Rangga sama siapa? Dengan uang yang melimpah di New York, sebenarnya mudah saja bagi Rangga mencari paras perempuan yang sama manisnya dan aduhainya dengan Cinta. Dia bisa berkenalan dengan bule yang menyeruput kopi di kafenya, jalan-jalan menikmati sego angkringan di New York, lalu jadian. Dengan demikian, Rangga bisa melakukan hal lebih dengan apa yang dilakukan dengan Cinta selama ini yakni mereka berdua hanya bisa berciuman.

Atau kalau tidak terbiasa dengan perempuan berkulit putih langsat, Rangga bisa memilih gadis desa di ujung Jawa Tengah yang berkulit sawo matang. Dengan uang yang melimpah, tentu akan sulit sekali gadis desa itu menolak Rangga.

Tapi ini film yang ditunggu penggemarnya 14 tahun, masa ceritanya  memilukan?

Pertanyaan ini biar saja dijawab oleh penggarap film. Tapi, mungkin karena alasan ini jugalah kisah ini berakhir dengan happy ending. Menurut saya karena Happy Ending inilah yang membuat AADC 2 kalah heroik dengan AADC pertama. Ketika saya melihat AADC pertama saat masih SMP, saya tiba-tiba ingin segera SMA. Sedangkan ketika baru-baru ini kembali melihat AADC, saya malah ingin kembali SMA. Tapi, ketika sudah melihat AADC-2, saya tidak ingin menjadi tua sebagaimana Dian Sastro dan Nicholas Saputra (Rangga) yang kini sudah berumur. Perasaan subjektif inilah yang membuat saya menilai kalau AADC pertama lebih bagus dari AADC-2.

Selanjutnya, jika boleh mereka-reka lagi kenapa dalam AADC-2 Rangga begitu ngebet balikan sama Cinta dan kenapa Cinta begitu mudahnya luluh?  Menurut saya karena Rangga sudah lama jomblo.
Pada suatu scane di AADC 2, ketika Cinta bertanya apakah Rangga selama berpisah dengan Cinta pernah pacaran. ”Masa selama itu tidak pernah pacaran,” kata Cinta bertanya. Wajah Ragga tiba-tiba nanar, dan dia menjawab pernah pacaran tapi sudah putus dua tahun lalu.

Nahlo, sebelum Rangga memutuskan terbang dari New York ke Jakarta lalu Jogjakarta untuk menemui Cinta dan Ibunya, Rangga sudah jomblo dua tahun. Saya malah menebak-nebak kalau selama dua tahun itulah sebenarnya Rangga mengalami masa-masa galau.

Rangga galau karena setelah putus dengan pacar terakhirnya, dia menembaki banyak bule tapi celakanya Rangga ditolak terus. Dia juga ingin balikan kepada mantan pacar terakhirnya, tapi apa daya si pacar ternyata sudah menikah dengan bule yang lebih perkasa dari Rangga.

Hingga pada akhirnya Rangga menggunakan line, mungkin sebelumnya dia pakai Whatsapp. Dan di line dia bertemu dengan nama Cinta, dan setelah dilihat foto profilenya, ternyata Cinta yang sudah berpisah dengannya bertahun-tahun. Hanya saja, wajah Cinta kali ini lebih putih, dan tidak ada keriputan meski Rangga sudah tidak bertemu empat belas tahun lamanya.

Karena kegelisan jomblo selama dua tahun inilah lantas Rangga menambahkan Cinta lalu berkomunikasi, bertemu secara tidak sengaja disebuah pameran di Jogjakarta, jalan seharian penuh, dan berciuma di akhir pertemuan itu. Lalu, setelah beberapa hari Cinta menyusul Rangga ke New York, dan lagi-lagi mereka berciuman. Ah, kisah asmara memang sesederhana itu ternyata.

