Monday, May 2, 2016

Eka Kurniawan


Oleh: Irham Thoriq

Suatu ketika Eka Kurniawan membaca sebuah koran lokal. Eka mendapati berita yang menurutnya menarik. Berita tersebut tentang tempat penitipan sepeda motor, di tempat itu banyak sepeda motor yang ditinggal pemiliknya bertahun-tahun.”Bahkan ada yang dua tahun, tidak tahu kemana itu pemiliknya,” kata Eka ketika mengisi kuliah tamu di Universitas Negeri Malang (UM), Kamis (21/4) lalu.

Eka melanjutkan, ketika membaca koran dia senang membaca berita kecil yang ada di halaman dalam. ”Kalau berita utama tentang Jokowi atau Ahok, mendengarkan obrolan tetangga juga bisa,” kata Eka disambut tawa para audiens.

Eka hendak menjelaskan kalau cerita memang bisa dilahirkan dari kejadian sehari-hari yang sederhana. Dari hal kecil itu, ketika diramu bisa menjadi cerita yang menarik. ”Berita seperti penitipan sepeda motor itu kan menimbulkan pertanyaan kemana orangnya, dari situ bisa kita dalami untuk menjadi cerita,” imbuhnya.

Lalu Eka bercerita tentang buku kumpulan cerita pendeknya berjudul Corat-Coret di Toilet. Eka memberi judul salah satu cerita pendeknya seperti itu karena terinspirasi dari banyaknya corat-coret di toilet umum. Dan yang membuatnya tertarik, corat-coret itu menyambung satu sama lain, padahal yang buat bukan satu orang.

Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., yang menjadi moderator bertanya, kenapa dia selalu mengambil cerita-cerita sederhana dengan latar Indonesia. Padahal, Eka beberapa kali pernah ke luar negeri, di antaranya ketika dia menjadi salah satu penulis yang dibawa pemerintah dalam Frankfurt Book Fair. Saat itu, Indonesia menjadi tamu kehormatan.

Eka menjawab kalau dia ingin mengenalkan Indonesia dan juga kehidupan orang-orangnya. ”Itu saja mungkin alasannya kenapa saya bercerita dengan latar Indonesia.”

****

Saya membaca karya-karya Eka Kurniawan baru-baru saja, meski dia sudah menerbitkan novel pertamanya berjudul Cantik Itu Luka pada 2002 silam. Dari karya-karyanya, saya menyimpulkan kalau cerita Eka memang bermula dari hal-hal sederhana. Novel O yang sedang saya baca misalnya, hanya bercerita tentang monyet yang menjadi tokoh utama.

Monyet itu bernama O. Dia harus bersusah payah meladeni kemauan sang pawang monyet untuk berakrobat di Jalanan Jakarta. Uang hasil jerih payah O itu lalu dibuat mabuk-mabukan oleh sang pawang.

Meski tokoh utamanya adalah Monyet, Novel O sebenarnya bukan melulu cerita tentang fabel. Membaca novel ini saya justru sadar kalau hewan kadang lebih manusiawi daripada manusia. O, meski selalu dipecuti oleh pawangnya, pada momen-momen tertentu O merasa kasihan dengan pawangnya. Semisal ketika sang pawang tiba-tiba diam, atau ketika teler habis menenggak minuman keras.

Pada salah satu gumamnya, O mengatakan kalau kehidupan Jakarta sangat keras. Orang hidup hanya untuk saling memakan satu sama lain. Dan itu menurut saya sangat manusia sekali. Jakarta memang keras, dan karena kekerasan itu orang terbiasa berlaku tidak manusiawi. Saling memakan dan menerkam satu sama lain.

Karena novel yang memukau itu, ketika tahu Eka Kurniawan menghadiri dua acara di Malang, saya usahakan untuk datang ke dua acara tersebut. Di sela-sela acara, saya membeli novelnya yang lain berjudul Seperti Rindu, Dendam Harus Dibayar Tuntas. Lagi-lagi, ceritanya sederhana. Pada pembuka novel ini, Eka menulis tentang seseorang yang tidak bisa ngaceng atau kemaluannya tidak bisa berdiri. ”Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati,” kata Iwan Angsa sekali waktu perihal Ajo Kawir. Begitu pembuka itu, yang memikat dan tentu saja memancing rasa penasaran.

***

Nama Eka Kurniawan belakang memang menjadi buah bibir. Pada Maret lalu, Eka mendapatkan penghargaan World Reader’s Award yang disponsori oleh Hong Kong Science and Technology Parks Corporation. Sebelumnya, dia masuk nominasi The Man Booker International Prize. Dalam nominasi ini, Eka bersaing dengan penulis kenamaan di dunia, salah satunya sastrawan asal Turki yang pernah meraih nobel sastra, Orhan Pamuk.

Karena inilah, ketika pada kuliah tamu tersebut saya diberi kesempatan bertanya, saya menyatakan kalau tahun ini adalah tahun Eka. Lantaran, tahun lalu nama penulis yang ramai dibicarakan adalah Laksmi Pamuntjak dan Leila S Chudori. Keduanya menjadi bintang dalam Frankfurt Book Fair 2015 karena buku keduanya membahas isu kesewenang-wenangan negara terhadap PKI (Partai Komunis Indonesia). Isu ini sedang hangat di Jerman, karena negara ini pernah punya sejarah kelam yang sama.

Waktu itu saya bertanya tentang proses Eka dalam melakukan riset sebelum menulis. Dia menjawab, dari kisah sederhana itu biasanya dia kembangkan sendiri. Dalam novel O misalnya, dia tertarik setelah anaknya suka pertunjukan topeng monyet. Dari situlah lantas dia kembangkan menjadi cerita.

Eka juga mengatakan kalau dalam menulis sebenarnya kita hanya mengembangkan apa yang pernah kita lihat, kita alami dan juga yang pernah kita baca. Karena inilah, untuk menghasilkan karya bagus orang harus banyak membaca, juga harus mengasah rasa keingin tahuan.

Karena inilah, Eka menyampaikan kalau dia lebih banyak membaca daripada menulis. Dia membaca setiap hari, tapi tidak menulis setiap hari.”Tidak mungkin saya menulis tiap hari, saya menulis kalau perlu menulis saja,” kata dia.”Ketika kuliah, saya sering bolos hanya untuk baca novel,” imbuhnya, kali ini disambut ger-geran para peserta.

Penulis tinggal di www.irhamthoriq.com

Sumber gambar:

Saturday, April 30, 2016

Aku Akan Pergi


Oleh: Fawaid Azman

Sejak pagi tadi orang-orang sibuk mempersiapkan perayaan resepsi pernikahan antara Mas Panji Darman dan Mbak Puji Lestari yang akan dilaksanakan malam nanti. Aku tergolong orang yang diberikan satu lembar berisikan gambar beserta nama mereka dibawahnya, dan tulisan  “Mohon Doa & Restu” adalah paling besar berwarna hitam berada paling atas, pertanda paling penting. Dan, namaku terlihat jelas di bagian kertas paling bawah dengan kolom putih yang disediakan untuk nama orang yang diharapkan hadir dalam acara itu. Memberikan kesimpulan: kehadiranku mereka harapkan! Ya, kehadiran seorang yang tidak pernah percaya pernikahan itu akan terjadi. Bahkan: Menentang!

Aku yang sejak tadi pagi juga tidak beranjak dari tempat tidurku, tempat istimewa bagi ratapan tangis yang tak dapat kuhindar, masih saja melihat selembar undangan itu yang ada di genggaman tanganku. Genggaman erat dengan nafas tersengat-sengat yang tanpa kusadari telah membuat lembaran itu antara empat sudutnya berkumpul menjadi satu sampai menjadi surat undangan yang tak berguna lagi. Hanya bisa dijadikan pengisi tong sampah depan kamarku. Bagiku, juga bagi tong sampah, mungkin juga tidak ada artinya!Dan membuatku mengambil korek didalam saku bajuku diikuti oleh bungkus rokok yang tak berisi penuh. Kuambil dan kubakar satu batang dibagian ujungnya. Seketika, udara yang kata para medis sangat berbahaya bagi kesehatan paru-paru dan jantung itu kuhisap. Hisapan pertama mengepulkan asap tak seberapa. Kulanjutkan dengan hisapan kedua. Lebih banyak dari yang pertama. Kulihat kembali kertas yang sedari tadi sudah tak berbentuk dengan layak. Tanganku menghampiri. Mencoba untuk mengembalikannya dengan bentuk semula. Berhasil! Meski tak nampak sempurna seperti awal kuterima.