Di tengah kesederhanaan cerita yang ada di AADC, sebenarnya Rangga ingin memberi pelajaran kepada para jomblo kalau jalan selalu terbuka jika kita punya kemauan. Meski kemauannya itu adalah balikan dengan mantan yang sudah bertahun-tahun dilupakan. Andai saja, Cinta tidak dengan mudahnya menerima Rangga dan terus menyueki Rangga, ada baiknya judul film ini berubah menjadi: Ada Apa dengan Jomblo? Dan yang paling pas berduet dengan Rangga adalah orang-orang jomblo disekitar kita.[]


Penulis tinggal di www.irhamthoriq.com
Sumber gambar:

Thursday, May 5, 2016

Menyederhanakan Gramatika Arab


Oleh: Muhammd Madarik

Penulis: Khoiron ibn Bdr. H. Busri Abdul Halim
Judul: Tashil al-Mubtadi' fi Fahm al-Ilm al-Nafi' bi al-Ilm al-Nahw
Penerbit: Kirisufi, Jogjakarta
Tahun Terbit dan Cetakan: 2016, 1
Tebal Buku: 185 Halaman

Sesuai dengan namanya, buku ini menyimpan banyak hal positif bagi pembacanya, di antaranya memudahkan para pelajar pemula memahami Ilmu Nahwu. Bahasa Arab dengan seluruh disiplinnya, termasuk Ilmu Nahwu itu sendiri, merupakan sesuatu yang dibutuhkan setiap orang (dan di dalamnya kalangan santri). Tetapi ketidakmampuan menyelami ilmu-ilmu yang bermutiara bahasa Arab bagi para pemula, seperti diakui oleh penulis buku ini, membuat enggan untuk berusaha. Bahkan, klaim salah satu santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Ganjaran Gondanglegi Malang itu, tidak sedikit dari mereka berputus asa.

Latar inilah yang melandasi buku ini disusun. Tentu faktor keterpanggilan lubuk penulisnya, menjadikan buku ini diberi judul "Tashil al-Mubtadi' fi Fahm al-Ilm al-Nafi' bi Ilm al-Nahw," di mana makna yang terkandung di dalamnya tidak terlalu berjarak dengan keinginan penulis. Sekilas membaca, penikmat buku ini yang dengan gampang menemukan benang merah antara judul dan isi akan berani menyematkan kecerdikan penulisnya.

Tema Nahwu sebetulnya bagian dari pokok pembahasan klasik dalam dunia pesantren. Tanpa mengurangi azas manfaat buku ini, orang-orang pesantren telah mengenal materi nahwu sejak awal. Di dunia pesantren dikenal kitab-kitab yang menguraikan tentang gramatika Arab semisal Al-Jurumiyah, Mutammimah, Al-Amrithi, atau kitab kelas atas seperti Alfiyah dan kitab-kitab syarh-nya. Namun, kehadiran buku ini tidak saja menambah perbendaharaan khzanah kitab kuning, tetapi menjadi salah satu pilihan para pemula memahami Ilmu Nahwu. Karena buku cetakan pertama ini menyuguhkan ringkasan materi Nahwu yang sangat mudah dimengerti.

Kemudahan-kemudahan yang terdapat dalam buku ini bisa dilihat dari uraian-uraian yang begitu singkat tetapi memuat definisi yang padat. Sehingga para pemula cepat menangkap isi dan pengertian-pengertian, bahkan bentuk penjelasan yang simpel ini mampu menghantarkan mereka untuk mengingat-ingat isi materi.

Kemudahan itu juga dapat ditilik dari skema-skema yang dibuat penulisnya. Melalui skema tersebut hafalan inti-inti materi dengan gampang dilakukan tanpa harus diangan-angan terlebih dahulu. Tentu cara begini sangat membantu para pemula lebih mengerti.