Sepasang mataku kutitik beratkan kepada gambar kedua mempelai. Rasanya ada gendang bermain dalam jantungku. Anganku bertindak nakal dan wajah Mas Panji Darman berubah menjadi cerminan kaca ketika aku berada di depannya. Senyum kebahagiaan begitu tampak,perpaduan antara madura dan jawa, bermata orang india yang kehitam-hitamannya terlalu ke atas. Diam-diam tangan kirikuku bergerak mencari korek yang kuletakkan diatas bungkus rokok tadi. Kuhidupkan pelan-pelan. Api membara. Kudekatkan kertas ditangan kananku kepada api itu. Semakin dekat, semakin membuat gambar Mbak Puji Lestari seolah memancarkan wajah suram, kecantikannya hilang, seolah melarang perbuatanku, berkata dengan lembutnya dan hati-hati.

“Tidakkah kau ingat dengan perkataanmu sendiri, “Hidup ini bukanlah tentang memiliki yang kau cintai. Tapi mencintai yang kau miliki” Kau tega mengubah gambarku menjadi debu? Kau sedih? Asal kau tahu, Musa,aku tidak ingin ada kesedihan. Sudahlah, hapus air matamu itu!”. Diam-diam aku mendengarkan, tidak mengiakan juga tidak membantah. Sedikit kuindahkan larangan itu dengan memadamkan api. Akibat dari kata-kata lembut dan hanya terdengar olehku yang sekaligus memberikanku kehidupan agarmenghadiri pernikahannya malam nanti. Pernikahan yang tak kuingunkan! Tapi, sudahlah. Akan kuberikan restu kepada janur kuning itu. Meskiberada di pundak penderitaan seorang yang oleh orang-orang biasa dipanggil Musa. Namaku sendiri ..... Sementara ini tak perlu kusebutkan. Bukan karena gila misteri. Telah aku timbang: belum perlu benar tampilkan diri dihadapan mata orang lain.

Aku yang menerima kertas tanda diundangdan berencana tak akan menampakkan hidung kepada siapapun yang ikut serta dalam resepsi itu, berencana lain untuk membeli pakaian baru ke toko baju terdekat dan tidak menghindari malam bersejarah Mbak Puji Lestari bersama Mas Panji Darman. Pakaian batik dengan setelan celana kain berwarna silver kuanggap pantas dijadikan seragam untuk menghadiri undangan itu dan kutukar dengan dua lembar uang berwarna merah, berlambang Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama.

****

Malam beserta kegelepannya sudah tiba sejak dua jam yang lalu. Kamar mandi sudah aku pergunakan sebelum itu. Hari besar orang yang pada sebelumnya mengajariku Bahasa Jawa: Bahasa yang digunakan kerajaan Maja Pahit, dan orang yang sudah membuatku menjadi hanya bertepuk sebelah tangan itu baru saja dimulai. Para tamu kabarnya juga sudah berdatangan.Aku yang tetap termenung antara datang atau tidak masih sibuk dengan urusan diriku sendiri: menghabiskan tembakau yang aku beli dan secangkir kopi buatanku sendiri. Kulihat baju dan celanaku yang tergantung dilemari. Kalau saja baju dan celana itu bermulut, mungkin saja tak segan-segan berujar: Kasihan sekali kau, Musa. Orang yang kau cintai, kau sebut-sebut namanya saat kedua tanganmu terangkat, sekarang ini, malam ini, kau hanya bisa menangisinya. Tak lebih! Sungguh beruntung orang yang sekarang sudah ada di dekapan wanita itu. Sedangkan kau, Musa, hanya bermimpi. Lalu, bagaimana mungkin aku sudi menutupi tubuh kekarmu, sedangkan kau tak segera bangun dari tidurmu. Sudahlah, bangun! Pakailah aku dengan keegoisanmu! Jika tidak, maka jangan!
Baiklah. Aku akan pergi.

Membutuhkan waktu dua kali satu jam dengan mengendarai sepeda motor melewati jalan licin berjuranguntuk sampai ke tujuan. Juga tikungan tajam yang berkali-kali membuatku bertanya-tanya:Mengapa bekas jalannya ular raksasa itu orang-orang menjadikannya jalan raya? Jalan yang dulunya sering kulewatitanpa tolah-toleh. Fokus. Lengah sedikit saja akan berakibattanahberbatu itu menghantam tubuh. Braakk! Nyawa terancam hilang. Ah, alangkahtak terhitung korban kecelakaan.



Dan, sekali lagi: Baiklah. Aku akan pergi. Itu saja![]

Sumber gambar:

Saturday, April 23, 2016

Menulis Dengan Sederhana


Oleh: Irham Thoriq

Nulis Itu ya Nulis Saja
~Pramoedya Ananta Toer

Pernyataan Pram ini menurut saya ada benarnya, tapi juga ada kurang tepatnya. Untuk bisa menulis kita memang hanya butuh kemauan untuk terus menulis. Kurang tepatnya jika kita hanya menulis tanpa dibarengi dengan kecakapan membaca.

Ya, selain terus menerus menulis, yang dibutuhkan penulis hanyalah terus menerus membaca. Meminjam istilah Zen RS, penulis yang baik selalu lebih banyak membacanya daripada menulisnya. Dengan banyak membaca buku kita bisa berimajinasi, memperkaya diksi, memperbanyak refrensi dan yang paling penting kita tidak hanya bergumam dalam tulisan kita.

Banyak membaca diperlukan untuk aneka macam tulisan seperti menulis esai, opini, fiksi, dan juga menulis berita. Kenapa menulis berita butuh membaca? Karena tugas sejatinya wartawan adalah bercerita kepada para pembacanya. Cerita yang baik hanya bisa didapat jika kita menuliskannya dengan memikat.

Fakta menarik akan sangat membosankan jika ditulis dengan cara serampangan. Oleh karenanya, selain harus cakap mencari data, wartawan yang baik selalu akan meningkatkan kualitas tulisannya.
Lalu, bagaimana menulis yang baik? Menurut saya (dalam hal ini Anda bisa beda pendapat), menulis yang baik adalah menulis dengan sederhana. Hanya dengan menulis sederhana para pembaca bisa mudah memahami gagasan apa yang ingin kita sampaikan.

Selain itu, menulis sederhana berarti kita tidak berlebihan dalam menggunakan kata-kata. Penyair kenamaan Sitor Situmorang pernah mengatakan kalau kata-kata bagaikan peluru, kita harus hemat menggunakannya. Dengan kehidupan yang berjalan begitu cepat, mungkin orang tidak punya waktu banyak untuk membaca tulisan, apalagi tulisan yang boros kata dan berbelit-belit.

Untuk bisa hemat kata-kata, kita harus menjadi editor dalam tulisan kita sendiri. Caranya dengan membaca berulang-ulang tulisan kita lalu membuang kata-kata yang dianggap tidak perlu. Untuk mengetahui kata yang tak perlu prinsipnya sederhana, jika kata itu dibuang tidak mengubah makna, maka kata-kata itu sudah layak dibuang.

Menulis Berita 
Sebagaimana saya singgung di atas, penulis berita atau wartawan itu adalah pencerita bagi pembacanya. Tugas pencerita adalah tidak membuat bosan orang yang membaca dan yang mendengarkan cerita. Jika orang sudah berhenti membaca pada paragraf pertama, bisa ditebak kalau berita yang ditulis membosankan.