Di samping itu, contoh-contoh yang ada cukup melengkapi uraian-uraian. Apalagi tamsil yang dimaksud (محل الشهيد) diberi garis bawah, sehingga dengan enak para pemula menunjuk lafadz yang dituju. Seperti soal salah satu dari macam-macam isim yang menjadi fa'il yaitu isim mufrod dengan contoh: يتعلم محمد النحو [Hal. 36].

Buku ini kian bertambah bobot ilmiahnya setelah dicermati terdapat beberapa contoh-contoh yang diambil dari ayat al-Qur'an atau syair Arab. Hal ini misalnya bisa dibaca pada contoh:

قل إن كنتم الله فاتبعوني يحببكم الله [Hal. 138].

قد كنت احجو ابا عمرى اخا ثقة # حتى المت بنا يوما ملمات
[Hal. 87].

Penulis buku ini juga tidak memperkering penjelasan materi Nahwunya dengan mengambil landasan uraian dari dasar-dasar lain. Cara yang pasti memperkokoh validilitas dalam buku ini bisa diteropong, misalnya, dari penjelasan tentang lafadz-lafadz yang bisa menjadi maf'ul bih:

في ظاهر اشارة ومضمر # مصدر او موصول او مجرور
[Hal. 105].

Dari sisi pendidikan, contoh-contoh yang dituangkan dapat disisipkan manjadi bahan penanaman moralitas, motivasi, atau tema lain yang berkaitan dengan pendidikan karakter.

Ini bisa ditemukan misalnya dari contoh:

ما كسول طلبة العلم في المعهد
[Hal. 35].

فلا تعدد المولى شريكك في الغنى # ولكنما المولى شريكك في العدم
[Hal. 87].

اراد الأستاذ ان يقرا تلاميذه القرآن كل يوم
[Hal. 105].

Tambahan keterangan yang terselip di beberapa bab memperkuat penjelasan semakin terang bagi para pemula. Tambahan demikian diperlukan pada penjelasan yang kurang memadai untuk dimengerti, apalagi penjelasan-penjelasan yang diuraikan dinilai memuat materi agak sulit. Hal ini seperti contoh:

Keterangan tentang lafadz "ajma'u" (اجمع) [Hal. 98].

Keterangan tentang munada jumlah yang terletak setelah "ya" [Hal. 128].

Satu hal yang sering dijumpai oleh para pemula, dan termasuk juga santri lama, adalah persoalan yang berhubungan dengan jamak taksir. Dengan buku ini, persoalan jamak katsrah, qillah, qiyasi dan sima'i yang seringkali menjadi problem tersendiri sedikit bisa terjawab. Lebih-lebih lagi, penulis buku ini menguraikan jamak taksir dalam bentuk skema yang praktis [Hal. 165-172] diharapkan mampu menolong para pemula memahami lebih dalam lagi.

Hal yang menjadi sebuah daya tarik tersendiri ialah buku ini dilengkapi dengan "Rumus I'rab dan Makna-makna Jawa/Madura/Indonesia" [Hal. 174-179]. Uraian rumus-rumus diskemakan secara teratur, sehingga para pemula dapat menelisik poin per poin secara mudah, ketika membutuhkannya. Seperti sudah maklum, pemaknaan lafadz per lafadz (istilah dalam pesatren: ngesahi) merupakan bagian dari kegiatan memahami isi kitab kuning hampir di semua pesantren. Sementara ini banyak santri menggunakan simbol untuk menandai kedudukan lafadz dari posisi nahwu diinspirasi oleh kreativitas masing-masing, sehingga rasa bingung terkadang dialami oleh santri baru tatkala menghadapi kondisi demikian. Buku ini tampil menyuguhkan alternatif cara pemaknaan lafadz bagi santri yang belum kenal sama sekali terhadap seluk beluk memaknai teks dalam kitab kuning.

Buku ini nyaris tidak memiliki kekurangan, terutama bagi para pemula, dalam memahami ilmu alat membaca kitab kuning. Tetapi seandainya buku ini ditulis dengan huruf latin bahasa Indonesia, maka tentu tidak saja lingkungan pesantren yang menikmati sajian dalam buku ini, namun penuntut ilmu di luar pagar pesantren bisa mempelajari Ilmu Nahwu dari buku ini.

Kemudian pada beberapa halaman, terdapat tulisan menumpuk, baik garis skema maupun huruf-hurufnya. Tentu hal ini cuma kesalahan non teknis yang merupakan bagian dari pekerjaan percetakan, tetapi cetakan kedua dan seterusnya bisa dijadikan pertimbangan untuk diperbaiki karena beberapa kesalahan ini cukup mengganggu bagi para pemula.


Di luar itu semua, kehadiran buku ini lebih dari cukup untuk membuat keluarga besar pondok pesantren Raudlatul Ulum I Ganjaran Gondanglegi Malang merasa bangga dan bahagia. Sebab setidak-tidaknya buku ini diandaikan mampu melecut kalangan para santri untuk termotivasi melahirkan karya ilmiah yang terbukukan. Buku ini merupakan tonggak awal bagi kalangan pesantren mengikuti jejak sang penulis. Alhasil, buku ini diimpikan mampu menjadi pancingan di dalam lingkungan PPRU I dan pesantren seputar desa Ganjaran agar aktivitas menulis bagi para santri lebih bergairah lagi.[]

Monday, May 2, 2016

Eka Kurniawan


Oleh: Irham Thoriq

Suatu ketika Eka Kurniawan membaca sebuah koran lokal. Eka mendapati berita yang menurutnya menarik. Berita tersebut tentang tempat penitipan sepeda motor, di tempat itu banyak sepeda motor yang ditinggal pemiliknya bertahun-tahun.”Bahkan ada yang dua tahun, tidak tahu kemana itu pemiliknya,” kata Eka ketika mengisi kuliah tamu di Universitas Negeri Malang (UM), Kamis (21/4) lalu.

Eka melanjutkan, ketika membaca koran dia senang membaca berita kecil yang ada di halaman dalam. ”Kalau berita utama tentang Jokowi atau Ahok, mendengarkan obrolan tetangga juga bisa,” kata Eka disambut tawa para audiens.

Eka hendak menjelaskan kalau cerita memang bisa dilahirkan dari kejadian sehari-hari yang sederhana. Dari hal kecil itu, ketika diramu bisa menjadi cerita yang menarik. ”Berita seperti penitipan sepeda motor itu kan menimbulkan pertanyaan kemana orangnya, dari situ bisa kita dalami untuk menjadi cerita,” imbuhnya.

Lalu Eka bercerita tentang buku kumpulan cerita pendeknya berjudul Corat-Coret di Toilet. Eka memberi judul salah satu cerita pendeknya seperti itu karena terinspirasi dari banyaknya corat-coret di toilet umum. Dan yang membuatnya tertarik, corat-coret itu menyambung satu sama lain, padahal yang buat bukan satu orang.

Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., yang menjadi moderator bertanya, kenapa dia selalu mengambil cerita-cerita sederhana dengan latar Indonesia. Padahal, Eka beberapa kali pernah ke luar negeri, di antaranya ketika dia menjadi salah satu penulis yang dibawa pemerintah dalam Frankfurt Book Fair. Saat itu, Indonesia menjadi tamu kehormatan.

Eka menjawab kalau dia ingin mengenalkan Indonesia dan juga kehidupan orang-orangnya. ”Itu saja mungkin alasannya kenapa saya bercerita dengan latar Indonesia.”

****

Saya membaca karya-karya Eka Kurniawan baru-baru saja, meski dia sudah menerbitkan novel pertamanya berjudul Cantik Itu Luka pada 2002 silam. Dari karya-karyanya, saya menyimpulkan kalau cerita Eka memang bermula dari hal-hal sederhana. Novel O yang sedang saya baca misalnya, hanya bercerita tentang monyet yang menjadi tokoh utama.