Karena hal inilah dalam berita ada yang disebut lead. Umumnya lead berada pada paragraf pertama. Arti dari lead adalah kail. Jika kita memancing kita membutuhkan kail agar ikan tertarik pada kail kita, memakannya dan pada akhirnya terjebak pada pancing kita.

Begitu juga dengan menulis, pada paragraf pertama dalam berita harus semenarik mungkin. Jika kita menulis suatu acara atau peristiwa, pilihlah hal paling menarik dari berbagai fakta yang ada dan tulis pada paragraf pertama sehingga pembaca ingin terus membaca berita hingga tuntas.

Jenis Berita
Secara umum ada dua jenis berita yang biasa digunakan media massa. Pertama adalah berita keras atau hardnews dan yang kedua adalah feature atau berita yang berkisah. Kapan kita menggunakan berita jenis hardnews dan feature? jawabannya sesuai dengan materi berita cocoknya dibuat hardnews atau feature.

Pada media online dan media harian kita lebih banyak menemukan berita jenis hardnews. Kenapa? Karena berita jenis ini simpel dan mendahulukan yang penting di awal tulisan. Rumusnya sangat klasik yakni rumus piramida terbalik, yakni menempatkan yang penting di atas, semakin kebawah semakin tidak penting.

Rumus klasik lainnya dari hardnews adalah berita harus menjawab enam pertanyaan, yakni 5 W dan 1 H. Atau dalam bahasa Indonesianya enam yang harus dijawab itu adalah apa, siapa, di mana, kapan, kenapa dan bagaimana. Jika sudah bisa menjawab enam pertanyaan tersebut, maka berita sudah bisa dikatakan hardnews. Oleh karenanya, pada media online kita kerap mendapati berita hanya tiga larik yang sudah menjawab enam pertanyaan tersebut.

Pada berita jenis ini, lead berada pada paragraf pertama. Jika kita mendapati fakta kalau seorang kecelakaan dan ternyata itu adalah anak bupati, maka yang dijadikan lead dan juga judul berita adalah anak bupati yang kecelakaan. Kronologi tentang kecelakaan bisa ditaruh di bagian bawah.

Sedangkan jenis berita kedua adalah feature atau berita yang berkisah. Biasanya feature berkisah tetang kehidupan seseorang. Feature yang menarik tidak akan jauh dari dua rumus ini, yakni orang yang from hero to zero atau from zero to hero. Orang yang awalnya miskin sekali lalu sukses menjadi dokter atau presiden, kisahnya selalu menarik.

Atau seorang siswa jawara olimpiade tingkat nasional, setelah dicek ternyata dia adalah anak sopir angkot. Sebaiknya, berita jenis ini yang ditonjolkan anak sopir angkot dan juga prestasinya. Tidak melulu soal prestasinya.

Hal menarik lain soal kenestapaan seseorang yang sebelumnya menjadi hero. Seperti contoh ada Mantan Bupati yang ketika pensiun memilih berkebun. Ini bisa jadi feature menarik meski semisal Mantan Bupati tersebut hanya hobi berkebun, bukan karena tidak punya uang untuk beli sayur-sayuran di Pasar.

Pada berita jenis ini yang paling penting adalah penggambaran. Karena berita dalam jenis ini adalah ceritanya, maka biasanya hal penting tidak ada di depan melainkan ada di tengah atau di akhir berita. Pada awal berita umumnya berupa deskripsi terhadap orang atau pristiwa yang kita tulis dalam bentuk feature-nya.

Oleh karenanya, dalam feature ada istilahnya super lead. Selain untuk memancing pembacanya, super lead ini juga berisi tentang inti dalam tulisan tersebut. Sehingga, orang bisa tertarik membaca diskripsi hingga inti dari berita.

Untuk mempermudah menggambarkan, berikut saya tuliskan beberapa contoh deskripsi dalam features yang ada dalam buku berjudul "Seandainya Saya Wartawan Tempo". Pada contoh pertama ini bermula dari seorang wartawan yang merasa ingin tahu tentang kebiasaan pengamen yang banyak kita temui di jalanan.

Mungkin orang biasa menganggap biasa pengamen tersebut dan kadang kita tidak memperdulikannya. Seorang wartawan yang jeli bisa membuat feature menarik dari berbagai kisah mereka. Contohnya yang ada dalam buku tersebut seperti ini:
Nama saya Buyung. Tak seorangpun pernah menanyakan asal-usul saya.
Cita-cita saya hanya sanya satu menjadi penyanyi, enggak usah terkenal, tapi didengar. Saya tak pernah sekolah, saya tak bisa membaca dan menulis, tapi kalau ngitung-ngitung, bisa. Ayah saya kuli bangunan di Medan. Empat tahun lalu saya lari ke Jakarta.
Dari deskripsi memikat itu, bisa ditulis artikel panjang. Pada akhirnya cerita ini dimuat di rubrik selingan di Majalah Tempo edisi 6 Mei 1989 dengan judul: Bocah-Bocah Turun ke Jalan.

Ada lagi deskripsi yang bunyinya seperti ini:
Laksana tarian perli langit, asap membumbung di atas Hotel Bali Beach yang membara terpanggang api (Tempo, 30 Januari 1993, Akhir Legenda dan Sejumlah Misteri Bali).
Bola mata juani berkaca-kaca ketika mengintip kemenakannya, Soleka, yang sedang mandi sore itu. Dari balik pagar sumur yang jarang, ia melihat kain basahan Soleka sering tersibak (Tempo, 2 Januari 1993, Kasmaran Laut di Sarang Elang)
Dari berbagai contoh itu, kita bisa menyimpulkan kalau tulisan ini enak dibaca karena tidak boros menggunakan kata-kata. Kalimat disusun secara ketat, sehingga pembaca tidak bosan membacanya.

Hitam-Putih Media
Saya tidak ingin berpanjang-panjang membahas soal ini. Karena mungkin semua sudah tahu kalau sangat jarang kita mendapati media yang independen. Terlebih, pasca pemilu 2014 yang dua stasiun televisi seperti berlomba-lomba memihak dua calon presiden berbeda.

Tapi, saya yang bekerja di media menganggap kalau masih ada media yang lurus. Ya, meskipun melenceng tidak terlalu parah. Lalu, kenapa media sulit independen seratus persen? Menurut saya jawabannya karena tiga hal, yakni karena bisnis, politik dan juga faktor subjektivitas media.

Saya ingin membahas faktor subjektifitas media. Menurut saya karena media merupakan produk kreatif manusia, maka bisa saja media memihak berdasarkan prinsip dan visi media tersebut. Media toleran misalnya, akan sulit memuat pernyataan-pernyataan tokoh ekstremis yang itu bisa menghasut orang ikut pada ajaran mereka.

Belum lagi ada subjektivitas wartawan yang menganggap berita A penting serta menarik dan menganggap berita B tidak penting. Karena ada subjektivitas itu selalu akan ada keberpihakan di media. Atau mungkin tidak hanya di media, dalam hidup kita saja sebenarnya kita sudah memihak ketika memutuskan beragama, mempunyai istri yang satu agama, sampai ketika ikut organisasi tertentu. Hal tersebut menurut saya pilihan yang berpihak, yang juga tidak bisa dihindari oleh wartawan dan pekerja media.

Tapi, dari keberpihakan itu menurut saya kita punya hati nurani yang layak kita bela. Hati nurani bagaikan wasit kita mau berpihak ke mana sebaiknya mengikuti kata hati nutani kita.

Tulisan ini disampaikan dalam diskusi bersama Gubuk Tulis, 13 April 2016.

Penulis tinggal di www.irhamthoriq.com
[sumber gambar: di sini]

Tuesday, April 19, 2016

Negeri Para Penyalak


Oleh: Irham Thoriq

Sekali waktu kita perlu belajar kepada anjing yang tidak suka menyalak. Dan bercermin kepada anjing yang sabar.