Monyet itu bernama O. Dia harus bersusah payah meladeni kemauan sang pawang monyet untuk berakrobat di Jalanan Jakarta. Uang hasil jerih payah O itu lalu dibuat mabuk-mabukan oleh sang pawang.

Meski tokoh utamanya adalah Monyet, Novel O sebenarnya bukan melulu cerita tentang fabel. Membaca novel ini saya justru sadar kalau hewan kadang lebih manusiawi daripada manusia. O, meski selalu dipecuti oleh pawangnya, pada momen-momen tertentu O merasa kasihan dengan pawangnya. Semisal ketika sang pawang tiba-tiba diam, atau ketika teler habis menenggak minuman keras.

Pada salah satu gumamnya, O mengatakan kalau kehidupan Jakarta sangat keras. Orang hidup hanya untuk saling memakan satu sama lain. Dan itu menurut saya sangat manusia sekali. Jakarta memang keras, dan karena kekerasan itu orang terbiasa berlaku tidak manusiawi. Saling memakan dan menerkam satu sama lain.

Karena novel yang memukau itu, ketika tahu Eka Kurniawan menghadiri dua acara di Malang, saya usahakan untuk datang ke dua acara tersebut. Di sela-sela acara, saya membeli novelnya yang lain berjudul Seperti Rindu, Dendam Harus Dibayar Tuntas. Lagi-lagi, ceritanya sederhana. Pada pembuka novel ini, Eka menulis tentang seseorang yang tidak bisa ngaceng atau kemaluannya tidak bisa berdiri. ”Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati,” kata Iwan Angsa sekali waktu perihal Ajo Kawir. Begitu pembuka itu, yang memikat dan tentu saja memancing rasa penasaran.

***

Nama Eka Kurniawan belakang memang menjadi buah bibir. Pada Maret lalu, Eka mendapatkan penghargaan World Reader’s Award yang disponsori oleh Hong Kong Science and Technology Parks Corporation. Sebelumnya, dia masuk nominasi The Man Booker International Prize. Dalam nominasi ini, Eka bersaing dengan penulis kenamaan di dunia, salah satunya sastrawan asal Turki yang pernah meraih nobel sastra, Orhan Pamuk.

Karena inilah, ketika pada kuliah tamu tersebut saya diberi kesempatan bertanya, saya menyatakan kalau tahun ini adalah tahun Eka. Lantaran, tahun lalu nama penulis yang ramai dibicarakan adalah Laksmi Pamuntjak dan Leila S Chudori. Keduanya menjadi bintang dalam Frankfurt Book Fair 2015 karena buku keduanya membahas isu kesewenang-wenangan negara terhadap PKI (Partai Komunis Indonesia). Isu ini sedang hangat di Jerman, karena negara ini pernah punya sejarah kelam yang sama.

Waktu itu saya bertanya tentang proses Eka dalam melakukan riset sebelum menulis. Dia menjawab, dari kisah sederhana itu biasanya dia kembangkan sendiri. Dalam novel O misalnya, dia tertarik setelah anaknya suka pertunjukan topeng monyet. Dari situlah lantas dia kembangkan menjadi cerita.

Eka juga mengatakan kalau dalam menulis sebenarnya kita hanya mengembangkan apa yang pernah kita lihat, kita alami dan juga yang pernah kita baca. Karena inilah, untuk menghasilkan karya bagus orang harus banyak membaca, juga harus mengasah rasa keingin tahuan.

Karena inilah, Eka menyampaikan kalau dia lebih banyak membaca daripada menulis. Dia membaca setiap hari, tapi tidak menulis setiap hari.”Tidak mungkin saya menulis tiap hari, saya menulis kalau perlu menulis saja,” kata dia.”Ketika kuliah, saya sering bolos hanya untuk baca novel,” imbuhnya, kali ini disambut ger-geran para peserta.

Penulis tinggal di www.irhamthoriq.com

Sumber gambar:
Powered by Blogger.

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top