Ironi itu datang dari seorang siswi SMA di Medan. Mula-mula dia memarahi Polwan Ipda Perida yang menghentikan mobilnya saat dia merayakan selesainya Ujian Nasional (UN) Rabu, 6 April lalu. Dia marah-marah dan mengancam melaporkan Ipda Perida kepada Inspektur Jendral (Pol) Irman Depari yang dia sebut sebagai ayahnya.

Tidak lama berselang, Irman membantah kalau siswi tersebut adalah anaknya. Irman tidak mempunyai anak perempuan. Dia hanya mengakui kalau siswi tersebut adalah keponakannya.

Semenjak itulah, penduduk dunia maya ngamuk. Di banyak media sosial, siswi ini di bully habis-habisan. Bahkan, bully tersebut sempat menjadi trandingtopic di twitter. Media online, koran dan juga televisi banyak memberitakan kejadian itu. Sebagian besar beritanya menyudutkan siswi tersebut.

Setelah hujatan datang dari berbagai penjuru mata angin, ayah kandung siswi tersebut yakni Makmur Depari Sembiring jatuh sakit lalu meninggal dunia tiga jam setelah dibawa ke rumah sakit. Siswi yang menjadi korban bully shock. Dia juga harus kehilangan ayah kandungnya yang bukan jenderal.

Kisah siswi ini mungkin hanya sedikit kisah dari bully yang sering terjadi di media sosial. Kau tahu, adanya media sosial membuat semua orang seolah mempunyai panggung untuk melakukan apa saja dan menulis apa saja.

Orang yang sehari-hari kita kenal penyabar, bisa terlihat garang di media sosial. Pendiam yang hanya bicara seperlunya di dunia nyata, bisa menyalak sesuka hati di dunia virtual. Sebaliknya, orang yang dungu kadang terlihat pandai, dan orang yang pandai sekali waktu bisa terlihat bebal.

Dari aneka macam kebiasaan di media sosial itu, yang paling saya khawatirkan adalah kebiasaan menyalak para pengguna media sosial. Orang dengan mudah menyalak sesuka hati mereka, meski informasi yang mereka terima belum tentu benar.

Para penyalak itu juga dengan mudah menghujat pada suatu kasus, lalu menghujat di kasus lain dalam waktu berdekatan. Mereka menebar kebencian sama sekali tanpa beban, berpindah-pindah tanpa menghiraukan dampak dari komentar yang mereka tulis.

Meminjam bahasa hewan, mereka menggonggong di banyak tempat tanpa peduli gonggongan mereka ada yang memperhatikan. Atau, mereka menyalak lalu beberapa menit kemudian lupa terhadap yang mereka tulis. Sedangkan korban dari gonggongan tersebut harus membaca berulang-ulang dan merasa sakit hati, sedangkan yang berkomentar sudah lupa dia habis menulis apa.

Para penyalak itu biasanya disebut haters. Umumnya, mereka tidak mempertimbangkan sisi manusiawi sebelum berkomentar. Dalam kasus siswi di Medan misalnya, mereka tidak mempertimbangkan labil-nya psikis siswi yang masih remaja. Mereka tidak berpikir positif semisal, siswi itu mungkin keceplosan atau sedang euforia setelah Ujian Nasional selesai.

Perihal menjadi korban haters, saya pernah menjadi korban yang membuat kepala pening ketika membaca komentar-komentar para haters. Ketika itu, dua wartawan tempat saya bekerja menjadi korban perampasan oleh anggota TNI AU dari Lanud Abdul Rachman Shaleh yang bermarkas di Pakis, Kabupaten Malang. Kamera dan kartu identitas wartawan tersebut dirampas dengan alasan mereka mengambil foto dengan drone saat pesawat TNI AU jatuh di Blimbing, Kota Malang.

Berita tentang perampasan itu lantas di upload oleh seseorang di grup salah satu komunitas di Malang. Entah kenapa, anggota grup ini lantas menyalahkan wartawan yang menjadi korban perampasan. Mereka membela TNI AU yang menurut mereka sedang berduka.

Keesokan harinya saya mengupload berita lanjutan tentang wartawan yang menjadi korban perampasan. Kalau tidak salah berita itu tentang Komandan Lanud Abdul Rachman Shaleh yang bersedia meminta maaf kepada dua wartawan itu. Lagi-lagi, anggota grup melakukan bully habis-habisan dan menganggap permintaan maaf komandan tersebut sebagai tindakan kesatria.

Beberapa hari berselang, wartawan dari media lain mengupload tentang rilis Indonesia Corruption Watch (ICW) yang menyebut banyak oknum TNI yang menjadi beking perusahaan multinasional. Lagi-lagi, hal tersebut menjadi korban bully kebanyakan anggota grup. Bahkan, seorang anggota grup berkomentar kalau wajar TNI menjadi beking perusahaan, karena hanya mereka yang bisa. Menurut dia, membekingi perusahaan tidak bisa dilakukan oleh orang sipil. Tentu saja, menurut saya komentar tersebut menyalahi akal sehat, karena yang namanya pembekingan tentu tindakan terlarang.

Kembali pada kasus siswi di Medan, yang membuat saya miris dalam kasus ini karena banyak media mainstream khususnya media online yang larut pada kelakuan para haters. Pada kasus tersebut, saya beberapa kali menemukan media online yang memuat bully para nitizen. Jadilah, media online itu ikut merayakan bully yang dilakukan kepada siswi tersebut.

Media juga lupa terhadap Kode Etik Jurnalistik. Pada pasal lima kode etik dijelaskan kalau wartawan tidak boleh menyebut dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Pada poin selanjutnya dijelaskan kalau identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak. Selanjutnya, yang disebut anak-anak adalah seorang yang berusia 16 tahun dan belum menikah. Karena alasan inilah saya tidak menyebut nama siswi itu dalam tulisan ini.

Saya lantas iseng-iseng mencari berita di dua media online. Di satu media online, saya menemukan 29 berita soal kasus ini. Semua berita menulis nama lengkap siswi tersebut, dan sebagian besar ada fotonya yang tidak diblur.

Pada media online satu lagi saya menemukan 20 berita. Semuanya disebut nama lengkap dan ada foto siswi tersebut. Dari sekian foto, hanya empat foto yang di blur. Selebihnya, foto-foto siswi tersebut dipajang apa adanya.

Mungkin media bisa membela diri karena kemungkinan siswi tersebut berumur di atas 16 tahun. Sehingga tidak jadi soal jika menyebut nama lengkap dan menampilkan foto tanpa di blur. Pembelaan tersebut tentu saja bisa dilakukan, meski dalam banyak berita saya tak menemukan umur siswi tersebut dicantumkan sehingga tidak diketahui berapa umur siswi itu.

Selain itu, jika mengacu pasal satu Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 ahun 2002 tentang Perlindungan anak, pada pasal tersebut dijelaskan kalau yang disebut anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun.

Pada kasus ini, saya berdiskusi singkat dengan seorang wartawa senior. Dia menjelasan kalau Undang-Undang Perkawinan dan Undang-Undang Perlindungan Anak bisa dijadikan acuan untuk kita memberi inisial kepada anak-anak yang bermasalah dengan hukum. Soal ini saya setuju, toh etika dan menjaga masa depan anak jauh lebih penting daripada sebuah klik di media online.

Setelah panjang lebar, lalu apa hubungannya dengan manusia yang harus belajar kepada anjing yang tidak suka menyalak. Kalimat itu saya jadikan pengantar karena baru-baru ini saya sedang membaca novel terbaru karya Eka Kurniawan berjudul O.

Novel ini bercerita tetang tokoh utama O yang merupakan monyet. Selain monyet, ada juga tokoh bernama kirik yang tak lain adalah anjing kecil. O dan Kirik harus bersabar melayani sikap semena-mena manusia. Keduanya juga tidak sering menyalak menghadapi kelakuan manusia yang bebal. Pada sikap itu, kita sebenarnya bisa bercermin.[]


Penulis adalah wartawan, tinggal di www.irhamthoriq.com

sumber gambar:
Old Mary full of grease
by Carlos Gutierrez
Powered by Blogger.

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top